Mereka Hidup dalam Kebencian dan Fantasi Sorga

SA alias Abu Rara pelaku penusukan Menko Polhukam Wiranto dikenal sebagai sosok kurang bergaul dan pendiam. Abu Rara sempat bermukim lama di daerah Medan Deli, Kota Medan. Begitu juga dengan Fitri. Dia tidak ada perilaku aneh aneh. Orangnya pendiam dari kecil. Sejak tahun 2016 dia merantau ke Jakarta. Pernah bekerja sebagai baby sitter dan kerja di warteg.

Pulang kampung hanya setahun sekali. Kalau pulang juga di rumah saja. Tidak suka bergaul dengan banyak orang. Yang jelas, mereka berdua bukan kalangan menengah tapi kalangan bawah. Sepertinya mereka serigala yang kesepian dan hidup dalam fantasinya sendiri. Mengenggam benci bertaburkan fantasi hidup di sorga. Hebat orang yang provokasinya, yang mencuci otak mereka jadi pembunuh.

Memang banyak Agent dari jaringan teroris international mencari bibit pelaku aksi teror itu ke kampung kampung miskin. Mereka datang dengan wajah malaikat menawarkan suatu inspirasi akan suatu makna hidup yang lebih hanya sekedar makan dan bersenggama. Mereka juga menggugah dengan ayat dan hadith nabi untuk mengundang orang awam mentransformasi diri menjadi sesuatu yang bernilai apokalipse. Metafora keindahan sorga digambarkan tentang kemudahan mendapatkan kemelimpahan harta tanpa harus bekerja. Kenikmatan senggama dengan puluhan bidadari tanpa lelah walau berkali kali orgasme.

Bahkan calon teroris itu direkrut dengan suatu keyakinan bahwa perbuatan mereka adalah cara mudah mendapatkan sorga. Dan kematian yang sangat indah tanpa ada rasa sakit apapun. Darah meraka akan harum sampai hari kiamat. Roh mereka akan di usung oleh ribuan malaikat untuk diantar ke terminal sorga sampai hari pembalasan. Mereka akan ditempatkan di sorga sejajar dengan para ulama dan meraka yang gugur sebagai Suhada. Dan semua itu hanya satu jalan “Pemerintah yang tidak melaksanakan syariah Islam adalah thogut dan aparatnya adalah Kafir. Halal darah membunuh mereka semua”

Cara para Agent teroris international mendapatkan calon rekrutmen saat sekarang sangat mudah. Kalau dulu sebelum ada sosmed, mereka agak sulit berkembang. Tapi sejak ada sosmed, cara mereka makin Mudah. Misal, dari pengakuan wanita yang di rekrut pengantin baru untuk melakukan aksi bom bunuh diri, dia mengenal orang yang merekrutnya dari Facebook dan kemudian berlanjut japri. Polisi telah menemukan HP di rumah pelaku aksi bom bunuh diri kampung Melayu. Tentu tujuan polisi adalah mendapatkan nama nama orang yang melakukan japri dengannya dan juga nama grup sosmed yang dikutinya.

Bagaimana dengan kita? Mari kita perkuat kebersamaan. Semangat gotong royong diperkuat lagi. Kalau ada tetangga yang miskin, bantu mereka dengan memberi mereka jalan mengatasi masalahnya. Hindarkan keluarga, anak, teman, saudara dari pengaruh jaringan radikalisme.

Jaringan teroris itu sangat canggih operasinya. Mereka tampil seperti orang soleh dan akrab dengan ormas yang punya agenda berseberangan dengan Pemerintah. Ingat bahaya pengaruh radikalisme lebih buruk dari bahaya narkoba. Sekali kaluarga atau teman Anda terjebak dalam lingkaran radikalisme maka Anda akan kehilangan mereka.

Hanya masalah waktu Anda akan didatangi polisi untuk mengenali sepotong kepala yang masih tersisa dari serpihan tubuh yang ada..

Sumber: FB Erizeli Jely Bandaro

(suaraislam)