Ketika Prabowo Meniru Trump

Ilustrasi

Pengamat politik luar negeri pasti senyum-senyum melihat gaya Prabowo sekarang ini….

Apa yang dilakukannya dalam kampanye, tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Donald Trump saat kampanye. Mulai dari membangun narasi ketakutan dan semua hal yang bersifat negatif, mencanangkan slogan “Make Indonesia Great Again” sampai marah kepada media.

Prabowo sedang membangun citra bahwa dirinya adalah pihak yang dizolimi media. Dan ia menggambarkan bahwa media sudah dikuasai oleh penguasa sehingga ia harus melawan konspirasi besar untuk menjatuhkan namanya. Prabowo ingin membangkitkan kemarahan masyarakat dengan hal itu.

Berhasilkah Prabowo?

Dalam segi peniruan mungkin Prabowo berhasil. Prabowo memang jago kalau meniru, malah dalam segi berpakaian dan orasi ia juga sedang meniru Soekarno.

Hanya Prabowo lupa, bahwa situasi dan kondisi masyarakat Amerika dan Indonesia jelas jauh berbeda. Apa yang dilakukan Trump dengan slogan “Make America Great Again” adalah berdasarkan hasil penelitian bertahun-tahun tentang keresahan bangsa Amerika terutama kaum konservatifnya yang cemas dengan eksistensi mereka melawan kedigdayaan dunia luar.

Dan timses Trump berhasil membangkitkan perlawanan terhadap sistem yang sudah mapan dengan menyentil psikologi masyarakat Amerika yang cemas itu.

Sedangkan Indonesia sebenarnya sedang menuju perbaikan. Memang masih ada masalah ekonomi, tetapi rakyat sudah mempunyai harapan akan masa depan yang bagus ke depan, karena melihat pembangunan di mana-mana. Mereka sudah paham, bahwa untuk menuju arah yang lebih baik butuh waktu, tetapi setidaknya arahnya sudah terlihat.

Kalaupun masih ada para pengeluh yang mengekor ke Prabowo, jumlahnya hanya berkisar 30 persen saja dan itu hardcore, yang berarti mereka tidak akan mungkin memilih Jokowi dengan berbagai alasan. Biasanya alasan subjektif. Lebih dari 50 persen masyarakat sadar bahwa Indonesia ini sedang membangun.

Semakin Prabowo meniru Trump, semakin blunder apa yang ia lakukan.

Sebagai contoh ketika ia membangun narasi melawan media yang tidak mau memberitakan 11 juta peserta reuni yang datang di Monas. Alih-alih orang kagum, ia malah ditertawakan se Indonesia raya.

Ditambah Prabowo ngamuk pada wartawan dan media, orang malah teringat masa orde baru dimana penguasa main cabut surat penerbitan dengan semena-mena. Prabowo ingin membangkitkan perlawanan masyarakat, justru ia membangkitkan ketakutan masyarakat padanya.

Prabowo harus mengubah style kampanyenya. Jika tidak, para swing voters tidak akan memilihnya karena mereka sendiri jadi takut membayangkan seorang Prabowo yang agresif, tidak stabil, temperamental itu memimpin Indonesia. Sekarang ini situasi jauh lebih baik dengan kebebasan yang dimiliki dan tidak ingin terampas kembali oleh model diktator seperti yang ditunjukkan Prabowo.

Kalau boleh saya bilang, Prabowo sebenarnya malah menjadi parodi Trump, seperti Charlie Chaplin menjadi tokoh parodi Hitler. Kalau Hitler membangun ketakutan dan kejayaan, Chaplin membangun blunder-blunder kelucuan. Begitu juga Prabowo dengan segala gayanya yang ingin terllihat gagah tetapi malah menjadi hiburan.

Ditambah Cawapres yang pakai petai di kepala, lengkaplah panggung Srimulat yang dihadirkan. Menghibur memang. Tapi untuk memimpin negeri ini jangan. Karena memimpin negara sebesar Indonesia, membutuhkan keseriusan.

Seruput….

*Denny Siregar, penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

(tagar.id/suaraislam)