Home Artikel Catatan Atas Debat Ahok-Anies di Mata Najwa

Catatan Atas Debat Ahok-Anies di Mata Najwa

SHARE

Setelah menyaksikan debat Ahok – Anies di Mata Najwa malam ini, ada beberapa hal yang menjadi catatan dan usulan yang saya coba tuliskan di sini:

1. Jawaban yang diberikan oleh Anies selama debat lebih banyak retorika dan mengambang, tidak langsung ke inti masalah.

2. Anies lebih banyak menyerang ke pribadi Ahok untuk memancing emosi Ahok, tapi sayang rencananya gagal, Ahok sekarang lebih “nuwun sewu”.

3. Program KJL yang Anies bilang meniru dia ternyata salah, program itu sudah ada sejak tahun 2013 dan baru diluncurkan sekarang karena proses dan disesuaikan dengan UU Nasional yang berlaku.

4. Mengenai KJP plus, itu cuma meniru Ahok dan ditambahkan saja, cuma yang jadi masalah kalau penambahannya di luar sekolah, anak-anak yang sudah tidak mau sekolah tapi terima KJP plus, apalagi uang tunai, bisa dapat dana buat mabok nih.

5. Rumah DP 0 rupiah, pertama-tama bilang Pemda menyediakan rumah harga 350 juta, tapi setelah di debat, dia bilang hanya DPnya saja yang 52 juta di subsidi, lho kok? Apapun alasannya, secara ekonomis dan matematika juga peraturan BI, “jaka sembung bawa golok” deh, dan untuk diketahui, di seluruh dunia apalagi ibukota negara, pembangunan rumah vertikal lho alias rusun, bukan rumah-rumah horizontal yang lahannya sudah tidak ada.

6. Menurut Anies seorang Pemimpin harus merangkul semua, itu benar tapi saya lebih setuju cara Ahok, TEGAS DAN TIDAK ADA KOMPROMI DENGAN MALING DAN KELOMPOK RADIKAL SERTA PREMAN, ini Jakarta Bung!!!

7. Ada satu hal kesan yang dibuat Ahok, bahwa dia sangat menghormati Kebhinekaan, dia membangun tempat Ibadah secara adil dan merata. Terutama sekali buat umat Muslim, dia pasti meng-umroh-kan pengurus Mesjid di DKI Jakarta dan menyediakan IMAM MASJID yang RAHMATAN LIL ALAMIN, yang menyejukkan, bukan WAHABI atau ISIS

8. Setelah menonton debat ini, saya malah ada ide, bagaimana kalau Pemda DKI bekerjasama sama dengan KPK dan POLRI untuk membuat APLIKASI LAPORAN WARGA dari PUNGLI sampai KORUPSI yang ada di DKI Jakarta, namun data Pelapor dirahasiakan, sedangkan Warga DKI dapat mengecek yang AKAN, SEDANG DAN SUDAH dikerjakan oleh KPK dan POLRI. Jadi, siapapun yang memimpin DKI, warga tetap bisa mengontrol, karena sistemnya sudah ada.

Akhir kata, dalam memilih Pemimpin untuk memimpin DKI Jakarta yang kompleksitasnya tinggi ini, KITA butuh Pemimpin yang siap hancur, siap dibenci dan siap difitnah, bukan pemimpin yang pandai retorika.

Bukan pemimpin yang cuma mANIES di bibir dan pandai berSANDIwara.

Kita butuh Pemimpin yang TEGAS DAN SIAP TEMPUR dalam membawa Jakarta yang bersih dari KORUPTOR dan MODERN, setara dengan negara maju di dunia.

Muhammad Al-Farabi

(suaraislam)