Ketika Bung Karno Menolak Kembali ke Masa Khilafah

Apapun alasanya, bagi Soekarno yang revolusioner, tak ada kamus kembali ke masa lampau, dan mendirikan pemahaman kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis dengan kembali “ke zaman nabi dan empat khalifah penggantinya”.

“Islam harus mengejar ketertinggalan 1000 tahun, bukan kembali ke masa lampau, bukan kembali ke zaman khilafah”

–Soekarno- (Sholihin Salam:1964)

Pemikiran-pemikiran Bung Karno selain tertuang dalam pidato-pidatonya pada berbagai kesempatan, ia juga sering menuliskannya dalam artikel maupun buku, baik buku dari buah tangan pemikirannya seperti “Di Bawah Bendera Revolusi” atau dari beberapa biografi yang banyak ditulis.

Sosok bung Karno sering kita kenal sebagai seorang pemikir dan hobi membaca. Hal ini bermula dari kehidupannya di Surabaya yang kurang membahagiakan. Dalam kemurungannya itu, Bung Karno berpaling pada buku-buku. Ia sering mengunjungi perpustakaan Perkumpulan Teosofi di Surabaya, yang dianggapnya sebagai “peti harta karun yang tak mengenal pembatasan seorang anak miskin”. Di sanalah ia melahap berbagai wawasan, mengarungi wilayah abstrak tempat ia bercengkrama dengan pemikir-pemikir dunia.

Pemikir Barat dan Timur habis dilahapnya. Bung Karno menjejali otak dengan gagasan-gagasan pemikir dunia. Thomas Jeferson, Abraham lincoln, Mazzinida, Karl Marx, Lenin, dan Jean Jacques Rousseau adalah nama-nama di antara banyak pemikir barat yang ia baca buku-bukunya.

Begitupun dari timur tak terlewatkan. Bung Karno mengagumi buah pikir Mahatma Gandhi, Jose Rizal, Sun Yat Met, Must, dan lain-lain. Dia habiskan masa pubertasnya dengan membentuk pribadi yang intelek dan pemikir.

Hasil dari banyaknya bacaan buku yang dilahap Bung Karno menjadikan ia sosok pemikir, revolusioner, dan tangguh. Segala aspek permasalahan bangsa seperti pembangunan, ekonomi, budaya, dan agama pun ia selesaikan dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian.

Selain legitimasi sosok Soekarno yang revolusioner dan pemikir, ada legitimasi yang tak kalah pentingnya dari kedua hal itu, yaitu legitimasi bahwa Bung Karno adalah seorang muslim dan menaruh perhatiannya pada agama (Islam).

Hal itu dibangun melalui pidato dan artikel tulisan-tulisanya. Pengabsahan hal ini banyak yang mengriktisi. Itu terlontar dari pemahaman bahwa Soekarno berpaham sinkretis jawa dan sinkretis adalah musuh agama. Ada juga yang menyatakan bahwa ia berpaham Marxis, bukan nasionalis dan bukan agamis. Padahal bung Karno sendiri tidak mengakui semua hal itu.

Terbukti pada saat ia mendapat gelar honoris causa dari IAIN Jakarta (2 Desember 1964), ia berpidato dengan semangat menyatakan: Tjilaka Negara yang Tidak Ber-Tuhan. Di sini, dia menengaskan bahwa bukan hanya warga negara yang harus beragama, negara sebagai negara pun harus mengakui Tuhan. Lalu bagaimana sosok Islam soekarno?

Lepas dari hal itu, Islam soekarno seperti yang ditulis orang, tampak terinspirasi oleh “Dunia Baru Islam“-nya Lotrop Stoddard seorang penulis barat, sebagaimana ia sangat terpengaruh oleh “Semangat Islamnya“-nya Amir ‘Ali. Soekarno memang mengakses pemikiran-pemikiran kaum pembaharu Islam, terutama dari Mesir dan karena itu ia selalu mengrikitik keras tradisi taqlid yang berkembang di kalangan kaum bermazhab sebagai penyebab utama kejumudan dan kemunduran islam.

Pembeda antara kaum modernis Islam Indonesia yang berkembang pada saat Bung Karno Hidup dengan dirinya adalah Bung Karno sama sekali tidak tertarik dengan pembersihan dari segala takhayul dan bid’ah. Sebaliknya, ia dengan semangat melancarkan kritik, sekeras kritiknya terhadap kaum bermazhab, terhadap ketertutupan penafsiran Al-Qur’an, hadis, dan idealisasi masa lalu (zaman nabi dan empat khalifah penggantinya).

Hal ini mirip seperti kritik modern terhadap serangan orang Arab yang tetap menggunakan masa lalu, dalam buku Sholihin Salam yang berjudul Bung Karno dan kehidupan Berfikir dalam Islam, Soekarno menyatakan bahwa “Islam harus mengejar ketertinggalan seribu tahun, bukan kembali ke masa lampau, bukan kembali ke zaman khalifah”.

Dari konteks ini terlihat dan tampak bahwa Bung Karno melihat dan menangkap Islam sebagai semangat, bukan Islamnya itu sendiri. Dalam konteks ini juga, ia kelihatan ingin berperan lebih liberal dalam memberikan tafsiran-tafsiran radikal terhadap semangat Islam dan ini berseberangan dengan kaum pembaharu.

Ditambah, Bung Karno sendiri sering dan sangat suka mengemukakan slogan-slogan apologetik seperti: “Islam adalah kemajuan”, “Islam adalah peradaban yang paling lengkap”, “Ilmu Islam adalah pengetahuan Al-Qur’an dan hadis”, “Tak ada agama yang lebih mementingkan akal selain Islam”, dan beberapa slogan yang lain.

Bahkan dalam pidatonya yang dikutip oleh Bolland, ia pernah menyampaikan: “…… tetapi kita akan membakar seluruh rakyat dengan apinya islam, sampai putusan parlemen diresapi oleh semangat dan jiwanya islam”.

Terakhir, penulis ingin menegaskan  kembali bahwa Pemahaman Bung Karno “kembali kepada Al-Qur’an dan hadis” tidaklah sama dengan kaum modernis Islam. Apapun alasanya, bagi Soekarno yang revolusioner, tak ada kamus kembali ke masa lampau, dan mendirikan pemahaman kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis dengan kembali “ke zaman nabi dan empat khalifah penggantinya”. Akan tetapi Islam ditafsirkan sebagai semangat dan jiwa pembangunan kualitas kemanusiaan.

Wallahu a’lam.

Khoirul Ibad

(islami.co/suaraislam)