Grudak-Gruduk

Amien Rais dipanggil ke kantor Polda Jakarta Raya untuk ditanya sebagai saksi. Tapi ia sudah memposisikan diri sebagai “korban”.

Maka ia pun datang dengan sepasukan pengiring, dengan disertai pidato (tentang “khalifah”, kabarnya), dan Din Syamsudin cepat-cepat anggap perlakukan Polri terhadap Amien tak sepantasnya.

Amien bahkan mengancam ia akan membongkar kasus korupsi yang sudah lama terpendam.

Setelah Amien masuk dan ditemui petugas, ia kembali ke luar dalam keadaan utuh. Dan agaknya bahagia. Ia merasa di-“mulia”-kan petugas Polri.

Dan ia tak membongkar apapun. Ia datang hanya membawa Koran Tempo.

Mengapa drama dan ketegangan perlu dibangun?
Kemungkinan pertama: Amien merasa bersalah dan perlu melindungi dirinya secara ekstra. Kemungkinan kedua: sudah curiga dan buruk sangka lebih dahulu.

Curiga dan buruk sangka inilah yang ia dan kawan-kawannya kembangkan dalam percaturan politik Indonesia kini. Tak mengherankan bila ia pernah membagi kekuatan politik di Indonesia jadi dua, Partai Tuhan dan Partai Setan. Tak mengherankan pula bila ia dan anaknya dan kawan-kawannya, termasuk Fadlizon dan Prabowo Subianto, dengan langsung percaya — dan ingin agar masyarakat percaya —dongeng “penganiayaan” Ratna Sarumpaet.

Semoga Tuhan melindungi Indonesia.

FB: Goenawan Muhammad

(suaraislam)