Eko Kuntadhi: Prabowo yang Berkhianat

Emak-emak demo di kediaman Prabowo, menolak rekonsiliasi. Mereka marah Prabowo berbaikan dengan Jokowi. Di media sosial, muncul gerakan matikan TV, ketika nanti acara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada Oktober mendatang. Mereka gak mau menonton Jokowi-Amin dilantik.

Banyak orang kelojotan menyaksikan Prabowo dan Jokowi bertemu, bersalaman, berpelukan, berjanji untuk bersama membangun bangsa. Mereka sebel karena Prabowo tidak bisa lagi dijadikan simbol dari sikap barbarnya. Selama ini, semua tindakan mereka yang paling busuk sekalipun seperti mendapat legitimasi dengan adanya Prabowo yang terus menentang Jokowi.

Prabowo teriak pemilu curang, dan mereka ramai-ramai memgaminkan. Karena anggapan pihak lawan curang itulah, mereka bisa berbuat semaunya. Ada perasaan bahwa segala tindakannya untuk melawan kecurangan.

Tapi ketika Prabowo kemarin berjumpa Jokowi, memberikan selamat, bersalaman, artinya Prabowo sudah mengakui kemenangan Jokowi. Bahkan sudah mengucapkan selamat bekerja. Teriakan Pilpres curang sudah gak tepat lagi. Segala perilaku protes dan sikap kurang ajar pada Jokowi jadi kehilangan pijakan.

Sebetulnya yang paling berat adalah rasa malu mereka di lingkungan sosial. Ketika kampanye dulu, segala ayat, kitab suci, dalil agama, fitnah, kebohongan didesakkan untuk menjelekkan Jokowi. Mereka juga tidak segan melakukan persekusi pada pendukung Jokowi.

Misalnya Gerindra nanti masuk pemerintahan Jokowi, biarkan PKS, PAN dan Demokrat ada di luar. Biarkan mereka bersikap sebagai oposisi.

Jokowi-Prabowo

Jokowi dan Prabowo bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu, 13 Juli 2019. (Foto: Facebook/Presiden Joko Widodo)

Dengan mental luar biasa mereka berani berkonfrontasi dalam kehidupan sosial dalam rangka memenangkan Prabowo. Bukan hanya masa kampanye, tetapi juga ketika Pemilu selesai. Mereka kalap berteriak curang ke mana-mana.

Bahkan dalam hati kecilnya mereka mendukung kerusuhan 21-22 Mei lalu yang hampir saja membuat Jakarta dan kota-kota lain terbakar.

Dengan kata lain, dalam diri mereka tidak ada sedikit pun ruang untuk rekonsiliasi. Makanya ketika Prabowo akhirnya memutuskan bergandengan tangan dengan Jokowi, hatinya hancur. Mereka merasa dikhianati oleh Prabowo. Mereka seperti anak ayam kehilangan induk. Berkaok-kaok sendirian.

Apalagi jika kita membaca simbol-simbol yang ditampilkan dalam pertemuam Jokowi-Prabowo kemarin. Mereka duduk dalam satu gerbong, setelah itu makan siang di satu meja. Duduk dalam gerbong yang sama, bergerak ke tujuan yang sama, bisa saja diartikan sebagai simbol bahwa Gerindra akan menjadi bagian dari pemerintaham Jokowi.

Dengan Gerindra menampakkan sikap bersahabat, hanya tinggal PKS saja yang jelas-jelas bersikap oposisi. Dalam jangka pendek kondisi tersebut memberikan dampak stabilitas politik, karena pemerintahan didukung oleh mayoritas kekuatan politik. Tapi membiarkan PKS berjalan sendiri sebagai kekuatan oposisi juga berbahaya.

Kondisi tersebut akan sangat menguntungkan PKS. Apalagi kita tahu, sebagian besar pendukung Prabowo yang kecewa itu diikat oleh jargon-jargon agama. Ketika mereka menanggap Prabowo berkhianat, maka dengan sendirinya mereka akan berlabuh di PKS.

Saya sih berharap, Jokowi nanti masih menyisakan beberapa partai untuk tetap di oposisi. Ini untuk menghindari pengumpalan kekuatan oposisi hanya pada satu partai saja. Apalagi jika partai itu mengandalkan agama sebagai bahan jualannya, maka akan semakin memperdalam politisasi agama yang merobek bangsa ini.

Misalnya Gerindra nanti masuk pemerintahan Jokowi, biarkan PKS, PAN dan Demokrat ada di luar. Biarkan mereka bersikap sebagai oposisi. Sebab biar bagaimanapun, harus ada kekuatan penyeimbang dalam sistem politik nasional.

(tagar.id/suaraislam)