Mengharukan Gereja Katolik Tampung 1500 Pengungsi Muslim di Afrika Tengah

466
Sekitar 88.000 orang mengungsi pada bulan Mei 2017 saja [Sorin Furcoi / Al Jazeera]

Sedikitnya 1.500 orang, mayoritas warga sipil Muslim, yang saat ini ditampung di sebuah gereja Katolik yang terletak di tenggara Republik Afrika Tengah, “kondisi mereka semakin memprihatinkan dan semakin lama semakin putus asa,” kata seorang Pastor Katolik kepada Al Jazeera.

Orang-orang yang kehilangan tempat tinggal tersebut berlindung di Katedral di kota Bangassou setelah melarikan diri dari kekerasan mematikan pada pertengahan bulan Mei.

“Situasinya tidak cukup aman untuk pergi, jadi mereka tidak bisa pindah dari sini,” kata Pastor Alain Blaise Bissialo, pastor di gereja tersebut.

“Ada orang-orang yang berkeliling kota dengan membawa senjata.”

Krisis di Bangassou dimulai antara 13-17 Mei ketika Anti-Balaka, sebuah milisi yang main hakim sendiri yang terdiri dari mayoritas orang Kristen, meluncurkan serangkaian serangan terhadap umat Islam di Tokoyo, sebuah distrik Muslim di Bangassou.

Ribuan orang berbondong-bondong ke masjid terdekat untuk mencari perlindungan.

Namun, masjid tersebut kemudian diserang juga, yang berpuncak pada pembunuhan imam setempat.

Dalam upaya menyelamatkan warga sipil di masjid tersebut, Uskup Katolik mengirim truk ke Tokoyo untuk mengangkut sebanyak mungkin warga sipil ke gereja untuk keselamatan mereka.

“Pada hitungan terakhir, 150 orang tewas dalam kekerasan sejak pertengahan Mei, namun jumlah ini bisa meningkat,” kata Antoinne Mbao Bogo, Presiden Palang Merah setempat, kepada Al Jazeera pada hari Jumat.

Alidou Djibril, seorang pengungsi di gereja tersebut, mengatakan bahwa ada kekurangan makanan dan pakaian.

“Sulit bagi kita, kita harus tetap di tempat yang sama, kita tidak bisa bergerak, dan kita berpuasa,” katanya.

Djibril mengatakan bahwa mereka hanya menerima makanan satu minggu setelah tiba di gereja tersebut, menambahkan bahwa Anti-Balaka tidak mengizinkan pedagang membawa makanan kepada mereka.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagian besar dari 35.000 penduduk Bangassou melarikan diri, beberapa ke tempat-tempat pengungsian dan sebagian menyeberang ke Republik Demokratik Kongo.

(aljazeera/suaraislam)