Cadar, Antara Kebebasan dan Aturan

Seorang mahasiswi pernah bertanya kepada saya, kenapa di kampus kita tidak ada yang memakai cadar pak? ya memang aturannya seperti itu. Seperti halnya kenapa yang laki-laki kalau kuliah gak ada yang bersarung? ya memang aturannya seperti itu. Jawab saya kepada mahasiswi yang disusul dengan pertanyaan ” berarti kampus telah merampas haknya mahasiswa dalam mengekspresikan kebebasan beragama pak?” jelas. Kampus banyak merampas kebebasan siapa pun yang masuk di dalamnya dan menjadi bagian dari kampus. Misalnya dalam menata jadwal kuliah, gak ada kampus yang menghubungi mahasiswa trus bertanya apakah anda bisa kuliah dihari ini jam sekian sampai sekian?. Lantas, solusinya bagaimana pak? tanya mahasiswi. Ikuti aturan main kampus atau keluar cari kampus yang sesuai keinginan kita.

Apakah istri bapak bercadar?tanya mahasiswa yang lain. Tidak, dan tidak akan saya izinkan bercadar. Karena dalam hal ini, saya dengan sadar dan penuh pertimbangan memilih pendapat sebagian ulama’ Malikiyah yang menganggap bercadar adalah berlebihan sehingga makruh. Tetapi tentu saya tetap menghargai mereka yang mewajibkan atau menyunnahkan bercadar. Pantang bagi saya menghujat mereka yang bersemangat untuk beragama sesempurna mungkin (menurut keyakinannya) itu. Tapi silakan saja kalau ada yang mau mencemooh keputusan saya yang melarang istri saya bercadar, bila itu memang mendatangkan kepuasan.

Jika hari ini UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melarang mahasiswi bercadar, maka silakan diikuti, atau pindah ke kampus lain bila lobi baik-baik untuk mengubah keputusan pihak kampus sudah gagal. Bukan hal bijak membesar-besarkan ikhtilaf fiqhiyah untuk membangkitkan sentimen negatif. Kampus melakukan hal tersebut tentu sudah melalui berbagai kajian dan prosedur, dalam policy making azas maslahah ‘ammah pasti dikaji dengan teliti.

Betapa banyak aturan kampus yang menyebalkan dan merenggut hak-hak personal. Mulai dari jadwal kuliah yang tak pernah nanya persetujuan mahasiswa hingga aturan ribet seperti larangan pakai jeans, kaos oblong, rambut panjang bagi laki-laki dan lainnya. Tambah lagi aturan yang menyakitkan santri NU adalah ketika kampus melarang sarungan. Padahal sarung itu pakaian keseharian santri NU sekaligus identitas ke-NU-an saya. Tapi ya bagaimana lagi? Kalau saya ingin di kampus itu ya saya ikuti saja.

Hal yang sama saya alami ketika naik bis atau kereta ke luar kota. Sopir dan masinis tampaknya tak mau tahu kalau saya seorang muslim yang harus shalat tepat waktu. Tak ada satupun yang berhenti di masjid ketika panggilan shalat dikumandangkan. Apakah saya harus mengajukan somasi pada perusahaan jasa angkutan? Hanya orang gila yang melakukan itu. Kalau saya sama sekali tak mau kompromi dengan mereka, maka saya punya pilihan untuk cari kendaraan lain yang bisa berhenti kapanpun saya merasa wajib berhenti. Karena semua merupakan pilihan, dan setiap pilihan punya konsekwensi sendiri.

Jadi, bagi para pemakai cadar yang gak mau diatur oleh kampus yang melarang mahasiswinya bercadar, silahkan keluar dan cari kampus yang membolehkan memakai cadar, atau anda tunduk pada aturan dengan melepas cadar anda sebagai pilihan terhadap kebijakan yang dibuat (policy making) berdasar maslahah ‘ammah (kebaikan universal).

Nuruddin (Sumber https://www.facebook.com/nuruddin.maulidiya/posts/1637016993058150)

(suaraislam)