Cara Memerangi Nafsu Amarah

178

Al-nafsu al-ammâratu bi al-suu’ (Nafsu Amarah) ialah hawa nafsu yang menganjurkan pemiliknya pada kemaksiatan, pelanggaran dan pembangkangan. Ya, dia selalu mendorong pada perbuatan buruk.

Allah berfirman:

إنَّ النفْس لأَمَّارة بالسُّوءِ

“Sesungguhnya nafsu amarah itu senantiasa mendorong pada kejahatan” (QS Yusuf:53)

Bagaimana cara menanggulangi nafsu amarah ini sehingga berubah menjadi nafsu lawwâmah (yang selalu menegur dan mendorong pada kebaikan?)
Nafsu amarah dapat ditanggulangi dan reda dengan memperbanyak zikir لا إله إلا الله “lâ ilâha illallâh” (tiada Tuhan selain Allah) sebab zikir ini mengandung dua makna, yaitu: meniadakan dan menetapkan.
“لا إله إلا الله” meniadakan adanya hakikat ketuhanan, kemudian menetapkannya hanya untuk Allah semata, tanpa ada satu pun sekutu bagi-Nya.

“لا إله إلا الله” seakan merupakan simbol perubahan manusia yang keluar dari satu zona ke zona lain, keluar dari pelbagai macam kegelapan menuju cahaya.

Dengan memperbanyak zikir “لا إله إلا الله” nafsu bejat ini akan lunak, lalu keluar dari kenakalan nya.

Berapa banyak kita membaca ” لا إله إلا الله ” untuk mengatasi nafsu amarah ini?

Para ulama terdahulu telah melakukan eksperimen (tajribah) dan terbukti sukses. Tajribah mereka menyatakan bahwa:
” Orang yang membaca لا إله إلا الله sebanyak 70.000 kali akan merasa bahwa jiwanya benar-benar keluar dari tingkat nafsu amarah dan memasuki tingkat lawwâmah”.
Ya, 70.000 kali لا إله إلا الله memberikan peningkatan ini. Kita tahu bahwa eksperimen adalah salah satu sumber pengetahuan yang diakui.

Kemudian pada awal-awal abad ke-20, para ulama pendidik jiwa merasa bahwa لا إله إلا الله 70.000 kali sudah tidak lagi optimal dalam membuat jiwa manusia naik tingkat, dari ammârah yang menyeru pada kemaksiatan, menuju pada lawwâmah yang mendorong pada kebaikan. Maka mereka menambah jumlah zikir ini, -sesuai eksperimen terbaru- menjadi 100.000 kali.

Perubahan angka ini tidak berarti adanya kesalahan eksperimen. Namun sebenarnya disebabkan oleh faktor perubahan zaman. Karena pada zaman dahulu keberkahan waktu sangatlah banyak, meskipun materi yang dimiliki tidak banyak. Namun pesatnya perkembangan tekhnologi modern telah memberikan perubahan besar dalam aktifitas harian manusia pada zaman ini.

Maulana Syaikh Ali Jum’ah

(suaraislam)