Kiai Said Aqil Siroj: Khutbah Provokatif Tidak Sah

Ketum PBNU

Khutbah Jumat menjadi momentun bagi umat Islam di seluruh dunia untuk mengasah spiritualitas dalam hidupnya.  Ajaran Islam mewajibkan kepada para khatib agar ketika menyampaikan khutbahnya senantiasa memberikan wasiat kepada umat untuk meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Swt. Meskipun demikian, seiring perkembangan sosial-politik di masyarakat, khutbah Jumat acapkali disalahgunakan, bahkan dengan mudah seorang khatib yang melontarkan kemarahan di hadapan jamaah.

Menurut Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, tidak selayaknya khutbah Jumat digunakan sebagai ajang untuk memprovokasi ummat. “Khutbah kepanjangan itu salah. Khutbah itu pendek. Tidak boleh panjang-panjang karena khutbah itu pengganti dua rakaat shalat dhuhur. Kalau ceramah silahkan panjang. Khutbah tidak boleh bikin orang tertawa, tidak boleh bikin emosi naik kemudian marah, tidak boleh bikin nangis, makruh!,” jelas Kiai Said saat memberikan tausiyah di Rakornas Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (29/1).

Menurut Kiai asal cirebon itu, khutbah Jumat adalah murni untuk mengingatkan kepada jamaah dan ummat agar meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt, dan bukan justru untuk membuat emosi umat terbakar. Apabila hendak membuat orang tertawa, terbakar emosinya, hingga membuat orang menangis, maka selayaknya itu digunakan saat ceramah biasa, bukan saat khutbah Jumat. Hal itu penting, karena caci-maki dan memprovokasi umat bisa membuat khutbah Jumat batal.

“Khutbah memprovokasi jamaah, tidak boleh. Khutbah itu wasiat bittaqwa. Mau bikin orang nagis silahkan ceramah. Mau bikin orang terbakar emosinya, ceramah, mau bikin orang tertawa, ceramah, jangan khutbah. Apalagi khutbah mencaci maki, tidak sah itu,” tegas Kiai pengasuh Pondok Pesantren luhur al-Tsaqafah, Ciganjur itu.

(islamramah.co/suaraislam)