Ketika Hanum Rais Keliru Mengutip Konteks Hadis al-Ifki (Hoax) Aisyah

Pengakuan seorang politisi Ratna Sarumpaet (RS) bahwa terjadi penganiayaan sebelumnya telah tersebar di dunia maya. Tidak ayal, berita hoax tersebut (bahkan melebihi kecepatan cahaya, hehe) penganiayaan terhadap RS secara cepat menyebar ke beberapa kalangan aktor politik seperti Hanum Rais (HR).

Hanum Rais membuat pernyataan bahwa RS dianiaya oleh pelaku kekerasan. Namun ia kemudian meminta maaf setelah terbukti RS mengakui bahwa penganiayaan tersebut adalah hoax belaka. HR mengakui jika ia telah salah menerima berita hoax tersebut. Tidak sampai di situ saja, HR seakan ‘menyamakan’ peristiwa tersebut seperti yang menimpa Aisyah r.a. Bahwa Aisyah merupakan orang yang pernah jadi korban hoax.

Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berbohong. Karena berbohong merupakan salah satu dosa yang mengantarkan pelakunya kepada kehinaan dirinya. Hoax merupakan bentuk dari perilaku bohong. Hoax diartikan sebagai bentuk dusta yang menutupi fakta/ kebenaran sejatinya sehingga memberikan rasa tidak aman bagi orang lain.

Peristiwa hoax bukanlah barang baru, hal ini pernah terjadi pada masa Nabi. Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, bahwa Aisyah r.a., sang kekasih Nabi Muhammad saw. pernah menjadi korban hoax yang sempat menggegerkan Madinah kala itu. Hoax yang menimpa pribadi Aisyah r.a. ini direkam dalam sejarah dengan hadis al-ifki (berita kebohongan/ berita hoax). Akhiran, peristiwa hoax ini tidak dipercaya oleh Nabi Muhammad saw. hingga turun ayat yang menerangkan bahwa hoax itu dibuat oleh orang di antara kamu juga.

Ini jelas analogi yang keliru (qiyas ma’al fariq, bahasa ushul fikihnya). Alasannya bahwa Aisyah r.a. merupakan orang yang menjadi korban hoax dan Nabi tidak percaya terhadap kebohongan tersebut. Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi pada HR, ia merupakan salah satu aktor yang menjustifkasi dan melakukan ‘distribusi’ hoax tersebut. Alih-alih meragukan statement RS, Hanum Rais justru membenarkan apa yang terjadi pada dirinya.

Dari penjelasan di atas, apa ibrah (pelajaran) yang bisa kita ambil? Di dalam ilmu hadis terdapat kajian ilmu rijal hadis (disiplin yang membahas validitas sebuah kabar). Berita dan informasi yang disampaikan valid, maka ia tsiqah. Namun, jika tidak valid, meski si pembawa informasi ia bisa di-jarh, bahwa berita (hadis) nya hoax dan orangnya sebagai kaddzab (pendusta), dan lain-lain. Di dalam sebuah hadis juga disebutkan bahwa jika seseorang menyampaikan semua apa yang semua ia dengar, maka ia juga termasuk orang yang senang berbohong.

Mari kita selalu kedepankan nalar kritis terhadap informasi yang beredar di sekitar kita sehingga tidak mudah dan gampang menyebarkan hoax. Wallahu ‘Alam bis Shawab.

(bincangsyari’ah/ suaraislam)