Kelompok Intoleran dan Kegilaan atas Nama Agama

93
Ilustrasi

Lagi viral di medsos tentang sebuah salon yang menolak seorang pengunjung hanya karena “bukan muslim”. Ini benar-benar terjadi di Indonesia yang katanya menganut Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, bukan di Afghanistan, Pakistan apalagi Suriah. Tapi sepertinya trend nya justru semakin mengarah kesana dimana perbedaan agama menjadi suatu hal yang sensitif dan bisa menimbulkan konflik dan perpecahan.

Akun-akun moderat pegiat toleransi dan kebebasan beragama seperti saya, bang Deny Siregar, Abu Janda / Permadi Arya, Prof Sumanto dan lain-lain kebanyakan followernya justru berasal dari kalangan non muslim. Kenapa? Jujur itu adalah karena mereka sebenarnya merasa tidak aman dan tidak nyaman di negeri ini dimana seruan anti kafir terus saja digaungkan oleh beberapa kelompok tertentu. Dan saat mereka melihat ada muslim yang ternyata toleran (seakan muslim toleran adalah makhluk langka yang perlu dilindungi dan dilestarikan) maka mereka merasa mendapat angin dan corong baru yang bisa mewakili mereka menyuarakan keadilan dan hak-hak mereka di negeri ini.

Slogan “agama damai”, “bagiku agamaku, bagimu agamamu”, “rahmatan lil alamin” dan lain-lain sepertinya hanya menjadi slogan kosong yang tanpa makna saat melihat kelompok intoleran seperti FPI dan lain-lain melakukan kesewenang-wenangan bahkan kekerasan atas dasar agama.

Ada sebuah fakta menarik yang perlu direnungkan. Daftar negara-negara yang paling tidak aman di dunia justru didominasi oleh negara-negara yang penduduknya mayoritas beragama bahkan justru yang sangat kuat sikap keagamaannya / fanatik. Sedangkan negara-negara yang paling aman dan paling damai di dunia justru didominasi oleh negara-negara yang tidak religius (20 negara yang paling aman dan damai di dunia adalah negara yang 44 – 76% penduduknya adalah atheis).

Saya bukan atheis dan bukan pendukung atheisme. Tapi kita harus bisa melihat dan menerima fakta dan kenyataan secara jujur apa adanya dan bukannya justru menganggap laporan dan hasil riset ini sebagai “konspirasi untuk menyudutkan salah satu kelompok agama”. Hal ini seharusnya membuat kita berpikir. Pasti ada yang salah dalam sistem pengajaran agama kita saat ini.

Namun sayang, agama telah menjadi sebuah berhala baru dan berkembang menjadi ideologi yang kaku, tertutup dan anti kritik (yang kadang dikampanyekan dengan istilah “sempurna” oleh para penganutnya) sehingga sedikit saja usul, masukan dan saran bagi perbaikan justru akan dianggap sebagai penghinaan dan pelecehan yang pelakunya wajib dipenggal dan dihukum mati. Jika sudah seperti ini saya yakin bahwa peradaban mereka tidak akan pernah bisa maju bahkan akan terus mundur ke belakang. Tapi ini adalah kenyataan pahit yang harus kita terima.

Salam Waras

Judul asli: Kegilaan atas Nama Agama

(fbcommuhammadzazuli/suaraislam)