Kelompok Eksklusif Beragama Secara Sempit

Ilustrasi

Fenomena cara beragama sebagian kelompok yang mudah menyalahkan pemahaman atau pandangan kelompok lain menjadi tren yang cukup tinggi di kalangan masyarakat, terutama di wilayah perkotaan. Masyarakat diminta menyikapi kehadiran kelompok tersebut dengan tetap mengedepankan kesantunan dan akhlakul karimah. Argumentasi yang baik, yang sesuai dengan dakwah Islam dan kebijaksanaan diminta untuk terus disampaikan kepada masyarakat agar narasi-narasi dakwah kekerasan dengan sendirinya akan tertolak oleh masyarakat itu sendiri.

Menurut Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, fenomena kelompok eksklusif tidak hanya terjadi di kalangan umat Islam saja, melainkan juga terjadi di banyak agama-agama lain di berbagai wilayah negara. Ia menceritakan pengalamannya saat bertemu dan menghadapi kelompok yang kerap menuduh amaliah orang lain sebagai bid’ah, bahkan tak jarang juga menuduh sesat. Yenny meminta masyarakat merespon kelompok tersebut dengan tetap memegang teguh pada prinsip-prinsip perdamaia dan akhlak.

“(Sikapi mereka dengan) Santai dan santun, sambil terus berpikir menyajikan argumen yang tepat. Fenomena ini tidak hanya ada pada kalangan Muslim, tapi juga ada pada penganut agama lain,” kata Hj Yenny Wahid di Pesantren Takhassus Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Jalan M Thoha Nomor 31, Pamulang Timur, Tangerang Selatan, Senin (30/09) malam.

Putri dari Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut menambahkan, bahwa sesungguhnya perilaku kelompok eksklusif bukan atas dasar doktrin agamanya, tetapi karena kelompok eksklusif berpandangan sempit, sehingga tak siap ketika menerima keragaman pandangan dan cara beragama itu senditi. “Jadi, bukan soal doktrin agamanya, tapi memang orang-orang tersebut memiliki cara pandang demikian,” pungkasnya.

(islamramah.co/suaraislam)