Hizbut Tahrir : Antara Radikalisme dan Terorisme

Hizbut Tahrir ( HT ) jelas memiliki arti global yang tidak bisa dibantah yaitu sebagai Partai ( Politik ) Pembebasan. Dalam laman resmi HT dan dalam beberapa buku-buku karangan Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani ( Pendiri HT ) yang juga telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan menjadi buku wajib anggota HT di berbagai negara, juga memberikan pengertian yang sama bahwa HT adalah Partai, bukan ormas, bukan yayasan, bukan sekedar komunitas pengajian, bukan koperasi, apalagi komunitas arisan !

HT adalah partai politik trans-nasional, memiliki cabang di berbagai negara ( sudah dibubarkan & dilarang di 20 negara, kalau di Indonesia masih dalam tahap pembubaran badan hukum ) dan memiliki agenda politik yang sama yaitu : menghancurkan sekat-sekat nasionalisme di setiap negara, dan mendirikan satu bentuk pemerintahan trans-nasional : Khilafah yang dipimpin seorang Khalifah.

Pemerintah Indonesia melalui Menkopolhukam dan BNPT ( Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ) pernah membuat statement keterkaitan HT Indonesia dan ISIS dan sejumlah aksi-aksi terorisme sebagaimana link dibawah ini, meski HT membantah mengakui tunduk pada Kekhalifahan Abu Bakar Al Baghdadi ( ISIS ) (dalam statemen resmi HT) namun di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa Bahrun Naim, teroris, merupakan ex anggota HTI ( lihat link dibawah )

Contoh lainnya, adalah Anjeem Choudary, ex-lawyer dan tokoh HT Inggris, telah didakwa dan dijatuhi hukuman 10 tahun oleh Pengadilan Inggris karena telah mendukung ISIS ( link dibawah ini ). Dan, Anjeem Choudary memiliki hubungan cukup dekat dengan fans boy Khilafah di Indonesia. Bahkan, Anjeem Choudary pernah menyerukan agar Indonesia juga menerapkan “syariat islam” secara menyeluruh ( Lihat link dibawah )

Antara Radikalisme Agama dan Terorisme :

kelompok radikal diantaranya memiliki benang merah yaitu dengan tujuan politik kekuasaan yang paling mutlak yaitu : anggapan bahwa sistem politik negara-bangsa, ideologi negara, adalah bukan bersumber dari ajaran agama, oleh karenanya harus digantikan oleh sistem yang mereka klaim merupakan bagian dari ajaran agama Islam, yaitu : khilafah ( Daulah Islamiyah ). Jika ada orang atau kelompok yang menyerukan bahwa Cinta Tanah Air tidak ada dalilnya, tidak ada hukumnya, bahkan menghukumi bahwa Cinta Tanah Air adalah kufur, maka hampir bisa dipastikan dari golongan siapa.

Pemikiran Tafkiri disebarluaskan, ditanamkan sebagai bagian dari pelaksanaan ajaran islam yang menyeluruh ( kaffah ). Benih pemikiran ini, berakibat pada sikap intoleransi dan segregasi berdasarkan ajaran agama, dengan indikator ujaran “Kufur ,”Kafir”, “Thogut”.

Jika doktrin pemikiran radikal ini dibiarkan disemai semakin luas, maka ini bukan lagi soal wacana, bukan lagi tahap pemikiran, bahkan berpotensi mendorong orang untuk melakukan suatu tindakan-aksi anti-kemanusiaan dan berlawanan dengan semangat ajaran agama : Terorisme.

Adaptif & Cerdik :

Mereka sungguh cerdik dan adaptif agar diterima dan mendapatkan simpatisan, anggota, bahkan die-hard followers. Mereka sangat sopan, bahasa santun, berbicara penuh simpatik, dan sangat menguasai psikologis “target” dan selalu mengatakan sebagai bagian dari dakwah. Target utama mereka adalah teman dari anggota, keluarga dari anggota, teman dari teman anggota,para tokoh-tokoh agama meyakinkan bahwa “dakwah” selalu akan menghadapi tantangan, perlawanan, dan cobaan dari orang-orang sekitar sebagaimana Rasulullah dulu ketika berdakwah adalah sebuah cara yang cukup manjur ! Bahkan, jika perlu bersarung dan berpeci dan lakukan tradisi-tradisi muslim agar mudah dianggap menjadi bagian dari kultur masyarakat muslim di Indonesia.

Cerdik ? ya sangat cerdik, misal, bagaimana mengenali anggota Hizbut Tahrir jika Kartu Anggota tidak ada. Lalu, bagaimana membedakan antara anggota dengan sekedar simpatisan ? Ya, mungkin hanya para pengurus-pengurus inti saja yang tahu. Sulit secara formal mengenali anggota atau bukan. Apakah ketiadaan kartu anggota sebuah ketidaksengajaan formal dalam organisasi partai politik yang mengusung Khilafah ini ?Embuh! Jika ada yang dibantah bukan anggota karena melakukan aksi terorisme, memang ada bukti formal keanggotaan, atau sebaliknya, apa buktinya pelaku terorisme itu bukan anggota ?

Coba bandingkan dengan ormas agama lain, misal NU & Muhammadiyah, dimana anggota bisa mengajukan kartu anggota sebagai bukti keanggotaan.

Silahkan masyarakat menilai sendiri, mengenali dengan cermat, kritis, dan cerdas ! Membedakan emas dan loyang, membedakan mana sebuah kebenaran agama, mana sebuah dalih-dalih agama. Semakin kita memahami agama kita masing-masing, semakin dalam, semakin mengetahui bahwa nilai-nilai kemanusian, nilai-nilai kebangsaan, ada di setiap agama.

Sumber :

https://news.detik.com/berita/3504252/wiranto-hti-memiliki-hubungan-dekat-isis

https://nasional.tempo.co/read/873351/hizbut-tahrir-indonesia-al-bagdzadi-hingga-bom-bali

http://www.independent.co.uk/voices/as-a-former-extremist-who-knew-anjem-choudary-i-fear-for-the-mentality-of-british-muslims-10445976.html

http://www.islamagainstextremism.com/articles/gznzdic-interesting-article-on-hizb-ut-tahrir-activists-omar-bakri-anjem-choudary-majid-nawaz-and-ed-husain.cfm

https://www.theguardian.com/uk-news/2016/aug/16/anjem-choudary-hate-preacher-spread-terror-uk-europe

https://www.arrahmah.com/mesej-untuk-ummat-islam-indonesia-oleh-syaikh-anjem-choudary/

https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2011/03/11/46923/syeikh-choudary-indonesia-harus-tegakkan-syariat-islam.html

http://www.dailymail.co.uk/news/article-4577686/Hizb-ut-Tahrir-claims-Melbourne-ISIS-attack-not-terrorism.html

Achmad Budi Prayoga, Direktur Advokasi dan Litigasi LBH GP Ansor

(HWMI.CyberTeam/suaraislam)