KH. Abdurrahman Wahid: Tradisi Para Kiai

74

Dulu, kalau saya (disuruh milih) diajak Mbah Kiai Bisri Sansuri, wakil Rais ‘Am PBNU dan mbah saya dari pihak ibu, ataukah berangkat dengan Mbah Wahab naik mobil ke Jakarta, saya akan ikut Mbah Wahab. Sebab, bersama Mbah Bisri Sansuri, mobil biasanya berhenti di Pekalongan, di rumahnya Munawir murid beliau.

Lha, kalau disitu baru kami dapat makan. Kalau ikut Mbah Wahab, beliau tahu di mana restoran yang enak. Nah, karena itu saya ikut Mbah Wahab. Lha, saya ini pilih yang enak, mosok pilih yang tidak enak. Demikianlah, saya rasa epidose kecil kiai-kiai kita sudah benar-benar mengabdi kepada masyarakat. Ada yang ndelejer (lurus, ndak mau kompromi), ada yang (berusaha) ngemong (mengayomi) masyarakat.

Satu contoh lagi, suatu hari saya mengantarkan seseorang ke Mbah Bisri. Orang itu mau kurban. Ditanya Mbah Bisri, “Pinten arto sampean?” “Hanya cukup untuk beli sapi satu. Tapi anak saya delapan.” “Nggak bisa. Untuk delapan orang harus sapi dua. Kalau sapi satu, mestinya anaknya kan tujuh,” jawab Mbah Bisri.

Keluarlah orang tadi dari ruang beliau dengan mata sayu, penuh kesedihan.

Mbah Bisri lalu ndawuhi saya, “Tolong antarkan bapak ini ke Kiai Wahab.” Sampai di sana, Kiai Wahab bertanya, “Ada apa?” “Saya ini (mau kurban), hanya bisa beli satu sapi, tapi anak saya delapan. Bagaimana Kiai?” keluh bapak tadi. “Kalau beli satu sapi, kambing satu, duit sampean cukup apa nggak?” tanya Mbah Wahab. “Cukup,” jawab orang tadi. “Ya sudah. Beli satu sapi. Dan, kambing satu untuk ancik-ancik” jelas Mbah Wahab.

Maka, keluarlah orang itu dengan hati gembira.

Dia tidak tahu kalau dalam fiqh itu dhewe-dhewe: kurban sapi dhewe, kurban wedhus dhewe. Sudah ada aturan mainnya. Tapi Mbah Wahab nggak mau bilang begitu. Demikianlah betapa uniknya tradisi kekiaian. Para kiai memiliki cara tersendiri untuk ngemong rakyat! Saya masih ingat sampai sekarang, bagaimana kiai-kiai mbelani (membela) masyarakat. Para kiai tidak pernah ingin rakyat kecewa. Bahkan, mereka sanggup menjadi contoh yang baik dan sanggup mencarikan jalan keluar dari masalah-masalah yang dihadapi.[] Sekian. —

*) Petikan sambutan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebagai Presiden RI ke-4, dalam kunjungan silaturahim ke Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah Kalibeber Wonosobo, pada 31 Agustus 2000. Amin, Samsul Munir. 2010. KH. Muntaha Al-Hafizh Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.

(bangkitmedia.com/suaraislam)