Ketum Rais ‘Aam Syuriah PBNU: Jihad Itu Perbaikan, Bukan Pembunuhan

K.H Ma'ruf Amin (Googleimage)

Maraknya aksi terorisme yang terjadi hari-hari ini menunjukan bahwa Indonesia mengalami masalah serius dalam penanganan paham radikalisme. Terorisme berakar dari cara pemikiran yang sempit dan cenderung eksklusif dalam berbagai hal, terutama dalam pemikiran keagamaan yang biasanya mudah menyalahkan pemahaman yang lain sebagai sesat.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum Rais ‘Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam salah satu cermahya di Youtube. Menurut kiai Ma’ruf, faktor utama timbulnya terorisme karena pemikiran yang sempit dan tidak mau mengakui pemahaman kelompok lain yang berbeda pandangan. Mereka merasa memiliki pemahaman keagamaan yang paling benar sehingga semua yang berbeda dianggap salah.

KH Ma’ruf menambahkan, orang-orang yang melakukan teror sama sekali tidak memiliki sikap tasamuh atau toleran dalam melihat pemahaman keagamaan yang lain yang berbeda. Karena itu cara pandang seperti ini berbahaya karena dinilai sangat sempit.

“Terorisme bermula dari cara pemikiran yang sempit, hanya mengakui kebenaranya saja, saya sering menyebutnya dengan orang yang tidak toleran, tidak tasamuh terhadap pendapat orang lain,” ujar Kiai Ma’ruf Amin.

Ulama lulusan Pesantren Tebuireng, Jombang tersebut menambahkan, makna jihad dalam negara Indonesia tidak bisa diartikan sebagai perang. Negara Indonesia adalah negara yang damai bukan Darul Kharb (Negara Perang). Karena itu makna jihad di Indonesia menurut KH Ma’ruf Amin seharusnya diartikan dengan istlahah atau perbaikan dari segala sesuatu yang dianggap kurang baik.

Kiai Ma’ruf menyanyangkan sikap segelintir orang atau kelompok tertentu yang mengartikan jihad dengan monotafsir, yaitu sebagai perang dan membunuh orang lain. Bahkan kelompok radikal menggap perintah perang harus selalu dilakukan terus menerus, di manapun dan kapanpun. Tentu saja pemikiran semacam ini keliru dan melenceng dari ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya.

“Yang paling fatal adalah orang yang mengartikan jihad dengan satu makna yaitu perang dan menganggap di setiap waktu dan di semua tempat. Padahal makna jihad dapat bermakna istlahah (perbaikan), pungkas Kiai Ma’ruf.

(islamramah.com/ suaraislam)