Larangan Mengikuti Habib yang Menebar Kebencian

Buat penyembah habib durhaka, baca ini!

Peringatan Tegas Dari Habib Sepuh Habib Anis Solo Cucu Habib Ali Shohibu Simtudduror:
“Habib yang tidak mengikuti leluhurnya, dari segi akidah, akhlak dll, maka dia bukanlah alawy/habib.

Maka dari itu tinggalkan habib yang menyimpang akidahnya, pencacimaki, tukang provokasi, ahli sebar kebencian dan fitnah. Jangan euduk di majlisnya, jangan ikuti ajakan bathilnya, ikutilah ulama atau habaib yang haq/lurus sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

Dan tetap hormati nasabnya dengan niat menghormati Nabi kita Muhammad saw,
nabi penyempurna akhlak manusia.”

Hal senada juga di sampaikan oleh Habib Najib bin Thoha.

FITNAH AKHIR ZAMAN DARI DZURIYYAH

Keturunan Nabi (habaib) yang tidak mengikuti *
adab dakwah & akhlak datuknya akan menjadi fitnah akhir zaman.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدٍ الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَالِمٍ حَدَّثَنِي الْعَلَاءُ بْنُ عُتْبَةَ عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ الْعَنْسِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ فَذَكَرَ الْفِتَنَ فَأَكْثَرَ فِي ذِكْرِهَا حَتَّى ذَكَرَ فِتْنَةَ الْأَحْلَاسِ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا فِتْنَةُ الْأَحْلَاسِ قَالَ هِيَ هَرَبٌ وَحَرْبٌ ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَيْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي وَلَيْسَ مِنِّي وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُونَ ثُمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ عَلَى رَجُلٍ كَوَرِكٍ عَلَى ضِلَعٍ ثُمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ لَا تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا لَطَمَتْهُ لَطْمَةً فَإِذَا قِيلَ انْقَضَتْ تَمَادَتْ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ إِلَى فُسْطَاطَيْنِ فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لَا نِفَاقَ فِيهِ وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ لَا إِيمَانَ فِيهِ فَإِذَا كَانَ ذَاكُمْ فَانْتَظِرُوا الدَّجَّالَ مِنْ يَوْمِهِ أَوْ مِنْ غَدِهِ

Abdullah bin Umar berkata:

Saat kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bercerita tentang fitnah, panjang lebar beliau bercerita seputar fitnah itu hingga beliau menyebutkan tentang fitnah Al Ahlas

Seorang laki-laki lalu bertanya :

“Wahai Rasulullah, apa itu fitnah Al Ahlas?”

Beliau menjawab:

“Adanya permusuhan dan peperangan, kemudian fitnah sarra’ yang asapnya muncul dari bawah kedua kaki seorang laki-laki Ahlu bait ku (keturunan Nabi) ia mengaku berasal dari keturunan ku padahal bukan (tdk diakui Nabi) Wali-wali ku adalah orang yg bertaqwa, Kemudian orang-orang akan berdamai pada seorang laki-laki layaknya pangkal paha yang bertumpuk di tulang rusuk (kesepakatan yang semu) Kemudian akan muncul fitnah seorang yang buta (dengan kekuasaan), tidak seorang pun dari umat ini kecuali ia akan mendapat satu tamparan di mukanya (bencana kerusakan darinya).Ketika fitnah itu telah dianggap usai,namun fitnah tersebut justru berkelanjutan. Seorang laki-laki yang paginya beriman menjadi kafir di waktu sore,sehingga manusia akan menjadi dua kelompok; sekelompok orang yang beriman dan tidak ada kemunafikan dalam keimanannya,dan sekelompok orang yang penuh kemunafikan dan tidak ada keimanan padanya.
Jika kondisi kalian sudah begitu,maka tunggulah munculnya Dajjal pada hari itu atau keesokan harinya (dekat kemunculannya).”

(Riwayat Abu Dawud No. 7304).

(suaraislam)