Ketika Perempuan Arab Saudi Mulai Membebaskan Diri dari ‘Belenggu’ Abaya

Manahel Otaibi, 25, memeriksa teleponnya saat dia berjalan dengan pakaian ala Barat di Tahlia Street, Riyadh, Arab Saudi, pada 2 September 2019. (Fayez Nureldine / AFP)

Suatu pagi pada Mei 2019 di Riyadh; Manahel Otaibi (25) yang baru saja kembali ke Arab Saudi setelah menyelesaikan studinya di China, berpakaian untuk pergi ke gym.

Dia mengenakan celana jins dan T-shirt, meraih tasnya dan keluar. Abaya-nya, kain serba hitam yang merupakan pakaian adat untuk perempuan di Arab Saudi, ia tinggal di rumah.

Hal itu mungkin tampak sepele, tetapi bagi Otaibi, yang selama bertahun-tahun diwajibkan mengenakan abaya, itu tidak lain adalah kemenangan pribadi, demikian seperti dikutip dari the Los Angeles Times.

Sejumlah perempuan Arab Saudi saat ini mulai memilih mengenakan pakaian yang, jika mereka kenakan beberapa tahun lalu, bisa membuat mereka bermasalah dengan polisi moral lokal.

Banyak kaum Hawa yang meninggalkan abaya hitam polos tradisional mereka –sebuah gamis longgar yang menutupi seluruh tubuh yang wajib dipakai semua perempuan Arab Saudi di depan umum demi mematuhi norma kesusilaan lokal.

Sebagai gantinya, mereka memilih alternatif lain bernada ‘konservatif-kreatif-kekinian’: seperti baju parasut sporty, jubah dengan potongan modern-bernuansa-bisnis, dan bahkan kimono –Donna Abdulaziz melaporkan untuk the Wall Street Journal, disadur pada Minggu (6/10/2019).

Atau seperti Manahel Otaibi, benar-benar ‘cuek’ berpakaian sebagaimana perempuan berbusana dengan sopan pada umumnya.

Perubahan gaya berbusana di kalangan perempuan muda Saudi telah menarik gerutu dari beberapa kelompok konservatif, termasuk perempuan yang sebagian besar dari mereka masih memakai abaya hitam tradisional.

Di luar kota yang relatif kosmopolitan seperti Jeddah atau Riyadh, perempuan masih bisa menghadapi persekusi karena melanggar aturan berpakaian yang berakar dalam tradisi Saudi.

Tetapi beberapa perempuan Saudi mengatakan mereka merasakan norma budaya berubah, sejak Putra Mahkota dan pemimpin de facto Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman bergerak untuk membuka masyarakat konservatif ini ke dunia luar dan secara umum menjadikannya ‘sedikit’ lebih liberal ketimbang Saudi beberapa dekade silam.

Perempuan telah diizinkan mengemudi di jalan-jalan Saudi, jogging di jalan-jalan umum di kota Saudi yang kosmopolitan, dan bekerja di pekerjaan yang dulu disediakan hanya untuk pria, seperti militer dan polisi.

Soal berpakaian abaya, memang tidak ada hukum yang mengatur dalam undang-undang Saudi. Akan tetapi, pada praktiknya, persekusi berlaku umum.

Namun, dalam sebuah wawancara dengan CBS News pada 2018 silam, Pangeran Salman mengatakan bahwa “baik laki-laki maupun perempuan harus berpakaian sopan … tetapi Islam tidak secara partikular mewajibkan (perempuan) harus mengenakan abaya atau mengenakan penutup kepala,” ujarnya seperti dikutip dari the Telegraph.

“Keputusan sepenuhnya menjadi tanggung jawab perempuan untuk memutuskan jenis pakaian sopan dan terhormat apa yang ia pilih untuk dipakai,” lanjut sang putra mahkota Arab Saudi.

(liputan6/suaraislam)