Gus Dur dan Perkataan “Khoirul Umur Ausathuha”

Gus Dur menyebut begini:

Yang Terbaik Berada di Tengah. Judul diatas diilhami oleh jargon populer: “Sebaik-baik persoalan adalah yang berada di tengah (khairul umûr ausâthuha).”

Islamku Islam Anda Islam Kita, hlm. 116

Apa yang dikutip Gus Dur tentang “khairul umûr ausâthuha” terdapat dalam riwayat hadits, yang dibahas di antaranya oleh al-Hafizh as-Sakhowi dalam kitab al-Maqosidhul Hasanah, pada No. 455 (hlm. 231-232); juga pada karangan al-Ajluni dalam Kasyful Khofa, I:442), dan beberapa kitab lain. Al-Hafizh as-Sakhowi menyebutkan riwayat khairul umûr ausâthuha begini:

1. As-Sam`ani meriwayatkan dalam Dzailu Tarikhi Baghdad dengan sanad majhul, dari Imam Ali secara marfu’.

2. Ibnu Jarir dalam at-Tafsir menyebutkan riwayat ini dari qoulnya Mathraf bin `Abdullah dan Yazid bin Murrah al-Ja’fi, demikian pula al-Hafizh al-Baihaqi mengeluarkan riwayat itu dari Mathraf.

3. Ad-Dailami mengeluarkan hadits itu dengan tanpa sanad dari Ibnu Abbas dengan redaksi “khoirul A’mal Ausathuha” di dalam hadits awalnya ada perkataan “dawwimu `ala ada’il faro’id.”

4. Al-Asykari dari jalan Mu’awiyah bin Sholih menyebutkan bahwa al-Auzai berkata tentang substansi riwayat di atas: “Apa saja dari persoalan yang Alloh memeritahkannya, kecuali (selalau) ada penentangnya dari syaithon di dalamnya, la yubali ayyuhuma ashabal ghuluw wat at-taqshir.”

5. Abu Ya’la dengan sanad yang rijalnya tsiqat menyebutkan perkataan Wahab bin Munabbih: “Sesungguhnya di dalam sesuatu itu ada dua ujung dan pertengahan, apabila berpegang pada salah satu dua ujung condonglah ia ke yang lain, dan apabila dia berpegang pada al-wasath, adillah di dalam dua ujung, fa`alaikum bil ausath minal asya’ (maka berpeganglah pada yang ausath-pertengahan dari perkara-perkara yang ada).”

6. Dan ada ayat-ayat yang menjadi penguat substansi riwayat itu: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal (QS al-Isro’ [17]: 29), pertengahan antara kikir dan boros; “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS al-Furqon [25]ayat 67; dan “Dia mempunyai al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu (QS. al-Isro’ [17]: 110).

Riwayat tentang “khairul umûr ausâthuha”, atau sikap wasath, disebut-sebut Al-Qur’an sehingga menjadi karakter Islam Wasathiyah sebagai umat wasath, yaitu: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umatan wasathan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. Al-Baqoroh [2]: 143).

Sedangkan ayat-ayat lain menyebut kata “ausathi ma tuth`imun” (dari makanan terbaik yang biasa kalian makan) dalam QS. Al-Ma’idah [5]: 89); dengan redaksi “qola ausathuhum” (orang yang paling baik perkataannya di antara mereka) dalam QS. Al-Qolam [68]: 28; dengan redaksi “fawasathna bihi jaman (maka dia menyerbu ke tengah-tengah musuh) dalam QS Al-Adhiyat [100]: 5; dan dengan redaksi “wash sholawatil wustho” (dan sholat pertengahan, dimaknai ashar dan mengerjakan sholat dengan sbeaik-baiknya) dalam QS. Al-Baqoroh [2]: 238.

Kata “ummatan wasathon” dalam QS. Al-Baqoroh [2]: 143, menurut Imam al-Mawardhi dalam An-Nukat Wal Uyun Tafsirul Mawardhi (I: 198-199), menyebutkan ada tiga ta’wil tentang itu:

1. Bermakna “khiyaron”, pilihan terbaik seperti perkataan “fulanun wasthu hasabi qoumihi” (Fulan itu adalah pilihan terbaik dari qoumnya).

2. Wasath berasal dari tawasuth di dalam al-umur.

3. Wasath bermakna adil, karena adil itu pertengahan antara penambahan dan pengurangan, dan makna ini dipilih Abu Said al-Khudhri, Abu Hurairah, dan Ibnu Abbas, dari Nabi Muhammad yang menyebut arti wasat itu adalah adil.

Oleh karena itu, dalam hubungan publik yang di dalamnya terdapat banyak kelompok, pilihan terbaik melalui musyawarah untuk menetapkan aturan bersama, dianggap sebagai wasath, dan orang yang menempuh demikian menempuh jalan wasath, atau mengimplementaiskan nilai-nilai wasathiyah. Demikian pula, seorang pemimpin yang dipilih oleh masyarakat muslim di sebuah negara, melalui mekanisme yang disepakati mereka dan para ulamanya, adalah “pemimpin yang wasath”, pemimpin yang terbaik dari masyarakatnya, meskipun mungkin tidak terbaik di antara yang terbaik. Oleh karena itu, jalan wasathiyah dalam soal ini berhubungan dengan keharusan taat kepada umaro, dan mengoreksi seperlunya bila melenceng. Orang yang menempuh jalan itu, berarti orang yang menempuh jalan wasathiyah, sebagai nilai yang garsikan oleh Al-Qur’an untuk dipilih.

Jalan dan sikap wasath dalam setiap umur bagi seorang muslim, kemudian memperoleh penjelasan yang baik di kalangan Ahlussunnah Waljamaah, dan menjadikan tawasuth sebagai salah satu karakter Islam yang diperjuangkannya. Imam Ahlussunnah Waljamaah, Imam Abu Hasan al-Asyari, misdalnya merintis jalan ini dalam i’tiqod, begini: adanya usaha (al-kasbu) adalah jalan pertengahan antara berpangku tangan (Jabbariyah) dan semua perbuatan diciptakan manusia (Mu’tazilah); penggunaan naqal dan aqal sekaligus merupakan pertengahan dari mereka yang hanya berpijak pada aqal atau naqal saja; Alloh memiliki sifat, tetapi sifat-Nya tidak sama dengan manusia atau makhluk, adalah pertengahan dari mereka yang menyebutkan Alloh tidak punya sifat (Mu’tazilah) dan mereka yang menyebutkan sifat-Nya sama dengan makhluk (Mujassimah); dan masih banyak lagi pandangan tawasuth, yang di antaranya disebutkan dalam riwayat qoul Imam Abu Hasan al-Asyari dari riwayat Ibnu Asyakir pada kitab Tabyinu Kidzbil Muftari fima Nusiba ilal Imam Abil Hasan al-Asyari (versi Mathba`ah Taufiq, 1347, hlm. 148-165).

Gus Dur mengutip riwayat “khairul umûr ausâthuha” dalam konteks menjelaskan anggapan sikap hidup independen dan jalan tengah yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, di antara berbagai peradaban yang ada. Gus Dur tidak menolak secara keseluruhannya dari substansi sikal hidup jalan tengah karena itu memang yang diperjuangkannya, tetapi harus melihat ini melalui kacamata sejarah yang kritis, apabila dihubungkan dengan sikap kritis bangsa di nusantara.

Gus Dur menyebutkan:

“Mr. Muhammad Yamin, umpamanya mengangap kerajaan Majapahit memiliki angkatan laut yang kuat dan menguasai kawasan antara Pulau Madagaskar di lautan Hindia/Samudra Indonesia di Barat dan Pulau Tahiti di tengah-tengah Lautan Pasifik, dengan benderanya yang terkenal Merah Putih. Padahal, angkatan laut kerajaan Majapahit hanyalah fatsal (pengikut) belaka dari Angkatan Laut Tiongkok yang menguasai kawasan perairan tersebut selama berabad-abad. Kita tentu tidak senang dengan klaim sejarah tersebut karena mengartikan kita lemah di hadapan Tiongkok. Tetapi kenyataan sejarah berbunyi lain, Australia, misalnya, yang menjadi dominion Inggris, secara hukum dan tata negara, memiliki indenpendensi sendiri terlepas dari negara induk” (Islamku, hlm. 116-117).

Hal ini memberi pengertian bahwa Gus Dur justru menyetujui dan mempromosikan sikap jalan tengah ini, tetapi dalam menjelaskan sejarah bangsa kita, sikap indepenen dan jalan tengah itu, bisa saja terjadi meskipun kita berada dalam cengkeraman kekuatan-kekuatan dunia yang menjadikan bangsa Indonesia sebagai fasal. Hal ini juga memberikan arti, bahwa untuk bersikap independen dan jalan tengah, tidak berarti harus anti asing sekali. Gus Dur lebih memilih untuk, dalam keadaan-kadaan tertentu, bahkan ketika ada dalam hubungan dengan negara-negara yang besar, independensi itu tetap bisa dilakukan, tetapi bukan bermakna anti negara-negara itu. Bagi Gus Dur, akhirnya memilih yang terbaik dalam keadaan dan kondisi-kondisi yang melingkupinya, merupakan juga bagian dari sikap independen dan jalan tengah.

Termasuk pada bagian ini, adalah kita tidak bisa menghindar adanya ide negara teokrasi dan negara sekular (yang Kapitalis atau Sosialis), tetap jalan independen dan jalan tengah, justru yang dipilih bangsa Indonesia, dengan tidak apriori tehadap keduanya:

“Nah, kita menolak teokrasi (negara agama) dan sekularisme, dengan mengajukan alternatif ketiga berupa Pancasila. Kompromi politik yang dikembangkan kemudian (dan sampai sekarang belum juga berhasil) sebagai ideologi bangsa, menolak dominasi agama maupun kekuasaan anti agama dalam kehidupan bernegara” (Islamku, hlm. 118).

Yang ditolak Gus Dur adalah dominasi yang berlebihan, bukan anti, sehingga bangsa Indonesia menerima Ketuhanan yang Maha Esa, dan pada saat yang sama juga menerima kemanusian, keadilan sosial, kerakyatan dan persatuan Indonesia yang banyak diacu Negara sekular. Sikap seperti ini, adalah sikap tawasuth dalam pengertian “khiyaron”, dapat memilih yang terbaik, dan menempuh jalan seperti ini, berarti juga sebagai bagian dari upaya mengimplementasikan nilai-nilai Islam Wasathiyah yang menjadi ciri khas umat wasath, sebagaimana direkomendasikan Al-Qur’an. Wallohu a’lam wal Musta`an.

Sumber: FB Nur Kholik Ridwan

(suaraislam)