Koalisi Kotor Pendukung Khilafah dan Pendukung Prabowo dalam Isu Bendera HTI

Beberapa foto beredar yang menampakkan peserta aksi Bela Tauhid mengacungkan dua jari sebagai simbol pendukung Prabowo Sandi. Aksi ini memang dibangun oleh dua kelompok yang sedang berkoalisi untuk tujuan pendek.

Pendukung Khilafah Hizbut Tahrir ingin melampiaskan dendam dan kebencian pada Pemerintahan Jokowi yang membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sementara pendukung Prabowo ingin terus menyerang Jokowi untuk memenangkan Prabowo pada Pilpres 2019.

Apakah dua kelompok ini memiliki tujuan panjang yang sama? Saya tidak meyakininya. Pendukung Prabowo terus berusaha menghalalkan segala macam cara agar jagonya menang. Dari bikin hoax dan fitnah, mulai serangan personal kepada Jokowi, dari isu PKI, anti Islam, anti ulama, keturunan Cina, bergama Kristen dll nya tapi semuanya makin kuat hanyalah fitnah dan hoax politik jahat. Sementara opini publik Indonesia terhadap kinerja Jokowi semakin kuat yang dibuktikan dengan data-data hasil dari 10 lembaga survei yang menyatakan rakyat Indonesia mayoritas puas dengan kinerja Jokowi.

Pendukung Prabowo makin kalap dan panik dengan kenyataan ini. Isu SARA tidak lagi menohok Jokowi. Mereka bikin Ijtima’ Ulama yang merekomendasikan agar Prabowo bisa mengambil cawapres dari kalangan ulama agar bisa memainkan serangan politik anti Islam dan anti ulama kepada Jokowi. Apa lacur, justeru Prabowo lebih memilih Sandi, sedangkan Jokowi memilih ulama nomer wahid: KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres.

Tidak ada jalan bagi pendukung Prabowo selain berkoalisi dengan kelompok-kelompok radikal yang ideologis dan fanatik yang sangat efektif dan kuat sebagai senjata serang politik. Khususnya pendukung khilafah Hizbut Tahrir yang dalam 10 tahun periode SBY dibiarkan bahkan diberi keistimewaan untuk menjadi “ormas” meskipun Hizbut Tahrir sudah menyatakan dirinya sebagai “partai politik yang ingin mendirikan Negara Khilafah”.

Mulai dari dukungan para pendukung Prabowo dan koalisi parpol pendukung Prabowo yang menolak Perppu Ormas yang membubarkan ormas radikal anti Pancasila seperti Hizbut Tahrir. Aliansi ini pun berusaha mengganjal perubahan Perppu Ormas menjadi UU Ormas di DPR.

Demikian pula dukungan di opini publik saat Hizbut Tahrir mengajukan gugatan di pengadilan atas dibubarkannya HTI, tokoh-tokoh parpol koalisi Prabowo mendukung gugatan itu. Hingga pertemuan-pertemuan sandiwara antara anggota DPR dari koalisi parpol Prabowo di DPR bersama tokoh-tokoh Hizbut Tahrir. Anda bisa “google” sendiri untuk membuktikan betapa banyaknya jejak-jejak digital dukungan Pendukung dan Tokoh-tokoh Parpol Prabowo mendukung Hizbut Tahrir yang ingin menggusur NKRI dan ingin menegakkan Negara Khilafah versi mereka.

Saat provokasi pengikut Hizbut Tahrir terhadap Acara Hari Santri Nasional di Garut yang membawa bendera HTI dan dibakar oleh Banser, Koalisi Pendukung Khilafah dan Pendukung Prabowo ini seperti mendapatkan momentum baru. Mereka pun menggelar Aksi Bela Tauhid yang menggiring opini publik yang dibakar oleh Banser adalah Bendera Tauhid bukan Bendera HTI.

Namun Aksi Bela Tauhid ini hanyalah kedok politik makar dan politik Pilpres 2019. Kedok ini pun terbongkar oleh kelakuan peserta aksi ini yang menampakkan bahwa Aksi Bela Tauhid sebanarnya Aksi Bela Prabowo dan Aksi Bela Hizbut Tahrir.

Adapun buktinya:

Pertama, munculnya spanduk-spanduk dukungan pada Hizbut Tahrir dalam arena aksi itu. Mereka sudah tidak malu-malu lagi menampakkan spanduk-spanduk pembelaan terhadap Hizbut Tahrir.

Kedua, bendera-bendera yang mereka sebut sebagai Bendera Tauhid diperlakukan sangat rendah. Ada yang diinjak, ada yang dibiarkan keleleran di tanah dan kaki, hingga masuk got dan selokan. Kalau benar mereka membela Tauhid, harusnya mereka memuliakan bendera-bendera yang ada kalimat Tauhidnya itu. Ternyata motif mereka bukanlah membela kalimat tauhid tapi itu hanya sebagai kedok belaka.

Ketiga, munculnya dukungan pada Prabowo dengan simbol-simbol dua hari dari peserta aksi Bela Tauhid itu. Demikian pula orasi-orasi yang memberikan anti Jokowi dan 2019 Ganti Presiden yang jelas-jelas merupakan dukungan pada Prabowo.

Apa lacur, kedok Aksi Bela Tauhid mereka terbongkar sendiri. Bahwa aksi mereka bukan Aksi Bela Tauhid tapi Aksi Bela Prabowo dan Aksi Bela Politik Makar. Kelakuan mereka persis apa yang dilakukan oleh Pemilik First Travel dan Abu Tours yang memanfaatkan ibadah umroh sebagai penipuan dan memperkaya diri sendiri dengan menipu ratusan ribu jamaah.

Semoga Allah Swt melindungi kita dari golongan munafik ini, yang membajak agama untuk kepentingan politik kekuasaan dan membuat fitnah serta kekacauan seperti yang sudah terjadi di Suriah, Libya, Iraq, Yaman dan lain-lainnya.

Mohamad Guntur Romli

(gunromli.com/ suaraislam)