Kasus UAS dan Teladan Habib Ali Al-Jufri

Pasca viralnya ceramah UAS mengenai Salib, sebagian umat Kristen menanggapi dengan santai dan bijaksana dan sebagian lain melaporkan UAS ke polisi. Kejadian ini kemudian mengingatkan saya terhadap kasus yang menimpa BTP sehingga membuatnya “mati” (setidaknya itulah yang dikatakan beliau ketika menanggapi isu maju sebagai cawalkot Surabaya) dalam karir politik dan harus mendekam di penjara. Ketika melihat kasus BTP, seharusnya umat Islam juga legowo ketika UAS dilaporkan, bukan malah melaporkan balik.

UAS sendiri merasa tidak bersalah atas ceramahnya yang disampaikan 3 tahun lalu. “Kenapa diviralkan sekarang, kenapa dituntut sekarang? Saya serahkan kepada Allah SWT. Sebagai warga yang baik, saya tidak akan lari, saya tidak akan mengadu. Saya tidak akan takut karena saya tidak merasa bersalah, saya tidak pula merusak persatuan dan kesatuan bangsa”. Hampir senada dengan UAS, MUI juga meminta polisi untuk mengusut siapa yang membuat ceramah UAS menjadi viral. Ceramah UAS juga mengingatkan atas ceramah HRS tentang bidan beranak, yang entah bagaimana kelanjutan kasusnya.

Terlepas dari hal itu, saya teringat salah satu pendakwah internasional, Habib Ali al-Jufri yang tegas mengatakan bahwa kemanusiaan harus didahulukan daripada pandangan keagamaan (al-insaniyyah qabla al-tadayyun). Tidak ada dalam agama Islam pembenaran untuk menyakiti atau bahkan melecehkan agama lain, meskipun dengan ribuan penafsiran. Ceramah UAS yang viral seharusnya dijadikan koreksi, bukan malah membuat kita sebagai mayoritas malah menjadi-jadi. Ketika BTP bisa dikenakan pasal penodaan agama, kenapa umat Islam tidak? Bukankah Nabi Muhammad Saw sendiri tegas mengatakan, seandainya Fatimah puteriku, mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya.

Suatu ketika Habib Ali al-Jufri pernah mengisahkan diskusinya dengan para pemuda mengenai pemikiran Marx, Lenin dan Starlin. Sebelumnya al-Jufri pernah mengkritik pemikiran Marx, Lenin dan Starlin, bahkan membuat julukan kepada mereka bahwa Marx Pemikir, Lenin Pembohong dan Starlin Tukang Jagal. Ketika akan berdiskusi dengan para pemuda, mereka mengajukan permintaan untuk diskusi demgan pemikiran terbuka tanpa ada batas, dan al-Jufri menyetujui dengan catatan diskusi secara ilmiah dan dengan sopan.

Para pemuda itu kemudian menanyakan, apakah kesopanan itu? Apakah seperti dengan mengatakan bahwa Starlin adalah tukang jagal? al-Jufri, dalam tulisannya, merasa terkejut, dia baru sadar bahwa istilah yang dia sematkan kepada Lenin dan Starlin adalah bernuansa caci maki dan penghinaan, al-Jufri kemudian mengakui bahwa itu salah dan kembali berdiskusi dengan para pemuda dengan nuansa ilmiah dan sopan santun. Pada kesempatan lain, al-Jufri juga mengatakan bahwa tidak logis jika kita ingin mengajak orang namun dengan membencinya, bahkan dengan mengatakan benci karena Tuhan, sangat tidak logis.

Sebagai pendakwah, hal yang terpenting adalah hati. Jika dakwah sudah menggunakan hati, maka akan bisa meresap dalam hati. Namun jika masih didasarkan karena ingin ketenaran, maka ketika dia disalahkan orang lain, niscaya akan ada jutaan alasan untuk membantahnya.

Muhammad Khoiruz Zadit Taqwa, Ketum PPI Yaman 2012-2013.

(dutaislam.com/suaraislam)