Jangan Buang Energi Buat ASU

151

Menjelang pelantikan Gub DKI terpilih yang jalannya penuh liku dan lucu. Ramai lagi karangan bunga ucapan terima kasih kpd 3 Gub DKI dlm 1 priode, Jokowi, Ahok dan Djarot. Jakarta menjadi istimewa karena dalam 1 periode pemerintahan diurus 3 Gubernur. Yang pertama jadi presiden, yang kedua “dimasukkan” penjara, yang ketiga meneruskan diujung sisa waktunya. Penggantinya sudah tertawa walau menangnya dengan cara yang tak biasa.

Rasa kecewa masih ada dari hasil pilkada Jakarta, semua mata dunia pernah tertuju kesana, salah ucap dibilang penistaan, penistaan dibilang pembelaan. Dengan rasa senang mereka bilang menang padahal kasat mata mereka curang. Dari proses itu sudah dapat ditebak Jakarta dipaksa lepas dari seorang pengabdi diberikan kepada manusia tak berbudi, warga Jakarta terlalu berani berjudi mempertaruhkan hidup dan kenyamanannya kepada penjanji yang bakal lari.

Sekian jam kedepan akan ada Gubernur tampan yang pernah sopan, kita tidak tahu bagaimana kedepan, karena sopan santun outputnya banyak yang seluman selumun, semoga saja mereka ingat janjinya dan memperbaiki akhlaknya, bahwa janji itu sakral jangan disangkal.

Energi kita nyaris pupus pasca drama pensiasatan yang kesetanan, hati kita pernah marah karena cara-cara yang murah untuk merampas sebuah kekuasaan seperti cara penjarah. Luka itu sedikit terbuka pada jam-jam terakhir ini, namun harusnya kita dengan sadar dan lebih dewasa bahwa Jakarta adalah ibukota yang harus dijaga, kecewa boleh saja tapi dengan cara yang dilakukan saat puncak pemilihan yang menghempaskan harapan kebaikan diabaikan, saat itu kita telah melakukan tindakan kedewasaan bukan kekanak-kanakan, mengirim karangan bunga, menyalakan lilin, dan tindakan elegan lainnya, sekaligus itu tindakan mempermalukan bagi mereka yang masih punya muka, karena kucingpun mengerti siapa mereka sebenarnya.

Indonesia harus menambah oxygen kebaikan agar makin merata, 2019 didepan mata kita, bahwa kunci kelanjutan pembangunan dan revolusi mental masih harus terlaksana, kita harus bersama ada disana, diruang harapan yang sedang dijalankan. Jokowi harus berlanjut sembari mencari penerus agar negeri ini terurus bukan tergerus.

ASU harus memenuhi janji kepada pemilihnya agar mereka tidak kecewa, andai DP 0% tidak bisa jangan pula semuanya jadi tidak ada, minimal kalau raut muka sudah tak ada tapi dagunya masih bisa berkata, bahwa sebuah janji yang sakral bila tak terbayar bisa membuat terjungkal, apalagi bila dibarengi susut moral tanpa pengendalian akal.

Kita yang sudah siap mental mundur saja sejengkal untuk sebuah tujuan yang lebih sakral, agar jangan lagi terpental karena kita lupa bahwa kita dihadapkan pada koloni brutal musuh bangsa berbalut apa saja yang bisa mereka pakai untuk membetot sebuah kebajikan sebagai landasan kebaikan, mereka tidak menginginkan hal itu berjalan karena memang mereka bukan jenis perawat peradaban, mereka perusak kebersamaan dan keberagaman, mereka bukan kita, kita juga bukan mereka.

# Simpan energi untuk kepentingan yang lebih tinggi karena Indonesia sedang uji nyali sekaligus melawan pencuri.

Iyyas Subiakto

(fbcombiakto/suaraislam)