Matinya Ulama di Tangan Umat

Ilustrasi (sumber gambar: www.slideshare.net)

Pernah saya tulis mengenai bergesernya posisi ulama dari masa tradisional hingga masa pasca-industri dan pasca-kebenaran di mana eksistensi keulamaan dan otoritasnya sudah larut dalam ketidakjelasan massa.

Bahasa mudahnya, kita sampai pada masa di mana tidak jelas lagi mana ulama, mana bukan ulama. Orang dengan mudah mendaku sebagai ulama, dan oleh karena itu semua orang bisa menjadi ulama sehingga tak ada lagi kejelasan mana ulama mana bukan. (Silakan scroll wall saya untuk baca lebih lengkapnya).

Ulama di sini tentu bukan dalam makna khususnya, ahli agama, tapi dalam makna umum, ‘pakar’. Jadi, ya… semua orang kini merasa jadi pakar. Terjadi inflasi pakar. Dengan demikian tidak ada lagi pakar karena semua sudah pakar.

Entah kebetulan atau bagaimana, saat saya ngedraft tulisan ini siang tadi beredar di WA sebuah tulisan berjudul “Matinya Kepakaran” oleh Dimas Supriyanto yang berisi hal serupa tadi. Judul tulisan itu ambil dari buku karya Tom Nichols seperti di foto yang saya lampirkan ini.

Untuk menjelaskan tentang matinya kepakaran tersebut, tulisan itu menyebut fenomena kekinian di mana dalam hal ekonomi orang lebih percaya ustazah dadakan daripada ahli ekonomi; lebih percaya artis anggota legislatif daripada guru besar manajemen; soal hukum lebih percaya artis bincang-bincang tv daripada guru besar hukum tata negara. Bahkan, buanyak sekali yang lebih percaya anggota legislatif-provokatif dibanding dokter spesialis bedah plastik dalam kasus hoax operasi plastik Ratna S.

Saya ingin menambahkan, fenomena matinya kepakaran bisa juga kita saksikan dalam soal vaksin. Kemarin lalu banyak orang lebih percaya pada propagandis teori konspirasi daripada dokter –bahkan ironisnya ada dokter yang ngikut percaya pada propagandis itu– sehingga menolak vaksinasi. Akibatnya mengerikan: ribuan anak terinfeksi campak dan rubela, ICU dipenuhi anak-anak terinfeksi, banyak yang meninggal. Dua anak seorang artis-ustadzah penolak vaksin juga tak ketinggalan kena campak.

Kalau mau dipanjangkan, masih banyak kasus lain misalnya soal bumi datar. Tapi kita cukupkan saja, apalagi soal bumi datar terlalu menggelikan untuk dibahas, hehe.

Jadi makin jelas, kepakaran seseorang sudah tidak lagi dipakai apalagi dituruti, digantikan oleh otoritas-otoritas yang sebenarnya tidak bisa dipertanggungjawabkan kepakarannya. Artinya, kepakaran memang telah mati.

***

Kabarnya, salah satu tanda kiamat adalah mulai dicabutnya ilmu dari bumi ini yang dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan bahwa pencabutan ilmu itu melalui diwafatkannya para ulama.

Saya sedikit curiga (besok akan saya tanyakan pada guru saya), jangan-jangan yang dimaksud bukan hanya diwafatkannya ulama (secara fisik), tapi juga bisa dimaknai dengan delegitimasi, persona-non-grata bahkan dimusuhinya ulama dan diganti dengan ulama-ulamaan yang sesuai selera massa. Kalau sudah tidak sesuai selera, delete dan ganti yang sesuai selera.

Sudah cukup sering kan… ulama dengan pendidikan yang jelas, guru besar, ahli tafsir dan diakui kepakarannya oleh lembaga-lembaga keagamaan dunia dilepéh begitu saja dan lebih memilih orang yang baru belajar agama tapi sesuai selera pasar.

Jangan-jangan, kiamat memang sudah dekat? Karena sekali lagi, keulamaan telah mati… dibunuh oleh umatnya sendiri.

Sumber: FB Alim

(suaraislam)