Islam dan Sains; Pandangan Al-Qur’an terhadap Sains

Ilustrasi (Google Image)

Hubungan Islam dan Sains tidak lepas dari kemajuan dan kemunduran sains dalam peradaban Islam. Umat Islam mulai mempelajari atau melakukan penafsiran ilmiah sejak generasi pertama sampai abad ke-lima hijriyah hingga menjadikan diri mereka sebagai pelopor Ilmu pengetahuan di seluruh penjuru dunia, umat Islam telah menjadi pelopor dalam research tentang alam, sekaligus sebagai masyarakat pertama dalam sejarah ilmu pengetahuan yang melakukan experimental science atau ilmu thabi’i berdasarkan percobaan yang kemudian berkembang menjadi applied science atau technology.

Islam mendorong ummatnya untuk selalu berupaya mengembangkan sains seperti tercantum dalam QS Al-‘Alaq: 1-5 :

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak. Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Quran menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.

Q.S. Ali-Imran: 190-191 :

Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.”

Salah satu cara mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan membaca dan merenungkan ayat-ayat-Nya yang terbentang di alam semesta. Dalam ayat ini, Allah menyuruh manusia untuk merenungkan alam, langit dan bumi. Langit yang melindungi dan bumi yang terhampar tempat manusia hidup. Juga memperhatikan pergantian siang dan malam. Semuanya itu penuh dengan ayat-ayat, tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Kemudian islam juga menempatkan orang yang beriman, berilmu dan beramal shalih pada derajat yang tinggi, seperti dalam Q.S. Al-Mujadilah: 11 :

Artinya : “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Kedudukan orang-orang beriman jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang kafir meski mereka memiliki kelebihan yang bersifat keduniaan dari orang-orang beriman. Namun derajat orang-orang beriman yang berilmu akan menempati posisi yang lebih baik lagi ketimbang orang yang hanya beriman saja. Hal tersebut dikarenakan hanya dengan sarana ilmu lah, seseorang dapat mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil.

Pandangan Al-Qur’an terhadap Sains :
Seluruh pengetahuan, termasuk pengetahuan kealaman (sains) ada dalam al-Qur’an. Pendapat ini didukung antara lain oleh al-Ghazali, al-Suyuti, dan Maurice Bucaile.
Al-Qur’an hanya sebagai petunjuk untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Pendapat ini didukung antara lain oleh Ibnu Sina, al-Biruni, dan al-Haitam.

Faktor-faktor pendorong kemajuan sains dalam peradaban islam adalah :

1. Universalisme

Tolong-menolong secara universal memang telah menjadi satu bagian yang tidak dapat di hilangkan dari ajaran Islam. Islam mewajibkan umatnya untuk saling menolong satu dengan yang lain. Segala bentuk perbedaan yang mewarnai kehidupan manusia merupakan salah satu isyarat kepada umat manusia agar saling membantu satu sama lain sesuai dengan ketetapan Islam.

Saling membantu dalam kesusahan demi tercapainya tujuan hidup bersama merupakan hal yang sangat mulia, hal tersebut merupakan karakter daripada islam itu sendiri, menjadikan Ikatan Kebersamaan Umat Islam kemudian menjadikannya sebagai batu lompatan demi tercapanya tujuan hidup bersama.

2. Toleransi

Sesungguhnya sikap toleransi dalam Islam sangat nampak pada setiap perintah dan larangannya. Bahkan sampai kedetailnya, maka seharusnyalah sikap ini menjadi kebangkitan baru untuk mengubah suatu bangsa menjadi bangsa yang bisa saling bertoleransi apalagi dalam hal ilmu. Berbagi ilmu itu tidaklah sulit, tidak akan rugi, malah akan mendapatkan wawasan baru dan juga teman-teman tentunya yang akan sangat berterimakasih karna telah diajarkan. Dengan saling bertoleransi tentu tidak akan teriolasi dari orang-orang karna kita mau berbagi apa yang kita punya untuk membantu mereka, tidakkah itu baik,..??? Dan mungkin ada dari setiap orang yang diajarkan akan membalas kebaikan yang telah kita diberikan.

3. Karakter Pasar Internasional

Sejarah mencatat bahwa kaum pedagang memegang peranan penting dalam persebaran agama dan kebudayaan Islam. Letak suatu negara yang strategis menyebabkan timbulnya bandarbandar perdagangan yang turut membantu mempercepat persebaran tersebut. Di samping itu, cara lain yang turut berperan ialah melalui dakwah yang dilakukan para mubaligh. Rihlah ilmiyah (perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan) sudah banyak dijadikan metode dalam pembelajaran di setiap institusi pendidikan hal ini tentu akan menjadikan sains dan teknologi di dunia Islam menjadi maju.

4. Perhargaan Terhadap Sains dan Saintis

Memberikan penghargaan kepada sains maupun saintis menjadikan mereka tahu bahwa mereka dibutuhkan dalam perkembangan dunia yang semakin maju ini, membuat mereka menjadi semakin semangat untuk menemukan hal baru lagi. Seperti Khalifah Al-Makmun membangun Baitul Hikmah di Baghdad, beliau mengirim wakil-wakilnya ke segala penjuru daerah untuk mencari naskah-naskah tentang materi pendidikan dan Sains, motif dasarnya adalah kepentingan orang lain (altruistic) dan bukan materialistic. Tentu saja, kemungkinan adanya balasan materi dalam bentuk teknologi maju atau baru sebenarnya tidak ada karena hubungan Sains kuno dengan teknologi kuno jauh terpisah, tidak seperti sekarang. Hingga melahirkan para Saintis Muslim terkemuka dibidang Alkimia, Astronomi, Matematika dan kedokteran.

5. Keterpaduan Antara Tujuan dan Cara

Sangatlah penting dapat membedakan antara tujuan dan cara. Seperti contoh jikalau kita punya tujuan yang jelas mengapa kita sekolah, tentunya kita tidak akan nyontek, karena dengan cara tersebut kita tidak akan mendapatkan pelajaran yang berguna bagi kehidupan kita kedepannya. Jadi harus ada keterpaduan antara tujuan dan cara, apabila kita memiliki tujuan yang benar tentu kita juga harus meraihnya dengan cara yang benar juga. Sangatlah jelas bahwa tujuan akan membedakan cara kita melakukan sesuatu, sehingga tujuan sangatlah penting didalam kehidupan. Kalau kita tidak mempunyai tujuan yang jelas kehidupan kita juga akan menjadi tidak jelas karena tidak ada arah yang jelas.

Ketika sains dan teknologi mengalami proses sekularisasi, dikosongkan dari nilai-nilai ketuhanan, seperti sains Barat pada umumnya, maka tujuan akhir dari sains itu ialah semata-mata manfaat (nafiyyah), baik yang bersifat fisik – seperti kenikmatan, keindahan, dan kenyamanan – maupun kepuasan intelektual dan kebanggaan. Sedangkan ukuran manfaat itu bersifat relatif, dan sangat sulit dipenuhi secara hakiki. Karena itu, perkembangan sains cenderung sangat liar. Seorang dokter yang ahli rekayasa genetik, misalnya, mungkin belum merasa memperoleh manfaat dan kepuasan sebelum berhasil melakukan clonning, dan mendistorsi proses penciptaan manusia secara konvensional.

Sebaliknya, ketika nilai-nilai ketuhanan dimasukkan ke dalam proses sains, di samping menghasilkan teori, baik dalam ilmu-ilmu eksaskta maupun non-eksak (sosial, ekonomi, politik, ekonomi, dan lain-lain) yang sesuai dengan sudut pandang dan pemahaman Islam (hadhoroh Islam), juga akan menghasilkan produk yang bersifat materi (kebendaan) dari proses eksperimen, yang sarat dengan nilai-nilai ruhiah yang puncaknya bermuara pada tercapainya keridhoan Allah. Karena itu, seorang ilmuan muslim akan mengintegrasikan antara penemuan ilmiah yang bersifat materi dengan kesadaran ruhiah (majhu al- maddah bi ar-ruh). Nilai ruhiah yang paling tinggi ialah ketika seseorang merasa dekat dengan Allah dan merasa mendapat ridho Allah.

Kemunduran Sains

Konflik terjadi pada masa akhir kemunduran sains Islam yakni kemunculan sains modern (Newton), konflik juga terjadi saat”Kitab Ihya Ulumuddin” karya Imam Al-Ghazali. Siapa yang tidak mengenal kitab Ihya Ulumuddin? Ya, kitab hasil karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali yang sering dijadikan sebagai sandaran dan rujukan bagi sebagian ummat Islam terutama di Indonesia. Imam Al-Ghazali sering sekali dianggap sebagai ahli filsafat Islam dan ilmu kalam. Dan kitabnya yang berjudul Ihya Ulumuddin itu pun dianggap sebagai ‘masterpiece’ Imam Al-Ghazali dalam hal ilmu kalam dan filsafat. Ihya’ ulumiddin menyerukan umat Islam untuk kembali menghidupkan ajaran agama, pendapat ini menyebabkan kesalahpahaman bahwa adanya larangan untuk mempelajari sains, sehingga budaya mempelajari sains ditinggalkan.

Kesalahpahaman ini berdampak pada ketimpangan posisi ilmu seperti terpisahnya tradisi filsafat kelompok (ilmu duniawi) dengan tradisi pemikiran keagamaan (ilmu ukhrawi ). Dampak dari kesalah pahaman agama dan sains menimbulkan ketimpangan posisi ilmu sehingga terpisahnya tradisi filsafat dengan tradisi pemikiran keagamaan, keduanya berada pada tempat yang berbeda, filsafat dan sains berada dalam satu kelompok (ilmu duniawi) dan agama berada dalam kelompok lain (ilmu ukhrawi).

(guardyan.blogspot.co.id/suaraislam)