Memahami Prabowo dan Penumpang Gelap

Thomas Harming Suwarta, Jurnalis Media Indonesia (Dok Pribadi)

PRABOWO Subianto dan Presiden terpilih Joko Widodo sudah bertemu Sabtu (13/7). Pertemuan tersebut bukan saja disanjung tetapi juga membuat kubu Prabowo dan Partai Gerindra banjir perundungan.

Yang menyanjung adalah kelompok yang menyepakati narasi persatuan dan keguyuban bangsa. Tak sedikit yang menyanjung Ketua Umum Partai Gerindra tersebut. Dia disebut negarawan, patriot sejati, tokoh besar bangsa yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas segala kepentingan lainnya, bahkan meninggalkan kehormatan pribadinya.

Seperti kata Prabowo, “Seluruh hidup saya telah saya persembahkan kepada kepentingan bangsa dan Republik Indonesia. Saya tidak akan pernah tawar-menawar terhadap cita-cita dan nilai yang saya pegang, yaitu Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur,” tulisnya melalui akun Instagram pribadi @prabowo, Minggu (14/7).

Sebaliknya, yang mengaku kecewa datang dari kelompok pendukung Prabowo yang tidak ingin adanya pertemuan. Sederhana logika mereka; karena Prabowo bertemu dan mengakui kemenangan, artinya Prabowo sepakat dengan kecurangan. Itu yang tampak di permukaan.

Perundungan Prabowo, khususnya di media sosial (medsos). Bahkan sampai membuat tagar #pengkhianat menjadi topik yang tren di Twitter. Akun Twitter Partai Gerindra juga mengalami hal serupa.

Itulah yang dihadapi Prabowo saat ini. Ia disanjung tapi juga dirundung dan dicaci.

Di tengah dua kubu tersebut, muncul juga sejumlah pihak yang berusaha membangun narasi yang membangun Prabowo atau sosok yang akrab disapa ’08’ tersebut. Seperti mantan juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak. “Dia menahan perih tuduhan demi kebaikan banyak orang, yang butuh dibantu. Hal yg sama, bertahun-tahun dia alami demi menjaga martabat negara yg tanah dan airnya ia cintai. Anda Ksatria Pak, meski banyak yg tak paham. Aku berusaha memahami keperihan pemimpin yang harus bertindak tidak selalu tentang dirinya dan tentang kalian yang kuat, tapi juga untuk mereka yg sangat rentan,” cuit Dahnil melalui akun Twitter @dahnilanzar.

Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon tampaknya sepakat dengan sikap Sang Ketua Umum. Kata Fadli, itu membuktikan sosok Prabowo sebagai negarawan sejati.

Dalam politik, tidak semua hal bisa dijelaskan secara gamblang di muka publik. Dunia depan dan belakang panggung toh tak selalu sama. Publik umum hanya bisa menangkap yang tampak kasat mata dan menangkap kata-kata yang terang benderang bagi pendengaran tetapi mungkin tidak pernah utuh. Publik hanya menangkap narasi-narasi kecil yang tidak mungkin menjadi titik pijak membangun sebuah narasi besar.

Lantas, adilkah bila menilai Prabowo hanya dari momen pertemuan ini saja? Tak elok pertemuan tersebut ditafsir terlampau jauh. Glorifikasipun sebatas takaran yang wajar-wajar saja. Sebaliknya kecewa untuk yang tak nyaman pada ukuran yang juga wajar tanpa perlu sumpah serapah.

Cukup saja menangkapnya sebagai pertemuan yang memang wajar antara dua tokoh bangsa, dua tokoh politik, dan anak kandung demokrasi yang baru berkontestasi. Bukankah asas dari berpolitik adalah komunikasi, bukan justru menyumbat komunikasi?

Pertemuan antara Jokowi dan Prabowo bukan soal siapa kalah dan siapa menang tapi lebih menyangkut urusan penting kehidupan berbangsa dan bernegara, persatuan dan persaudaraan. Kita pun harus yakin pertemuan tersebut bukan akhir dari segalanya, tetapi bisa saja awal dari sebuah langkah besar selanjutnya. Baik bagi Prabowo maupun Presiden Jokowi dan koalisi mereka. Semua sangat terbuka seperti kata William Clay, “This is quite a game, politics. There are no permanent enemies, and no permanent friends, only permanent interests.”

Prabowo tetaplah Prabowo yang dikenal oleh pendukungnya. Dia bukan pecundang atau jenderal kaleng-kaleng seperti diungkap pendukung yang beralih menjadi haters. Sama halnya dengan Jokowi.

Dukungan yang beralih menjadi kebencian justru bukan menunjukkan sikap sebagai pengikut melainkan sebagai penumpang gelap. Mereka adalah orang-orang yang melampiaskan amarah, gerundelan, hingga perundungan, ketika kapten menjadi karena mengendalikan kapal tidak sesuai dengan keinginan penumpang. Adapun pendukung adalah yang telah mempercayakan arah kendaraan kepada pemegang kemudi.

Bahasa lainnya, mungkin saja para penumpang gelap tersebut memiliki agenda lain dan hanya memanfaatkan 08 untuk agenda-agenda tersebut. Menjadikan 08 sebagai pemimpin adalah memercayakan gerak pada arah kemudi yang dibawa sang pemimpin.

Bagi penumpang diperhadapkan dengan pilihan: tetap bersama gerbong 08 atau keluar mencari gerbong yang lain. Pastinya, kedua tokoh bangsa yang berkompetisi dalam Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah bersepakat terus bergerak maju. Karena, apapun pilihannya, semua adalah Merah Putih.

Thomas Harming Suwarta, Jurnalis Media Indonesia

(mediaindonesia/suaraislam)