Yang Ingin BPIP Bubar adalah Pihak yang Tidak Setuju Adanya Pancasila. Ada yang Bisa Bantah?

Sebenarnya apa masalahnya dengan gaji Tim BPIP? BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila) dibayar 6 Milyar setahun? masalahnya dimana? Apalagi BPIP ini tugasnya soal pembinaan ideologi bangsa. 6 Milyar itu jika dibandingkan dengan bangsa yang berideologi, itu sangat-sangat kecil.

Apalagi tim BPIP itu bicara dalam lingkup negara, bukan perusahaan. Wong perusahaan saja bayarannya bisa lebih dari segitu, apalagi ini lingkup negara. Dan Tim BPIP itu bukan orang-orang sembarangan, bukan anak kemarin sore yang lagi butuh kerja, mereka adalah para pakar dan tokoh bangsa yang berpengalaman diberbagai bidang, mereka punya jutaan pengikut yang bisa menyebarkan ke masyarakat tentang kecintaan dan kesetiaan pada Pancasila.

Gaji Tim BPIP itu sama seperti uang kegiatan, Para tokoh itu tiap bulan mengeluarkan biaya lebih dari gaji mereka. Ke sana ke mari dengan rombongan, itu pasti tidak murah. Bayar orang-orang yang ikut, bayar transportasi, bayar ini itu dan sebagainya. Jadi sangat kecil jika dihitung dengan output mereka dalam upaya membina bangsa ini.

BPIP mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan arah kebijakan pembinaan ideologi Pancasila, melaksanakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pembinaan ideologi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan, dan melaksanakan penyusunan standardisasi pendidikan dan pelatihan, menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, serta memberikan rekomendasi berdasarkan hasil kajian terhadap kebijakan atau regulasi yang bertentangan dengan Pancasila kepada lembaga tinggi negara, kementerian/lembaga, pemerintahan daerah, organisasi sosial politik, dan komponen masyarakat lainnya.

Jadi sangat-sangat normal dan bahkan sangat kecil bila dibandingkan dengan fungsi mereka yang menjaga ideologi bangsa ini. Karena ini tugas yang sangat penting, mereka menguatkan fondasi bangsa ini. Terlalu murah gaji mereka jika dibandingkan dengan tugas mereka. Dan semua orang normal pasti berfikiran yang sama dengan saya.

Kalau begitu, kenapa jadi polemik hari ini?

Masalahnya adalah masalah politik. BPIP hanyalah sasaran antara bagi pihak seberang untuk menyerang Jokowi, mereka ingin menjatuhkan elektabilitas Jokowi. Ini masalah Pemilu bukan masalah BPIP. Kalau tidak sedang Pemilu, BPIP tidak akan dipermasalahkan, karena memang tidak perlu di permasalahkan.

Kelompok seberang sudah kehabisan akal untuk menyerang Jokowi, maka apapun akan mereka manfaatkan untuk bisa dijadikan isu. Bahkan saking frustasinya, soal kalajengking pun mereka olah. Ini sudah masuk pada fase frustasi, sehingga perlu penanganan yang baik agar tidak menjadi gila.

Lihat saja Tim anies-sandiaga di TGUPP, anggaran mereka setahun 28 Miliar. Ini tim lokal, tim daerah bukan negara. Biayanya jauh lebih besar dari Tim BPIP yang cuma 6 miliar. Bandingkan mengurus fondasi negara cuma 6 miliar yang berisi para tokoh pengalaman sedangkan mengurus Anies-sandi sampai 28 Miliar.

Kenapa mereka yang mempermasalahkan BPIP tidak mempermasalahkan TGUPP? jawabannya mudah, gak perlu ditutup-tutupi karena Anies-sandi adalah kelompok mereka. Jika Anies-sandi bukan kelompok mereka, sudah pasti dijadikan sasaran antara untuk menyerang Jokowi.

Masalahnya cuma ini aja kok. Walaupun sampai detik ini keberadaan TGUPP tidak terlihat karena banyak tindakan Anies-sandi yang masih lucu-lucu, tapi tidak di permasalahkan seperti BPIP. Jelas ya..

Tapi hati-hati.. ada pihak ke tiga yang memanfaatkan perdebatan ini, yaitu kaum radikal yang ideologi mereka sedang dibumihanguskan oleh Pemerintah sekarang ini. Mereka ingin BPIP ini dibubarkan agar supaya sosialisasi ideologi mereka ke masyarakat tidak terganggu dengan adanya filter dari BPIP. Nah.. kelompok ini yang patut diwaspadai, kelompok anti pancasila yang suka berlindung dibalik label agama dan nasionalis.

Jadi perhatikan saja, jika ada pihak yang ingin membubarkan BPIP, dapat dipastikan bagian dari kelompok radikal. Itu pasti.. karena hanya kelompok radikal yang tidak ingin ada pembinaan Pancasila.

Ada yang bisa bantah?

Teddy Gusnaidi

(teddygusnaidi.com/ suaraislam)