Keteladanan Berkurban

Secara historis teologis perintah berkurban dimaktub dalam Al-Quran Aurat As-Shaffat ayat 100-106: “Ya Tuhanku, anugerahilah aku anak yang saleh. Kemudian Kami berikan kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang penyantun. Setelah anak itu dapat melakukan usaha bersamanya, Ibrahim berkata kepadanya, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi dalam tidurku bahwa aku menyembelih engkau. Maka pertimbangkanlah bagaimana pendapatmu?” 

Sang anak menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan itu. Niscaya ayah akan mengetahui bahwa diriku termasuk orang-orang yang sabar, insya Allah”. Maka ketika keduanya telah mematuhi perintah Allah dan pipi sang anak sudah ditempelkan di atas tanah, maka Kami berseru kepadanya: “Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah mematuhi perintah berdasarkan mimpi itu!” Dan sesungguhnya dengan cara seperti itulah Kami membalas orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya peristiwa ini adalah suatu ujian yang nyata!”

Ayat di atas merekam drama yang luar biasa yang kemudian menjadi landasan teologis ajaran berkurban dalam agama Islam. Dalam ayat di atas secara jelas tergambar bagaimana dialog antara Ibrahim dengan putra tercintanya Ismail tentang perintah berkurban. Sebuah dialog yang sangat menyentuh hati dan menggetarkan iman.

Sesungguhnya ajaran kurban adalah ajaran tentang pengorbanan, keikhlasan, kesabaran, dan kemanusiaan. Ketiganya secara metaforik-simbolik diajarkan oleh Allah melalui aktor-aktris pilihan bernama Ibrahim, Siri Hajar dan juga putra terkasihnya Ismail.

Ketiganya harus menjalani fase kehidupan yang sangat berat. Cintanya diuji. Kebahagiaan memiliki anak yang dinanti harus diuji sebab Allah menginginkan sang anak yang bernama Ismail itu disembelih untuk dijadikan kurban. Kurban adalah medium untuk mendekatkan diri kepada Allah. Al-Jurjawi (2007) mengatakan bahwa kurban adalah media yang efektif untuk mengesampingkan egoisme sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Pengorbanan sama artinya dengan merelakan apa yang sejatinya masih dicintai. Proses perjuangan itulah yang dicatat oleh Allah. Jika kita berhasil mengorbankan apa yang kita masih cintai, maka Allah akan memberikan nilai lebih kepada kualitas keimanan dan kehambaan kita.

Di dalam ibadah kurban terdapat perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail. Hal ini merupakan bukti sekaligus perintah bahwa ternyata di dalam hidup ini kita perlu melakukan pengorbanan-pengorbanan untuk memperkuat tali persaudaraan kepada sesama. Terutama kepada saudara-saudara kita masih belum mampu, saudara-saudara kita yang perutnya lapar, yang miskin, saudara-saudara kita yang masih membutuhkan begitu banyak pertolongan dan bantuan dari kita semua.

Kurban mengajarkan kita tentang bagaimana menumbuhkan rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Kemanusiaan adalah kata kunci yang menjadi pilar penting dalam semangat ajaran kurban. Dimensi ritus mendekatkan diri kepada Allah dilakukan dengan cara mengepakkan dimensi sosial berupa memberikan daging kurban kepada mereka yang berhak dan membutuhkan. Inilah unik dan meneriknya ajaran kurban. Salah satu ajaran yang menyeimbangkan dimensi ritual dengan dimensi sosial.

Dalam kurban, kesalehan ritual selaras dan berjalan beriringan dengan kesalehan sosial. Sebuah hal yang sulit untuk kita temui dalam ajaran yang lain semisal: shalat dan puasa.

Penting untuk diingat bersama bahwa pengorbanan yang kita lakukan akan sia-sia jika kita tidak membalutnya dengan kepasrahan dan keikhlasan. Ciri ikhlas dalam pandangan Abdul Karim Ghuddah (2007) adalah jika kita beramal dan segera lupa dengan amal kita, maka sejatinya kita sudah ikhlas. Ilustrasi mudahnya adalah jika kita berbuat baik kepada orang lain, dan ternyata perbuatan tersebut masih terngiang-ngiang dalam memori dan ingatan kita, bahkan secara sengaja masih kita ingat-ingat betul, maka kita tidak termasuk dalam kategori hamba yang berbuat ikhlas.

Pada etape kualitas kehambaan yang lebih tinggi, keikhlasan bukan saja terindikasi dari sikap kita yang tidak mengingat-ingat perbuatan baik yang kita lakukan, namun lebih dari itu, puncak keikhlasan adalah ketika kita bersedia memberikan apa saja yang sebetulnya masih kita cintai. Memberi apa saja yang sudah tidak kita gunakan dan sudah tidak kita butuhkan, barangkali masing-masing kita mampu melakukannya. Namun lain persoalan dan tidak semua orang bisa memberikan apa saja yang masing dicintai.

Kita bisa mengkonkretkan dimensi “apa saja” di atas menjadi barang, jabatan, kedudukan, dan lain sebagainya. Kita juga menarik dimensi tersebut menjadi luas, dalam konteks pribadi, atau dalam konteks kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara.

Di dalam pengorbanan yang sudah dibalut dengan keikhlasan, Al-Ghazali (1998) mengatakan bahwa di sanalah mekanisme kesabaran itu bekerja. Rasa sabar untuk merelakan apa yang dimiliki untuk dikurbankan sebagai medium mendekatkan diri kepada Allah menjadi prasyarat utama yang harus dipenuhi.

Watak kesabaran adalah watak bumi. Ia tetap rela mengeluarkan apa saja dari dalam perutnya meski saban hari selalu diinjak-injak. Sebagaimana Rendra yang bersajak: Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, ada kata kunci menarik yang relevan dijadikan bahan renungan bersama sebagai bagian dari usaha membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik dan bermartabat. Kata kunci itu adalah sikap rela berkorban.

Kerelaan berkorban untuk menegasikan kepentingan pribadi di atas kepentingan bangsa dan negara menjadi sangat relevan untuk dikemukakan, utamanya berkaitan dengan kejadian pasca pemilu yang menguras energi bangsa kita. Kita patut bersyukur bahwa upaya untuk menenangkan keadaan dilakukan oleh dua putra terbaik bangsa. Kubu yang saling berhadap-hadapan dalam kontestasi pilpres rela mengorbankan egoisme masing-masing untuk bertemu dan mencairkan suasana.

Inilah sikap kenegarawanan yang menjadi investasi besar dan aset berharga bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita di masa yang akan datang. Sejarah akan mencatat dan anak cucu kita akan belajar bagaimana persatuan dan kerukunan harus tetap dijaga. Pilar utama yang menjadi penyangga adalah sikap rela dan saling mengalah untuk melepaskan ego masing-masing.

Maka, Idul Adha kali ini sangat penting untuk kita jadikan sebagai momentum untuk kembali merenungkan sekaligus menerapkan nilai-nilai kurban dan skala kehidupan kita masing-masing. Tanpa permenungan dan juga refleksi yang mendalam, sesungguhnya kita akan jatuh pada apa yang disebut oleh Al-Qarrafi (2003) sebagai masyarakat yang berperadaban jumud. Semoga kita terhindar dari peradaban tersebut.

A Helmy Faishal Zaini Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

(detik.com/suaraislam)