Filsuf Fiktif dan Pembela Agama Fiktif

Kitab suci, termasuk al Quran bukanlah kitab sejarah, sehingga memasukkannya dalam perdebatan fiksi atau tidak sama dengan menarik kitab suci dalam konstruk pemikiran bahwa kitab suci sebagai kitab sejarah bukan wahyu sebagai basis keyakinan. Dua pandangan ini sulit bertemu. Yang satu memasukkannya ke ruang logika yang harus berfakta, yang satu ke ruang “iman” yang serba interpretatif. Di sinilah titik lemah dari Rocky Gerung sebagai pemikir/pengajar filsafat, bukan sebagai Filsuf ya. Filsuf memiliki karya buku monumental, sedangkan RG tidak. Tak banyak pemikiran2 filsafatnya baik di buku atau jurnal. Ia besar dari diskusi lisan dan tentu saja lLC TV One.

Perdebatan semakin tidak menarik ketika RG bermain-main kata fiksi vs fiktif. Hampir semua filsuf dalam sejarah adalah ahli bahasa, kekuatan mereka ada pada teks dan nalar, entah RG. Dalam Bahasa lnggris, ada 3 kata, yaitu fiction (noun), fictional (adj), fictitious (adj), semuanya sama merujuk pada khayalan atau yang dibuat-buat. RG bermain-main kata dengan simplifikasi sporadis bahwa fiktif buruk, fiksi bisa bagus. Benarkah? Tidak, bahkan dampak meaning kata benda lebih jauh daripada kata sifat.

Contoh
1.You are mistaken = Anda keliru (kata sifat)
2.You are a mistake = Anda adalah sebuah kesalahan (kata benda), selamanya salah. Kata benda lebih buruk.
1. You are sinful = Anda berdosa (kata sifat)
Tak mungkin kita katakan
2. You are sin = Anda adalah sebuah dosa itu sendiri (kata benda). Yg ke-2 lebih parah dampaknya.

Jadi, kalimat ” Kitab suci adalah fiksi” (kata benda) lebih berbahaya daripada kata sifat dalam “Kitab suci adalah fiktif”.

Lalu apakah kita mesti membawanya ke ranah hukum? tidak!. Semuanya memiliki kebenaran yg relatif subjektif dengan argumen masing-masing. Adili lah pemikiran dengan pemikiran. Sejauh tak terkait sara dan kebencian, mengadili hasil sebuah pemikiran dengan hukum/kekuasaan adalah kemunduran peradaban. Meski saya tidak sependapat dengan RG, saya tetap mengapresiasi hasil pemikiran dan keberaniannya membuka wacana sensitif ini di public sphere. Apalagi, berkat polemik ini sangat kelihatan sekali antara siapa yg benar-benar tulus bela agama dan golongan unyu2 yg hanya penggembira bela agama alias penggemar tahu bulat hoax yang digoyeng-goyeng dadakan.

Mahbub Hefdzil Akbar (Cak Tengtong)

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10215904948834961&id=1183638720

(suaraislam)