Ketika Pendukung ISIS Memberi Ceramah di Kampanye Capres

Pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno menyapa pendukungnya saat kampanye akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (7/4/2019). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

Apakah kamu melihat Indonesia hari ini di GBK? Saya gak. Mungkin penglihatan saya sama seprti SBY. Ini bukan kampanye politik nasional. Ini adalah pengerahan umat Islam, dengan segala aksesoriesnya untuk dimanfaatkan dalam ajang Pilpres.

Kalau kampanye politik nasional tentu saja nuansanya berbeda. Sebab Indonesia terdiri dari berbagai suku dan agama. Indonesia bukan hanya milik satu agama saja.

Bahkan jikapun kamoanye politik, yang mensasar masa umat Islam, kayaknya aneh juga. Bukan apa-apa. Umat Islam Indonesia itu beragam aspirasi politiknya. Bukan hanya ke satu pasangan Capres.

Hasil survei berbagai lembaga kredibel malah menunjukan, di mata pemilih Jokowi-Amin jauh lebih islami dibanding Prabowo-Sandi.

Rakyat tidak boleh. Umat Islam Indonesia tidak sedunggu sangkaan Rocky Gerung. Rakyat bisa membedakan Capres dan Cawapres yang beragama secara benar. Dengan orang yang agamanya hanya tempelen. Tapi setiap kampanye politik menggunakan isu agama.

Dengan menunjukan nuansa kampanye yang seragam dan round down acara yang melulu mengacu pada satu agama, sepertinya memang kesimpulan SBY tentang kampanye Prabowo pagi ini ada benarnya. “Kampanye ini terkesan eksklusif,” begitu tulisnya.

Ini kampanye nasional. Kampanye di negeri berfalsafah Pancasila. Kita hanya diminta untuk memilih Presiden dan Wakilnya.

Kita gak pernah diminta untuk memilih ideologi lain untuk bangsa ini. Sebab soal ideologi, kita sudah selesai. Jangan diutak-atik lagi. Bahkan Pemilu kali ini juga dijalankan karena amanat ideologi yang kita yakini.

Jadi ketika dalam kampanye seolah nuansanya hanya satu jenis agama saja. Masyarajat datang dengan motivasi-motivasi keagamaan yang lebay. Kita jadi bingung. Apakah ideologi Pancasila kita nanti akan digantikan oleh calon yang satu ini?

Sebab Indonesia yang kita kenal mestinya gak cuma satu wajah begini. Gak cuma satu agama begini. Indonesia yang kita kenal adalah negara dengan beragam suku dan agama. Itu jika kampanye Prabowo tadi pagi mau sisebut kampanye calon Presiden Indonesia.

Coba perhatikan. Entah kenapa di ujung acara harus diputarkan komentar Rizieq, orang yang kabur karena kasus hukum yang menjeratnya. Rizieq juga dikenal punya gagasan mendirikan negara syariat –sebuah nama lain dari khilafah versi FPI.

Rizieq menyatakan dukungan pada ISIS. Sebuah gerombolan yang lebih srigala dari srigala. Lebih buas dari binatang buas. Tidak jelas bagaimana orang yang mendukung ideologi kebangsaan lain bisa diberi waktu ceramah di panggung kampanye nasional.

Sepertinya acara tadi di GBK bukan kampanye calon Presiden Indonesia. Tapi kampanye negara Islam Indonesia. Itulah yang dikhawatirkan SBY. Bangsa ini dikeraskan identitas keagamaanya. Untuk kemudian berisiko berbenturan.

Padahal Indonesia sejak dulu bukan mono-budaya. Mono-agama. Tapi sudah stereo. Sudah asyik sejak dulu kala.

Kata Bambang Kusnadi. Orang datang ke kampanye Prabowo di GBK itu cuma alasan saja. Tujuan utamanya mau nyobain naik MRT. Mereka suka dengan hasil kerja Jokowi.

“Mas, Rizieq tadi ikut memberi sambutan via video kan, ya? Dia sih sudah terbiasa video call, mas,” ujar Abu Kumkum.

“Kok tahu Kum?”

“Kalau gak percaya, tanya kak Emma aja…”

Sumber: www.ekokuntadhi.id

(suaraislam)