Di Hari Tasu’a, Bubur Asyura Khas Menara Kudus Dibagikan ke Warga

PEZIARAN MEMBELUDAK: Menjelang puncak acara pemasangan luwur makam Sunan Kudus ribuan peziarah tampak memadati kawasan Menara Kudus kemarin. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Ratusan porsi bubur asyuro khas Menara Kudus dibagikan hari ini. Selain nasi jangkrik yang dibagikan pada saat prosesi puncak acara Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus, makanan ini juga menjadi sajian khas yang dinantikan masyarakat. Sebab, bubur ini tidak diperjualbelikan.

Bubur Asyuro memiliki rasa dan komposisi yang khas. Komposisi utamanya terdiri dari beras, kelapa, singkong, ubi, kacang tolo, kedelai, kacang tanah, jagung, kacang hijau dan pisang. Bahan-bahan ini kemudian dimasak dalam kawah kuningan berukuran besar. Sedangkan untuk bumbunya menggunakan resep bumbu gula yang diwariskan secara turun temurun.

Salah satu koordinator perewang bubur asyuro Yulistiyani mengatakan, proses memasak bubur asyuro dilakukan sebanyak tiga kali. Di mulai dari subuh sekitar pukul 03.00, pagi dan siang hari. Selang waktunya menyesuaikan dengan lamanya waktu memasak. Untuk sekali masak membutuhkan waktu sekitar empat jam.

BUBUR ASYURO: Siang ini bubur asyuro dimasak oleh ibu-ibu dan akan dibagikan kepada masyarakat desa sekitar Menara Kudus.
BUBUR ASYURO: Siang ini bubur asyuro dimasak oleh ibu-ibu dan akan dibagikan kepada masyarakat desa sekitar Menara Kudus. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)
”Total ada enam kawah. Lima kawah nanti untuk dibagikan, satu kawah untuk suguhan berjanjen,” katanya.

Satu kawah besar yang digunakan untuk memasak bubur ini bisa untuk 150 porsi bubur yang disajikan dalam samir. Bubur yang disajikan dalam samir ini, nantinya dibagikan kepada warga sekitar. Sementara yang disajikan dalam takir untuk suguhan ngaji berjanjen, satu kawah bisa sekitar 230 porsi. ”Tahun kemarin untuk hantaran ada 650 porsi,” kata Humas Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus 1441 H Wildan Hakiki.

Dalam penyajiannya, bubur asyuro ini diberikan sembilan toping. Meliputi cabe merah, jeruk Bali, tempe, tahu, teri, tauge, daging pentul, udang, dan dadar. Aneka toping ini semakin melengkapi kenikmatan seporsi bubur asyuro ini.

”Masak bubur asyuro dan nasi jangkrik mulai besok (hari ini, Red) semua. Khusus yang perewang bubur ada 30 orang,” katanya.

Sementara itu rangkaian acara buka luwur Kanjeng Sunan Kudus ini akan berlanjut hingga 10 September 2019 mendatang. Selain pembagian bubur asyuro, pembacaan qasidah al-barzanji dan pengajian umum yang dilakukan hari ini, juga akan digelar pembagian berkat salinan dan berkat umum serta upacara buka luwur. Sementara itu, sebelumnya juga telah dilakukan prosesi jamas pusaka, pelepasan luwur, munadharah mas’il diniyyah, doa rasul dan terbangan, khatmil quran bil ghaib, dan santunan anak yatim.

Sementara di luar kompleks makam, rombongan peziarah juga tampak membanjiri masjid dan kompleks Menara Kudus. Mengatisipasi adanya tumpukan peziarah di dalam makam, panitia Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus 1441 H memberlakukan buka tutup pintu.

”Weekend ini bisa dikatakan puncak lonjakan peziarah. Kami atur lalu lintasnya biar tetap kondusif,” kata Humas Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus 1441 H Wildan Hakiki.

Salah satu peziarah dari Magelang Ari mengatakan, dia bersama rombongan satu bus sengaja berziarah ke makam Sunan Kudus pada saat acara buka luwur. Selain diyakini bisa mendapatkan berkah dari Mbah Sunan, dia dan rombongan juga ingin melihat makam tanpa luwur. ”Cuma ziarah ke sini saja,” katanya saat ditemui di sela-sela antrean masuk ke makam siang kemarin.

Tak hanya peziarah yang datang dari luar daerah saja. Ribuan masyarakat dan pelajar di Kudus juga tak mau ketinggalan. Dalam catatatan panitia pelajar dari madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) sendiri ada sekitar 3.500 siswa yang mengagendakan berziaran ke makam Sunan Kudus kemarin. Dengan rincian 500 orang dari MI, 1.500 orang dari Mts dan 1.500 orang dari MA.

Banjirnya peziarah ini diakui sedikit berdampak bagi proses pembuatan luwur. Pada tahun-tahun sebelumnya di hari ketiga pembuatan dan pemasangan luwur bisa mencapai target sekitar 75 persen. Kemarin, perewang seksi luwur baru bisa menyelesaikan sekitar 65 persen saja.

”Kami tetep optimistis bisa selesaikan besok (hari ini, Red),” kata koordinator seksi luwur Fachal ‘Anami Farodis saat ditemui di Tajug Menara Kudus.

Proses pembuatan luwur baru untuk makam Sunan Kudus sendiri dijadwalkan selama empat hari. Mulai 6-9 September 2019. Sebanyak tiga puluh tiga perewang memulai pekerjaannya dari pukul 07.30 – 16.00. Mereka terbagi dalam enam tim. Lima tim bertugas membuat lima jenis luwur. Diantaranya melati, unthuk banyu, kompol, wiru, langitan dan vitrage atau penutup ranjam. Dan satu tim lainnya bertugas di bagian pelepasan dan pemasangan luwur.

”Kompol, wiru, unthuk banyu dan melati sudah mulai dibuat pada hari pertama. Hari ini kami tambah buat langitan. Untuk ranjam dibuat besok (hari ini, Red),” kata Fachal.

Terkait pemasangan luwur, diakuinya untuk cungkup bagian timur, utara dan barat sudah selesai. Kemarin sudah mulai pasang di paseban makam Sunan Kudus. Di paseban jenis luwur yang digunakan yakni unthuk banyu dan wiru.

”Kiswahnya masih dijahit. Besok (hari ini, Red) dipasang bersama dengan vitrage dan tenger (penutup batu nisan, Red). Pemasangan ini kami nunggu perintah dari juru kunci,” imbuhnya.

(republika/suaraislam)