Setelah Jaringan MCA dan Saracen, Polisi Siap Buru Target Selanjutnya

Polisi mengatakan sudah membidik target selanjutnya terkait kelompok penyebar hoax, isu SARA dan hatespeech Saracen dan Muslim Cyber Army (MCA). Polisi mengaku belum melakukan penangkapan atas target itu karena masih mendalami keterlibatannya.

“Ada seseorang yang sudah kita dalami, tapi belum bisa full kita lakukan penangkapan,” kata Kanit IV Subdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim AKBP Endo dalam sebuah diskusi di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/3/2018).

Endo menjelaskan dalam kasus Saracen dan MCA, tahapan penyelidikan dan penyidikan yang memakan waktu adalah ketika polisi mengurai jaringan kelompok tersebut. Endo mengatakan polisi harus sangat berhati-hati agar penindakan tepat sasaran.

“Kesulitan berdasar investigasi, kita berupaya mencoba menghubungkan identitas ke identitas. Kita coba rangkum ke semuanya. Memang harus hati-hati betul,” ujar Endo.

“Harus firm semua, apa-apa yang kita lakukan selama ini, secara legal harus bisa dibuktikan. Sampai sekarang kami masih menelusuri Saracen dan MCA untuk memastikan betul mereka memiliki hubungan,” sambung Endo.

Sebelumnya Polri merilis hasil penyelidikan maraknya isu penyerangan ulama dalam kurun bulan Februari lalu. Hasilnya, eks Saracen dan MCA adalah dalang di balik berkembangnya isu tersebut.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan kelompok-kelompok itu berusaha menciptakan isu nasional di mana ada serangan sistematis terhadap ulama. Kemudian kelompok ini membuat isu seolah pelakunya adalah kelompok penganut paham komunis.

“Sehingga menjadi isu nasional, sehingga publik terpengaruh opini bahwa telah terjadi penyerangan yang sangat sistematis dengan target ulama. Dan kemudian kambing hitamnya terhadap kelompok tertentu, PKI,” terang Tito saat menjadi pembicara dalam kegiatan pengajian di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jumat (9/3).

Tito mengatakan latar belakang tindakan kelompok Saracen dan MCA adalah ingin membuat opini di tengah masyarakat di mana pemerintah seolah tak kredibel menjalankan tugasnya. Ujungnya, masyarakat menuntut adanya pergantian pemerintahan.

“Isu media sosial ini kita dalami lagi, apa motifnya terjadi serangkaian serangan udara (dunia maya). Setelah didalami komunikasinya, tujuannya agar pemerintah dianggap tidak kredibel, kemudian supaya nanti ada pergantian pemerintahan dan lain-lain. Berarti motif politik,” ujar Tito.

(detikcom/suaraislam)