Gus Dur, Intoleransi dan Imlek

Sosok Presiden Republik Indonesia keempat ini begitu sangat saya hormati, kagumi, dan saya teladani sikap nya yang menjunjung tinggi nilai dan norma kebaikan toleransi.

Ketika menjabat sebagai Presiden, salah satu kebijakan Gus Dur yang hingga kini masih berlangsung adalah keputusan untuk mengijinkan perayaan hari raya imlek bagi etnis Tionghoa dan menjadikan imlek sabagai hari libur nasional.

Selain itu, Gus Dur juga menambah jumlah agama yang diakui di Indonesia menjadi enam agama dengan mengakui keberadaan penganut agama Kong Hu Chu, kendati jumlah penganut agama ini sangat minoritas di Indonesia.

Di mata saya, Gus Dur merupakan sosok Kyai, ulama besar dan negarawan yang hebat, karena beliau mendukung dan menyuarakan adanya keberagaman sebagai suatu keniscayaan dan menghindari adanya perpecahan.

Gus Dur sangat menginginkan jika agama menjadi perekat dalam kehidupan bernegara bukan justru dipolitisasi menjadi alat pemecah belah.

Nilai, ajaran dan warisan itulah yang saya pegang teguh hingga kini untuk menjadi manusia yang toleran serta menghormati yang berbeda iman dengan saya.

Bagi saya, Toleransi itu ketika saya (Muslim) minum kopi dan kamu (Non Muslim) memilih teh. Lalu kita menikmati bersama dalam satu meja tanpa ada sekat namun tetap berbatas.

Walaupun keyakinan dan agama kita tidak sama, bukan berarti kita berlainan dan berbeda.

Konsep lakum dinukum waliyadin yang Allah SWT turunkan lewat Al-Qur’an sesungguhnya adalah Toleransi yang universal.

Biarlah engkau bersama dengan keyakinanmu dan kita masih tetap bisa beriring berjalan tanpa harus ada dinding penghalang. Karena kita adalah saudara sebangsa.

Dan kita tidak harus ribut hanya karena perbedaan agama, yang membuat aqidah mudah tercabut.

Saya mengucapkan selamat merayakan tahun baru Imlek 2570.

Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan rahmat, kesehatan, rejeki melimpah dan berkat nya untuk anda dan keluarga.

Rayakan Imlek dengan penuh suka cita, rasa syukur dan kebahagiaan.

Dalam keragaman ada adat istiadat, agama, dan budaya sebagai kekayaan bangsa. itulah makna dan hakikat dari Bhinneka Tunggal Ika karena kita saudara sebangsa dan tanah air dalam bingkai NKRI.

Salam kedamaian penuh berkah dan salam toleransi penuh kasih.

GONG XI FAT CHAI

Sumber : Status Facebook Aldira Maharani

(redaksiindonesia/suaraislam)