Felix Siauw “Ustad HTI” Penuh Kontroversi, tapi Tak Ada Prestasi

Felix Siauw (Google Image)

Mencermati tulisan dari Felix Siauw memang terkadang membuat kita miris sekaligus tertawa, kenapa ?

Karena secara tidak sadar.

Para Pembaca (followersnya) yang awam tentang agama sebenarnya sedang digiring kearah opini yang hanya berdasarkan kemampuan dia dalam memahami ajaran agama.

Dimana faktanya tidaklah sama dengan pemikiran dan pendapat kebanyakan para kyai yang telah lebih dulu ada.

Contohnya adalah pemahaman dia tentang aksi bela agama.

Dengan percaya diri dia menyatakan bahwa adanya aksi bela agama itu adalah sebagai pertanda kebangkitan umat dalam membela agamanya dari para penghinaan penista agama. (Dan ini masih menjadi polemik tentang siapa penista agama yang sebenarnya antara Rocky Gerung Dan Basuki Cahaya Purnama)

Bahkan aksi bela agama yang berlangsung berjilid jilid itu dianggapnya sebagai sebuah pertanda tingginya semangat kecintaan dan kesetiaan umat terhadap agamanya.

Pertanyaannya !

Apakah mereka yang tidak ikut aksi bela agama itu tidak cinta dan setia terhadap agamanya ?

Apakah mereka yang tidak ikut aksi bela agama itu tidak bersemangat dalam beragama ?

Apakah mereka yang tidak ikut berunjuk rasa dapat dikategorikan tidak setia kepada agama ?

Apakah yang sesungguhnya menjadi barometer atau acuan dari tanda cinta terhadap agama ?

Pertanyaan pertanyaan ini nampaknya seperti tidak ada atau memang sengaja dihilangkan dari pikiran seorang Felix Siauw yang merupakan pendukung aksi 212.

Sekedar Mengingatkan !

212 adalah sebuah gerakan berbau politik yang melibatkan aksi massa dengan mengatasnamakan agama untuk nenuntut proses hukum terhadap penista agama.

(Berdasarkan pengakuan dari mantan ketua presidium alumni 212 yaitu Sayyid Faizal Asseggaf)

Kejumudan dan kesempitan pola pikir dan sudut pandang Felix Siauw dalam memahami apa dan bagaimana cara mencintai agama telah membuat dia menjadi buta bahwa masih banyak cara untuk membuktikan kecintaan terhadap agama tanpa harus melalui pengumpulan massa untuk berunjuk rasa.

Belum lagi dengan pernyataan kontroversial Felix Siauw lainnya seperti menyatakan bahwa Nasionalisme itu tidak dalilnya ataupun pendapat dia yang berkeras bahwa hanya KHILAFahlah jalan satu satunya dalam mewujudkan pemerintahan Islam yang adil dan merata.

Semua kalimatnya yang penuh kontroversi itu mendapatkan tanggapan yang beragam dikalangan masyarakat awam.

Dan hal ini sedikit banyaknya telah membuat publik terpecah belah dalam menyikapi pendapatnya.

Ada yang pro namun banyak pula yang kontra.

Demikian pula halnya dengan sahabat dari Felix Siauw yaitu ustadz Abdus Shomad yang fakta tentang keilmuannya tidak diragukan lagi karena merupakan ahli ilmu hadits lulusan dari universitas luar negeri.

Ditunjang dengan kesolidan team manajemen yang khusus untuk mengangkat nama Abdus Shomad disosial media.

Abdus Shomad menjelma menjadi seorang Da’i muda yang di gandrungi oleh mereka yang masih awam dalam ilmu agama.

Terbukti semua pendapat yang keluar dari mulut Abdus Shomad bagi para pengikut (pencintanya) seolah seolah menjadi fatwa yang patut untuk ditaati dan dijaga bahkan harus dibela.

Namun Sayangnya ! Seorang Abdus Shomad yang diharapkan menjadi ikon baru pendakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah di Indonesia ternyata malah bersikap berbeda dengan para Kyai dan da’i-da’i muda berjiwa NU lainnya.

Sikap Abdus Shomad yang pro kepada KHILAFah serta pendapatnya yang menyatakan bahwa NU yang benar hanyalah NU garis lurus belaka telah menyelisihi pendapat dari para ulama dan kyai sepuh yang ada.

Bahkan sikapnya yang menyatakan bahwa baginda nabi telah gagal dalam mewujudkan Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin telah menciderai kemuliaan dan kesucian perjuangan baginda rosul dalam mewujudkan Islam sebagai Rahmat Bagi Seluruh Alam Semesta.

Sekarang !

Di era keterbukaan dan kekinian saat ini publik haruslah bisa berpikir dewasa dan jeli dalam memilah dan memilih siapakah tokoh agama yang layak untuk dijadikan panutan dan panduan.

Jangan sampai publik salah dalam menentukan pilihan yang juga berakibat salah dalam memilih jalan.

Semoga dengan barokah para ulama habaib ajengan dan kyai di Nahdlatul ‘Ulama.

Indonesia dijauhkan dari permusuhan dan perpecahan bangsa.

Dan terhindar dari perselisihan dan pertikaian antar sesama.

Semoga para pendakwah yang ada bukan hanya sekedar menjadi sebuah tontonan namun juga bisa memberikan tuntunan dan teladan.

Dan semoga para da’i muda Indonesia bisa menjadi tokoh agama yang benar benar cinta NKRI dan berkualitas lagi berkelas.

Bukan hanya sekedar untuk mencari materi dan mengejar popularitas.

Selamat berakhir pekan

M Yusmadi

(fb.HWMIcyber/ suaraislam)