Ketua PA 212 Sebut Imamnya yang di Mekkah bukan Kartanegara, Begini Respon Netizen!

Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Maarif mengakui pihaknya masih butuh keberadaan Facebook. Slamet menilai Facebook punya andil besar dalam dakwah mereka. (CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto).

Ketua Persaudaraan Alumni atau 212, Slamet Ma’arif meminta mujahid 212 untuk tidak mendramatisir kekalahan Prabowo Subianto pada Pilpres 2019. Slamet mengajak para mujahid untuk kembali pada khittah memperjuangkan Islam dan keadilan.

Slamet menilai proses Pilpres 2019 telah selesai setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menolak seluruh gugatan sengketa buang diajukan Prabowo – Sandiaga Uno. Untuk itu, dia meminta para mujahid untuk tidak terlarut dengan persoalan itu.

“Ayolah pilpres kemarin sudah selesai, Prabowo sudah selesai. Jangan terlalu dihantui dengan persoalan itu terus,” kata Slamet di Hotel Sofyan, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (10/7/2019).

Slamet mengingatkan bahwa imam besar mereka adalah Rizieq Shihab yang kekinian berada di Arab Saudi. Bukan Prabowo yang berdomisili di Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Jadi kalau anda masih ingin Prabowo jadi presiden, maaf, sudah selesai. Peluang itu sudah tidak ada. Dan saya ingin mengingatkan kepada alumni 212, bahwa imam kita bukan yang ada di Kertanegara, tapi yang ada di Makkah. Ini perlu dicatat oleh gerakan kita,” katanya.

Pernyataan ketua PA 212 mendapat beragam tanggapan dari netizen diantaranya dari Politisi PSI dan aktivis muda NU, Guntur romli : “Iya yaa… Tapi gak kan usa nyindir @prabowo gitu dong, pdahal sbelum ini hilir-mudik & belepotan di Kartanegara”

Senada dengan Guntur, netizen @MawarBerduri  juga berkomentar : “Pak wowo kan hny dijdikan alat/boneka utk kepentingan mrk&pak wowo krn ambisinya ign berkuasa mau ikuti permainan mrk, berharap syukur2 bisa spt pak Anies, yg bsa memimpin krn andil dr PA 212&para Monasliminnya, bknkah bgitu pak?”

Bahkan menurut netizen @AnthoNarosa menilai bahwa statemen ketua PA 212 adalah sebuah bentuk kemarahan dan kekecewaan.

Sumber: suara.com

(suaraislam)