Inilah 4 Janji Anies-Sandi yang Sulit Dilaksanakan

375

Pasangan Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno memiliki banyak janji kampanye terhadap warga ibukota.

Janji-janji itu disampaikan dalam berbagai kesempatan saat kampanye Pilkada DKI 2017.

Janji Anies-Sandi itu disampaikan baik pada kampanye putaran pertama maupun yang muncul kemudian pada putaran kedua.

Inilah Janji Anies-Sandi yang Sulit Dilaksanakan

1. Menghentikan Reklamasi Pantura

Salah satu janji yang cukup menyedot perhatian warga Jakarta adalah menghentikan megaproyek reklamasi Teluk Jakarta.

Proyek reklamasi telah berjalan, tidak hanya pada era pemerintahan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, tetapi juga pada era gubernur pendahulunya.

2. Rumah dengan DP Nol Persen

Banyak pihak menyebutkan, salah satu janji yang sangat ampuh dan mampu menyedot perhatian publik Jakarta adalah pembangunan rumah dengan uang muka (DP) nol persen.

Janji ini mampu meningkatkan elektabilitas Anies-Sandi terutama di kalangan masyarakat kelas menengah bawah, terutama di kalangan buruh.

Bukan rahasia lagi bahwa masih sangat banyak warga Jakarta yang belum memiliki tempat tinggal layak huni.

Tetapi persoalannya, membangun rumah dan kemudian menjualnya dengan DP nol persen di Jakarta sangat tidak logis.

3. Membangun 200.000 Pengusaha (Wirausaha) Baru.

Janji menciptakan para pengusaha baru di Jakarta banyak disampaikan oleh Sandiaga Uno yang memiliki latar belakang seorang pengusaha.

Dia secara gencar menyampaikan konsepnya itu lewat program Oke Oce.

Di Jakarta ada 44 kecamatan dan di setiap kecamatan akan dibangun setidaknya satu tempat mendidik calon pengusaha-pengusaha baru.

Cuma masalahnya, menjadikan seseorang sebagai pengusaha bukan semata-mata masalah permodalan saja.

Menjadi pengusaha juga bukan sekadar memberikan akses distribusi atau membangun menciptakan pasar.

Yang lebih penting dari itu semua adalah mengubah mindset. Cara pikir manusia yang dijadikan pengusaha itu harus berubah menjadi cara pikir seorang pengusaha.

Mindset buruh atau pekerja jika tidak diubah menjadi mindset seorang wirausaha tidak akan mampu mengubah tantangan menjadi peluang.

Mengubah tantangan menjadi peluang itu adalah syarat wajib agar sukses menjadi pengusaha.

Karena itu, mencetak 200.000 pengusaha dalam waktu 5 tahun bukanlah pekerjaan mudah bagi Bang Sandi dan timnya.

4. Integrasi Semua Moda Transportasi di Jakarta

Ini program yang menarik dan sangat menyedot perhatian tidak hanya warga Jakarta tetapi mereka yang beraktivitas di Ibu Kota.

Menjadikan itu semua dalam satu jaringan yang terkoneksi, bahkan hanya menggunakan satu kartu untuk dipakai di semua angkutan, rasanya sebuah kemustahilan bisa teralisasi dalam waktu 5 tahun ini.

Itulah beberapa janji Anies-Sandi yang akan sulit dilaksanakan dan bisa jadi hanya sekadar PHP (pemberi harapan palsu).

Janji-janji lainnya adalah:

1. Memperluas manfaat Kartu Jakarta Pintar dalam bentuk Kartu Jakarta Pintar Plus, sehingga bisa digunakan pula oleh orang berusia 6-21 tahun yang tak sekolah, tapi memiliki keinginan mengikuti pelatihan keterampilan dan kursus.

2. Memperluas manfaat Kartu Jakarta Sehat dalam bentuk Kartu Jakarta Sehat Plus, dengan menambahkan fasilitas khusus untuk para guru mengaji, pengajar Sekolah Minggu, penjaga rumah ibadah, khatib, penceramah, dan pemuka agama.

3. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan kejuruan dengan mengintegrasikan dunia usaha ke dalamnya, sehingga menghasilkan lulusan yang langsung terserap ke dunia kerja dan berwirausaha.

4. Memberi Kredit Usaha Perempuan Mandiri untuk memberdayakan perempuan di Jakarta.

5. Mengatasi kesenjangan ibu kota dengan menjadikan Kepulauan Seribu sebagai Kepulauan Pembangunan Mandiri dengan menyediakan infrastruktur, lapangan kerja, fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi segenap warganya, serta menjadikannya sebagai pusat inovasi konservasi ekologi.

6. Memperbaiki kesejahteraan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

7. Meningkatkan bantuan sosial untuk rumah ibadah, lembaga pendidikan keagamaan, lembaga sosial, Sekolah Minggu, dan Majelis Taklim berbasis asas proporsionalitas dan keadilan. (Suprapto)

Diambil dari Tribunnews

(suaraislam)