“Manifesto Nusantara: Menuju Fikih Peradaban Dunia”

Ringkasan diskusi di rembang kamis lalu… Semoga bermanfaat.

Saat ini dunia sedang menghadapi beberapa kekacauan, mungkin kita bisa melihat gambaran paling jelas dari kekacauan itu di timur tengah. Tapi perlu di ketahui bahwa sebenarnya kekacauan itu bukan hanya di timur tengah.

Pertanyaan kita adalah: saat ini kita mau apa? Melihat itu semua. Itu saja pilihan nya, kita akan diam saja atau berbuat sesuatu? Di tengah zaman kungkungan (tirani) politik, ekonomi, dogma-dogma agama dll.

Maka manifesto nusantara ini mengajak dunia untuk berani bicara terus terang soal tirani itu. Kenapa? Karena kita tahu bahwa dahulu semua rosul-rosul misi mereka adalah melawan tirani (kungkungan). Musa As melawan tirani firaun, Ibrahim melawan tirani namrud, begitu juga dengan Nabi Muhammad Saw. Maka beliau mengatakan: “Aku di utus untuk menyempurnakan akhlaq”. Apa itu akhlaq? Akhlaq itu terbagi dua hal:

  1. Mengabdi (beribadah) kepada Allah.
  2. Melahirkan rahmat bagi semesta.

Maka beberapa waktu lalu kita membuat “Humanitarian Islam”, dan kita menunjukkan dengan jujur masalah-masalah dunia dan apa yang harus kita perbuat. Antara lain:

  1. Permasalahan hubungan sosial muslim dan non muslim. Bagaimana tata cara kita memperlakukan mereka? Apa mereka akan kita musuhi atau bagaimana? Kita tahu banyak sekali hal buruk terjadi karena alasan agama. Apa ini akan kita biarkan atau kita akan mencari solusi dari permasalahan ini. Padahal saat ini kita berada peradapan dunia yang jauh berbeda dengan masa lalu. Sebagai contoh:

Sebelum perang dunia pertama mungkin hampir semua didunia mengadopsi identitas agama. Maka status kewarganegaraan pada waktu itu di tentukan oleh identitas agama (tirani agama). Maka yang terjadi pada waktu iti adalah permusuhan abadi diantara mereka.

Realitas yang terjadi saat ini hampir semua negara tidak lagi beroperasi sebagai negara dengan identitas agama. Oleh karena itu status kewarganegaraan saat ini tidak lagi di tentukan ada dasar identitas agama. Maka jika kita melihat saat ini dalam satu negara orang berbeda-beda agama hidup berdampingan.

Maka kalau kita bicara ancaman tampat jelas dan nyata. Orang berperang satu sama lainnya karena mendapat ancaman dari luar. Tapi berbeda dengan dunia saat ini. Justru antar penganut agama dalam suatu negara saling bantu untuk menjaga negaranya aman. Pertanyaan nya, kalau kita memakai standar masa lalu apakah itu relevan dengan dunia saat ini, apakah bukan justru akan menjadi kerusuhan sosial (genosida) jika kita tetap bersikeras hidup dengan standar masa lalu?

  1. Evolusi norma kepantasan. Dunia banyak sekali berubah. Dahulu sesuatu yang mungkin pantas dilakukan tapi berbeda dengan saat ini. Contoh: perbudakan dan penajajahan. Hal ini dulu itu dianggap biasa. Hampir diseluruh dunia tapi saat ini tidak. Bahkan dalam undang-undang negara kita jelas di katakan bahwa kemerdekaan itu adalah hak setiap bangsa.
  1. Era globalisasi. Artinya: dunia sudah sangat terbuka atas informasi yang terjadi. Maka apa yang terjadi di suatu tempat akan berdampak di tempat lain. Contoh: Jika kita membantai kelompok agama tertentu di suatu tempat jelas akan berdampak di tempat yang lain. Maka hidup di era globalisasi kita tidak bisa lagi berfikir dan berbuat sesuatu untuk kita saja. Termasuk permasalahan dunia saat ini merupakan tanggung jawab kita juga kita untuk mencari jalan keluar dari apa yang terjadi itu.

Hal hal diatas hanya sekedar beberapa contoh permasalahan dunia saat ini yang terjadi. Maka manifesto nusantara adalah seruan yang mengajak semua pihak

yang memiliki kehendak baik

dari semua agama dan kebangsaan

untuk bergabung bersama membangun konsensus global untuk mencegah dijadikannya Islam sebagai senjata politik, baik oleh Muslim maupun Non-Muslim, dan memupus maraknya kebencian komunal, melalui perjuangan untuk mewujudkan tata dunia yang ditegakkan di atas dasar perhormatan terhadap kesetaraan hak dan martabat bagi setiap manusia.

penulis: Gus Aun ( wakil ketua Rijalul Ansor)

(kitainisama.com/suaraislam)