Koalisi SJW dan Pengasong Khilafah

Berikut tulisan Amin Mudzakkir yang mengulas koalisi SJW dari LSM-LSM Kiri Radikal dengan pengasong Khilafah dari Kanan Radikal. Intinya dua golongan ini sama-sama mendukung radikalisme.

APA DAN SIAPA SJW ITU?

Kepada saya sering ditanyakan apa dan siapa SJW itu? Karena malas menjawab satu per satu, saya akan bahas itu di sini. Jika ada penyebutan nama dan tempat, itu hanya kebetulan belaka.

SJW adalah social justice warrior, sebuah sebutan bernada merendahkan yang ditujukan kepada para aktivis yang selalu mengkritisi apapun di sekitar mereka. Bagi mereka, dunia yang kita tempati sekarang sungguh tidak adil, sehingga tidak ada kata lain kecuali mari melawannya bersama-sama! 1 % manusia menguasai lebuh banyak sumber daya daripada 99 % lainnya, itulah jargon mereka.

Di Indonesia, akar-akar SJW adalah sebuah lapisan sosial kritis yang tumbuh sejak tahun 1980-an dan semakin matang di tahun 1990-an. Umumnya mereka adalah para pegiat non-govermental organisation atau organisasi non-pemerintah atau dunia kampus yang berpikiran maju pada zamannya. Mereka terlibat dalam kerja-kerja pemberdayaan masyarakat dan, pastinya, demokratisasi. Sebagian mereka mendapatkan dana dari luar negeri. Soeharto tidak menyukainya, sehingga kegiatan mereka dibatasi.

Oleh karena itu, sejak awal SJW sudah digembleng oleh sentimen anti-negara. Dimotivasi oleh ideologi kiri baru (new left), SJW melihat negara sebagai pelaku yang membatasi kebebasan di satu sisi tetapi membiarkan agresi pasar bebas di sisi lain. Pada masa Ode Baru, kritik mereka memang valid.

Akan tetapi, kita tahu semua, zaman berubah. Demokratisasi telah mengubah lanskap politik Indonesia dalam dua dekade terakhir. Sekarang seorang pengusaha lokal dari Solo, bernama Jokowi, berhasil menduduki puncak kekuasaan di Jakarta melewati lapisan politisi-politisi lama yang telah antri sebelumnya.

Para SJW tidak bisa menerima perubahan itu. Tidak ada perubahan yang mendasar. Dulu Wiranto berpidato menghimbau gerakan mahasiswa agar tidak anarkis, sekarang pun dia masih memerankan fungsi yang sama. Kira-kira begitulah ilustrasi mereka.

Sekilas tidak ada yang salah dengan sikap para SJW tersebut, tetapi mereka lupa sentimen anti-negara yang terus dikembangkan oleh mereka sekarang bertemu dengan sentimen yang sama dari jurusan lainnya. Yang saya maksud jurusan lainnya adalah para pengusung khilafah yang tidak segan menggunakan kekerasan dalam mencapai agendanya. Para SJW sendiri tidak setuju dengan mereka, tetapi kesamaan sentimen anti-negara membentuk suatu aliansi tidak langsung yang membahayakan kehidupan bersama.

SJW memang mempunyai legitimasi kuat di tengah dunia yang tidak adil. Mereka juga mempunyai artikulasi yang sangat masuk akal dan terpelajar, berbeda dengan para pengusuh khilafah. Tetapi, sekali lagi, sentimen anti-negara yang terus dikembangkannya hanya akan membawa kita dari situasi ketidakadilan ke situasi ketidakadilan lain yang penuh bahaya.

Amin Mudzakkir, Peneliti LIPI

(suaraislam)