Cililitan Banjir, Warga Harap Ahok Lanjutkan Normalisasi Sungai

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meninjau Masjid Raya Universitas Borobudur, tempat pengungsian warga Cipinang Melayu, yang menjadi korban banjir, Senin (20/2/2017). (kompas)

Jakarta – Hujan yang mengguyur DKI Jakarta mengakibatkan banjir di beberapa wilayah termasuk Cililitan, Jakarta Timur. Warga meminta program Normalisasi sungai oleh Pemprov DKI segera dilanjutkan.

Pantauan detikcom di Jalan Cililitan Kecil 1, RT 016/007, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (21/2/2017) sejak pukul 19.00 WIB, air masih menggenang di rumah-rumah warga.

Salah seorang warga RT 016, Mustika Sari, mengatakan banjir terjadi sejak pukul 08.00 IWB pagi tadi. Ketinggian air lalu berangsur naik.

“Tadi pukul 09.00 WIB semata kaki, pukul 09.30 WIB sudah 20 cm,” kata Mustika di lokasi.

Mustika mengatakan tidak ada pemberitahuan sama sekali ke warga kalau akan banjir.

“Biasanya dikabarin, ini tidak, banyak yang nggak keburu diangkat belum sempat keangkat, karena rumah dalam keadaan sepi, tapi semenjak normalisasi udah mendingan,” ucap.

Baca:

Hal senada dikatakan oleh warga lainnya, Rohaeti. Rumahnya tergenang air setinggi 50 cm sejak pukul 10.00 WIB pagi.

“Biasanya sih kalau ada banjir kiriman ada pemberitahuannya, ini banjir hujan, pintu airnya ditutup, tapi Alhamdulillah sekarang lebih baik, biasanya (kalau) Katulampa siaga 3 saya udah kena sepintu, tapi ini Katulampa siaga 2 saya kena 50 cm,” ucap Rohaeti.

Rohaeti berharap pemerintah DKI Jakarta terus melakukan upaya untuk menanggulangi masalah banjir.

“Harapannya diperbaiki, normalisasi itu dilanjutkan lagi, dikeruk, kan rencana mau dikeruk, biar nggak banjir lagi,” sambung Rohaeti.

Sementara itu, warga masih bertahan di lantai 2 rumah mereka. Belum ada posko pengungsian dari kelurahan setempat.

Noordiansyah selaku ketua RT 016 mengatakan ada 7 RT yang terkena banjir di RW 007, yaitu RT 001, RT 006, RT 008, RT 009, RT 013, RT 015, dan RT 016. Ia mengatakan banjir kali ini terjadi akibat cuaca yang ekstrem. (detikcom/biarnyaho)