Hak Kebebasan Beragama di Indonesia Terancam

Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajian, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali’ begitu bunyi UUD 1945 pasal 28E ayat 1.

Pagi tadi saya mendapat kabar bahwa ada sebuah tempat bimbingan belajar (bimbel) yang disegel oleh pemerintah desa karena dianggap dapat menyebabkan konflik. Bimbel yang terletak di suatu desa di Jawa Barat ini menurut informasi yang saya dapatkan adalah milik orang beragama Kristen. Dalam coretan di tembok depan gedung bimbel juga tertulis bahwa bimbel tersebut milik orang Kristen. Saya berharap penyegelannya terjadi bukan lantaran masalah agama. Tetapi jika penyebabnya adalah sentimen agama, tentu ini akan berdampak buruk kepada kebebasan berdemokrasi kita.

Diluar konteks informasi itu, sering saya diliputi rasa heran. Sebenarnya ada apa dengan bangsa kita ini? Saya rasa makin hari, hak asasi warga negara Indonesia semakin diabaikan. Saya ambil contoh kasus yang paling mudah dan paling sering terjadi, adalah kebebasan dalam beragama dan beribadah sesuai tuntunan agama masing-masing.

Indonesia adalah negara multikultural yang mana berbagai agama, adat, budaya, bahasa dan yang lainnya, hidup bersama-sama dalam satu masyarakat. Walau sejatinya Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang didominasi oleh pemeluk agama Islam, namun tidak kemudian meniadakan pemeluk agama lainnya yang ada di Indonesia.

Jika diperhatikan belakangan ini, isu agama sangat mudah menjadi alasan anak bangsa saling bermusuhan. Hanya karena berbeda agama, orang merasa risih, tidak mau berinteraksi dan bersosialisasi. Atau bahkan karena merasa menjadi mayoritas, kemudian bertindak diskriminatif kepada minoritas. Itu tidak dibenarkan. Dalam dasar hukum negara kita, yakni Pasal 28J ayat (1) UUD 1945 diatur bahwa ‘setiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain’. Oleh karenanya berlaku diskriminatif atau intoleran kepada pemeluk agama lain, sangat TIDAK DIBENARKAN oleh negara.

Dalam Islam pun kita ada namanya Ukhuwah Insaniyah dan Ukhuwah Wathoniyah. Yaitu persaudaraan sesama manusia dan sesama warga negara. Ali bin Abi Tholib RA dawuh, “Mereka yang bukan saudaramu dalam Iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”.

Kebebasan memeluk agama dan beribadah sebagaimana yang dicantumkan di dalam pasal UUD 1945, kini banyak dilupakan. Tempat peribadatan agama lain yang tak sama dengan agama yang dianut sebuah oknum yang merasa paling berhak dan berkuasa atas suatu wilayah, maka mereka akan dengan mudah berlaku diskriminatif. Membubarkan acara-acara yang dianggap tidak satu paham, aliran atau kepercayaan, tidak memperbolehkan berdirinya tempat peribadatan atau bahkan tempat belajar hanya karena berbeda dalam keyakinan. Itu hal yang SANGAT MEMALUKAN. Sedangkan sebagian dari oknum tersebut berani berbuat onar di kalangan masyarakat karena mengaku berhak atas perlakuan tersebut. Sungguh miris!

Sedih lagi bila saya mendengar keluh kesah kawan lintas agama yang ada di luar sana. Sering kali mereka merasa canggung untuk menyapa saudaranya yang berbeda keyakinan dan jumlahnya lebih banyak. Semua itu mereka timbun dalam-dalam, tak mampu untuk diungkapkan. Sebagai pelajar dan generasi muda Indonesia, saya wajib untuk kritis terhadap keadaan.

Terlebih lagi jika ada suatu insiden intimidasi terjadi kepada mereka, beberapa dari mereka berkeluh, “Kami ‘orang asing’ disini. Kami bukan dari golongan kalian, jadi kami pantas untuk menerima perlakuan seperti itu. Hanya Tuhan yang berhak membalas. Kami hanya manusia berlumur dosa, kami tak berhak menyakiti atau membalas perlakuan kalian kemada kami. Namun semua itu sudah kami maafkan,” sedih kali hati ini membacanya.

Aku membayangkan jika yang mayoritas itu hidup di negara lain dan disana hanya minoritas saja. Kemudian mendapat perlakuan yang sama dengan apa yang mereka lakukan di negaranya sendiri. Apa yang akan terjadi? Sakit hati, itu pasti. Namun hendak berbuat apa lagi? Suara-suara keadilan itu kini mulai menyurut. Adakah orang bijak yang hendak menggaungkannya lagi?

R.I.P.
Hak Warga Negara Indonesia

Borobudur, 10 Oktober 2018

Vinanda Febriani
Siswi kelas XII MA Ma’arif Borobudur
Pecinta keberagaman
Warganet Magelang Raya

Diambil dari FB Vinanda Febriani

(suaraislam)