Kewajiban Beretika Mulia pada Rasulullah SAW

MENGHORMATI dan beretika mulia dalam berintraksi kepada Rasulullah SAW adalah kewajiban kita sebagai umat beliau. Sedemikian wajibnya, sehingga dampak dari kelalaian beretika kepada beliau SAW berakibat pada hilangnya ganjaran ibadah yang kita lakukan.

Allah SWT berfirman:

{يا أيها الذين ٱمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي ولا تجهروا له بالقول كجهر بعضكم لبعض أن تحبط أعمالكم وأنتم لا تشعرون}

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara melebihi suara Nabi. Jangan pula kalian bersuara lantang (saat berbicara) kepadanya, sebagaimana lantangnya (suara) sebagian kalian kepada sebagian lainnya. Itu (menyebabkan) terhapusnya ganjaran amalan, sementara kalian tidak merasakannya. (QS. Al-Hujurat: 2)

Bukan itu saja, etika buruk seorang mukmin pada Nabi tergolong sebagai bentuk kekufuran kepada Allah SWT, dan kelak di akhirat akan sebagai orang-orang yang merugi. Sebagaimana firman-Nya:

{ومن يكفر بالإيمان فقد حبط عمله وهو في الٱخرة من الخاسرين}

“Dan barang siapa yang kufur setelah beriman, ganjaran amalannya akan terhapus, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-Maidah: 5)

Jika keluar dari apa yang telah disepakati bersama dalam masalah fiqih merupakan bentuk perbuatan fasiq lagi sesat, maka keluar pada kesepakatan umat dalam  beretika mulia kepada Rasulullah tergolong perbuatan kufur yang nyata, bahkan masuk katagori atheis.

Ada sekelompok orang-orang munafiq yang melakukan hal tersebut pada masa Nabi Muhammad SAW. Mereka secara terang-terangan bersikap kurang ajar kepada beliau. Meraka inilah yang pernah disebut Nabi sebagai kelompok Khawarij. Jumlah mereka terus bertambah dan kian menguat.

Mula-mula mereka tunjukkan sikap membangkang (keluar) dari kesepakan umat Islam dalam mengakui kekhalifahan sayyidan Ali karramallahu wajhah. Dan Khalifah Ali pun memerangi kelompok Khawarij, sebagaimana Nabi pernah mengingatkan hal ini.

Kala itu, banyak orang-orang Khawarij yang mati terbunuh. Hanya ada sedikit orang saja yang lolos dari kematian. Dan dari yang sedikit inilah virus pemahaman Khawarij terus menyebar dan berkembang.

Pemahaman kelompok Khawarij terus ada seiring masa perkembangan umat Islam hingga saat ini. Ciri utama kelompok ini sama sepanjang zaman, yakni keluar dari kesepakatan umat dalam beretika mulia kepada Rasulullah SAW.

Dan jika ada kaum muslimin yang pemahamannya serupa dengan kelompok Khawarij, maka wajib bagi kita untuk menentangnya, baik secara argumentatif, maupun dengan sikap tegas menolak keberadaannya. Inilah yang sikap yang harus dilakukan oleh kalangan ulama dan umara (pemerintah).

Berikut sebagian keterangan prihal awal mula Khawarij muncul, perkembangannya, serta siapa saja yang sepemahaman dengan dengan kelompok ini, semisal Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdul Wahhab, Albani, dan Bin Baz.

Khawarij

Dikisahkan, satu katika sahabat Abu Bakar mendatangi Rasulullah SAW, seraya berkata: “Wahai Nabi, saya pernah lewat di satu lembah yang begini (menyebut ciri-ciri lembah dimaksud). Kulihat di sana ada pemuda yang berpenampilan agamis, bepringai santun dan sedang mengerjakan solat.

Mendengar itu, Nabi bersabda:

{إذهب إليه فاقتله}

“Datangi orang itu, lalu bunuh”

Abu Bakar kembali mendatangi pemuda tadi. Dan ternyata pemuda itu dalam keadaan sebagai mana tersebut di atas. Maka Abu Bakar pun enggan membunuhnya, dan segera kembali kepada Nabi.

Melihat Abu Bakar tidak mau membunuh, Nabi memerintahkan sahabat Umar untuk datang dan membunuh pemuda itu.

Umar segera berangkat mendatangi tempat dimaksud. Seperti halnya Abu Bakar, ternyata Umar juga tidak bisa membunuh pemuda itu. Umar kembali ke Nabi dan berkata:

“Wahai Nabi, saya melihat pemuda itu sedang solat dengan khusu’. Saya tidak sampai hati membunuhnya”

Kemudian Nabi memerintahkan sayyidina Ali untuk datang dan membunuh pemuda tadi.

Ali pun segera mendatangi tempat dimaksud. Tapi pemuda itu sudah tidak ada.

Ali segera kembali ke Nabi, dan mengatakan kalau orang itu sudah tidak ada lagi.

Setelah itu, Nabi bersabda:

{إن هذا وأصحابه يقرؤون القرٱن، لا يجاوز تراقيهم، يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية، ثم لا يعودون فيه حتى يعود السهم في فوقه، فاقتلوهم، هم شر البرية}

“Sesungguhnya orang itu dan sahabat-sahabatnya juga membaca Al-Qur’an hanya sampai tenggorokan saja. Mereka melesat dari ajaran (inti) agama, sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya. Mereka tidak akan kembali pada agama, sebagaimana tidak mungkinnya anak panah yang kembali ke busurnya. Mereka adalah seburuk-buruknya makhluk”.(*)


* Penulis adalah Zulfan Syahansyah Dosen Aswaja Pascasarjana UNIRA Malang

(timesindonesia/suaraislam)