Masing-masing Minta Jatah Cawapres, “Koalisi Keummatan” Bikin Prabowo Mumet

Prabowo Subiakto, Ketua Umum Gerindra

Setelah pertemuan dan rekomendasi Ijtima GNPF soal Cawapres, Prabowo kini bertambah bingung untuk menentukan siapakah Cawapres yang “layak” mendampinginya di Pilpres 2019.

Jika mengikuti rekomendasi Ijima’ GNPF Ulama, Prabowo akan berpasangan dengan Abdul Somad atau Salim Segaf.

Tentunya, Prabowo tidak akan gegabah memilih Cawapres karena banyak hal yang harus dipikirkan, tak cukup mengandalkan rekomendasi dari Ijtima GNPF yang ‘katanya’ didukung jutaan alumni 212, tapi tentunya Prabowo juga harus memikirkan kekuatan logistik dan amunisi di ajang 5 tahunan ini.

Inilah yang membuat Prabowo semakin mumet, masing-masing parpol koalisi kekeh dan ngotot dengan Cawapresnya masing-masing.

PKS kini bertambah pede setelah salah satu usulan cawapresnya direkomendasikan oleh Ijtima GNPF menjadi Cawapres. PKS semakin ngotot dan memaksa Prabowo agar Salim Segaf dipilih dan menuding Prabowo melanggar titah Ijtima Ulama (Monas) jika tidak memilih Cawapresnya karena sudah mendapat restu dari Rizieq Shihab.

Senada dengan PKS, Eggi Sudjana politisi PAN ini juga mengintimidasi bahkan menyebut partai koalisi keummatan sebagai partai munafik jika jagoannya ‘Abdul Somad’ tidak disetujui dan dipilih sebagai cawapres karena sama-sama mendapat restu dari Rizieq Shihab.

Di lain pihak, SBY selaku Ketua Umum Partai Demokrat memang mengaku tidak memaksakan cawapres dari Demokrat. Namun, yang jelas SBY tidak akan menggelontarkan amunisi dan logistiknya jika putra kesayangannya, AHY tidak mendapat jatah cawapres, apalagi cuma jatah menteri.

Inilah koalisi ruwet yang membuat Probowo makin mumet dan bingung. Kita tunggu saja apakah Prabowo akan memilih Abdul Somad karena takut disebut ‘Munafik’ oleh Eggi Sudjana, atau memilih Salem Segaf karena takut dibilang ‘Tak Setia’ sama PKS karena kedua partai ini sudah menjalin hubungan yang sangat intim sejak lama, atau Prabowo akan memilih AHY karena memiliki wajah yang milenial serta amunisi dan logistik yang banyak dan mengabaikan rekomendasi Ijtima Ulama yang telah direstui Rizieq. Atau jangan-jangan Prabowo memiliki cawapresnya sendiri!.

(suaraislam)