Ketika Rocky Gerung dan Kaum Literalis Terjerembab “Metode Ilmiah”

Ada titik hubung mengapa Rocky Gerung bisa segendang seirama dengan kaum literalis yang mendukung capres Prabowo.

Selain karena keduanya getol hendak menggantikan Jokowi dengan Capres pilihan “ijtimak ulama” versi mereka, juga soal bagaimana mereka meyakini sesuatu.

Dalam pandangan kaum literalis, surga itu berisi kenikmatan fisik. Lihat saja perbendaharaan kata mereka tentang nikmat yang dijanjikan; tak jauh-jauh dari bidadari cantik rupawan berjumlah 72, pesta sex, minum khamar yang dihalalkan dan sebagainya. Semua kenikmatan berbau materialistis.

Rocky Gerung juga demikian, dia menganggap bahwa kitab suci itu fiksi. Jelas karena dia tak mampu membuktikan keberadaan kisah-kisah yang ada dalam kitab suci. Karena nihil dalam pembuktian, maka Rocky menyebut kitab suci itu fiksi.

Dua hal di atas jelas tercemar dalamalur pikir “metode ilmiah” yang mewajibkan adanya hal-hal fisik untuk pembuktiannya.

Padahal, tidak semua hal bisa dimaterialkan. Bidadari, air susu mengalir, khamar, pesta sex jelas hanya perumpamaan untuk dunia yang material, sejalan dengan alam pikiran manusia yang selalu hendak membayangkan sesuatu berdasarkan apa yang pikiran mereka bisa cerna.

Sementara kitab suci menjanjikan kenikmatan yang jauh lebih spiritual. Jelas kenikmatan “perjumpaan/penyatuan dengan Tuhan” lebih spiritual kenikmatannya melebihi hal-hal subtil dan dangkal yang terbatasi materi.

Rocky Gerung, juga gagal menyeberangkan pikirannya untuk memahami wujud yang non materi.

Padahal, ada banyak hal yang bisa dia cerna melebihi soal kedunguan manusia sekitarnya. Soal angka matematika, hal yang paling dekat dengan dirinya. Sejatinya angka adalah imajiner, juga ide-ide soal negara, ekonomi dan hal-hal lain. Semua serba imajiner.

Dua pihak ini, kaum literalis dan RG sama-sama terjerembab dalam alam pikiran materialistis, buah pikir Descartesian dan pemikir sekuler barat lainnya.

Sumber: FB Wasil Belian Damardjati

(suaraislam)