Gusdurian: Pilihlah Pemimpin Berdasarkan Program dan Track Record, Bukan atas Agama dan Suku

Alissa Wahid, Koordinator Jaringan Gusdurian Nasional, memberikan materi dan pembekalan pada regional meeting dan jambore Gusdurian Jawa Timur 2018 (foto : Superradio/Srilambang)

Penggunaan sentiment SARA sebagai alat kepentingan politik kekuasaan, diskriminasi minoritas, serta berbagai persoalan bangsa yang sedang terjadi akhir-akhir ini, menjadi bahasan dalam pertemuan regional dan jambore Gusdurian Jawa Timur, di Pura Segara, Kenjeran, Surabaya, Sabtu-Minggu 14-15 April 2018.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Imam Aziz, hadir sebagai salah satu pembicara pada hari pertama pertemuan, yang memberikan wawasan dan prinsip-prinsip yang diajarkan Gus Dur kepada para Gusdurian dari wilayah Jawa Timur.

Persoalan kebangsaan, termasuk di dalamnya maraknya aksi diskriminasi, intoleransi hingga radikalisme berlatarbelakang agama, menjadi sorotan pertemuan ini. KH Imam Aziz mengajak masyarakat semakin bijak dalam menyikapi berbagai isu terkait SARA, mendekati tahun politik Pilkada 2018 dan Pilpres serta Pileg 2019.

“Ini kan program politik regular ya, biasakan kita melakukan kegiatan politik ini dengan biasa-biasa saja, lebih pada menonjolkan program-program dari pada isu-isu agama, kesukuan dan lain-lain, karena ini menyangkut program,” kata KH Imam Aziz.

Isu agama, suku, ras, dan berbagai perbedaan di Indonesia, banyak digunakan untuk kepentingan politik meraih kekuasaan. Imam Aziz mengajak masyarakat cerdas memilih pemimpin yang mengedepankan program, track record yang baik, hingga komitmennya menyejahterakan masyarakat, dan bukan atas dasar agama atau suku.

“Jadi lihat programnya, jangan lihat pada agama atau sukunya. Kita harus semakin hari semakin pintar, semakin cerdas dalam memilih,” kata Imam Aziz.

Peningkatan suhu politik akhir-akhir ini banyak dipicu oleh isu agama dan rasial, yang dimunculkan sejumlah elit politik. Koordinator Jaringan Gusdurian Nasional, Alissa Wahid menyerukan agar para politisi tidak bermain isu perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia untuk mendapatkan kekuasaan, seperti sentiment agama, kesukuan atau ras, serta golongan masyarakat yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

“Jadi yang kita harapkan tentu saja para politisi untuk punya etika moral, sehingga mereka tidak menggunakan sentimen-sentimen yang akan melukai jangka panjangnya bangsa ini, hanya untuk kepentingan lima tahunan. Jangan sampai yang lima tahun itu melukai bangsa Indonesia sampai seumur hayatnya,” kata Alissa Wahid.

Alissa Wahid, yang merupakan puteri Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, mengatakan, perbedaan yang ada di negara Indonesia adalah keniscayaan, yang itu dapat dijadikan bahan bakar yang mudah terbakar atau meledek bila dipakai untuk meraih kekuasaan.

“Kita tahu sentimen antar kelompok pada dasarnya sesuatu yang sangat alamiah, tetapi itu akan menjadi bahan bakar yang sangat mudah meledak, ketika dikaitkan dengan perebutan kekuasaan. Bahwa perbedaan sikap, perbedaan keyakinan itu hal yang lumrah dan tidak akan menjadi persoalan, kecuali kalau ada perebutan kekuasaan,” papar Alissa.

Pernyataan politisi Amien Rais terkait pengelompokan partai allah dan partai setan, menurut Alissa, tidak sepantasnya diucapkan oleh politisi senior Amien Rais, yang seharusnya menjadi pengayom semua golongan. Pernyataan Amien Rais itu sudah mengkhawatirkan dan dapat mengganggu persatuan bangsa Indonesia.

“Bagi saya mengkhawatirkan, karena tokoh sekaliber pak Amien Rais tentu kita berharap beliau bisa mengayomi seluruh rakyat, justru tidak kemudian membuat sekat-sekat yang semakin mempertegas itu,” kata Alissa.

Pernyataan Amien Rais itu, lanjut Alissa, juga dapat menjadi cerminan yang terjadi di tengah masyarakat saat ini, dimana sikap bermusuhan, prasangka, serta kebencian kepada kelompok yang berbeda sedang dijadikan alat untuk mendapatkan kekuasaan dan kepentingan politik. Alissa mengajak Gusdurian menjadi agen perubahan yang membawa masyarakat pada penyadaran mengenai pentingnya kebersamaan meski berbeda-beda.

“Sikap beliau itu juga refleksi apa yang terjadi di masyarakat. Ini yang kita harus berkompetisi dengan kondisi Indonesia yang seperti sekarang ini. Jadi mereka-mereka yang menginginkan Indonesia tetap berada pada nilai atau nafas keberagaman dalam persatuan, sekarang juga harus bekerja ekstra kuat,” tandas Alissa.

(http://www.superradio.id/ suaraislam)