Buya Syafi’i Ma’arif, Pendekar dari Chicago yang Selalu Gelisah

Telinga Bangsa ini sudah tak asing lagi begitu mendengar nama Buya Syafii—panggilan akrab Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif—yang kini telah berusia 83 tahun. Salah satu dari “Tiga Pendekar dari Chicago” ini dikenal sebagai tokoh lintas agama yang tak pernah lelah menggalakkan toleransi di Indonesia.

Di negara ini, sosok seperti Buya Syafii, masih sangat jarang jumlahnya. Pernyataan-pernyataannya yang kritis dan membangun terkait diskursus keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan membuka pintu gerbang cakrawala keilmuan bagi para penerus bangsa.

Meski sudah lanjut usia. Buya laksana pelita di tengah gulita bangsa yang sarat dengan pelbagai persoalan keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan. Melalui tulisan-tulisannya, Buya banyak berkhotbah tentang nilai-nilai kemanusiaan universal, mengumandangkan moralitas dan keadaban publik. Nasehat-nasehat Buya kepada anak-anak muda—yang kelak menjadi penerus bangsa—begitu inspiratif.

Buya sering mengingatkan, bahwa menjadi pemimpin itu sangat berat, tapi mulia dan menantang. Buya menasehatkan agar anak-anak bangsa tak berhenti mempelajari riwayat pendiri negara, agar tahu kenapa bangsa dan negara kita harus merdeka. Nasehat-nasehat Buya yang lain, misalnya : “Jadikanlah politik untuk menegakkan keadilan, bukan mata pencaharian”, dan “Jadilah ikan laut, hidup di air yang asin tapi dagingnya tidak ikut asin.

Buya, bukan hanya menjadi guru inspiratif bagi keluarganya, murid-muridnya, para jamaahnya, tetapi juga guru inspiratif bagi bangsanya. Ya, Buya adalah guru bangsa, yang spirit keindonesiaan dan humanismenya tak diragukan lagi. Ajaran-ajaran bijak yang dilayarkannya melintasi agama, budaya, usia, dan kelompok, membuat siapa pun yang berdialog dengannya merasa teduh. Hingga kini, di usianya yang sudah senja, Buya tetap konsisten dengan gaya hidupnya yang sederhana, konsisten dengan pemikiran-pemikiran-nya dan menolak cara-cara digunakannya kekerasan. Tak jarang khutbah-khutbah ilmiahnya menimbulkan kesalahpahaman.

Dan memang, Buya, sosok intelektual berintegritas yang rentan disalahpahami. Berbagai cacian, cercaan, umpatan, hinaan, bahkan sampai hujatan pun yang tidak pernah dilakukannya sudah menjadi hal biasa. Buya tak hanya dikecam, banyak tulisan liar dan pernyataan pendek di media sosial yang memintanya agar segera bertobat, kembali ke jalan yang benar. Dalam kasus, Ahok, misalnya, Buya dianggap kafir karena membela orang kafir. Bahkan, mereka menuduh Buya telah “dibeli”. Namun, di sinilah letak keagungan akhlaq Buya. Ia lebih memilih memberi maaf kepada mereka yang menghujatnya. Buya, sepertinya amat menyadari bahwa, “Manusia adalah musuh apa saja yang tidak (belum) dipahaminya”.

Buya seolah berdiri di sana di atas bukit seraya mengumandangkan perlunya: menghidupkan “api” Islam yang telah lama redup, menelaah konsep-konsep negara rasional modern, mendendangkan keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Buya masih tetap konsisten dengan pandangan keilmuannya.

Agar bisa mengembangkan Islam seperti itu,menurut Buya, umat Islam harus bermental terbuka, semangat untuk maju, optimis dan tidak putus asa, serta tidak bermental minoritas. Buya juga tak pernah canggung bergaul dan menjalin hubungan baik dengan pemuka dan tokoh-tokoh agama; Kristen, Budha, Hindu, Tionghoa, kalangan nasionalis, NU dan juga tokoh-tokoh dunia. Menurutnya, ini semua merupakan modal yang sangat besar untuk membangun toleransi dan dialog dengan kelompok lain.

Pergulatannya dengan tema seputar Islam dan politik serta keinginannya untuk menjaga nilai-nilai keagamaan—seraya mengadopsi konsep-konsep kenegaraan modern—terus mengganggu pikirannya. Tak heran, jika tulisan dan pernyataannya tak jarang menuai dukungan dan penolakan, bahkan di lingkungan organisasi yang membesarkan dan pernah dipimpinnya, Muhammadiyah.

Tapi, agaknya, Buya tidak hirau dengan persetujuan atau perlawanan. Yang ia pedulikan adalah orang harus jujur pada hati nuraninya sendiri, bersikap adil pada siapa pun, termasuk pada orang yang tidak kita sukai, berani menyuarakannya ke publik dengan membuka topeng beragam kepentingan dan menjadikan sebuah isu menjadi tunggangan.

Terus Memikirkan Bangsa

Buya juga sering mengingatkan tentang bahaya radikalisme dan terorisme. Buya sangat concern untuk menjaga Pancasila dan mewaspadai terorisme yang mengancam negeri ini. Buya Syafii mengkhawatirkan “Teologi Maut” yang dapat memonopoli kebenaran terhadap kelompok lain.

Sebagai salah satu intelektual Muslim terkemuka, Buya menilai Indonesia merupakan bangsa yang belum sepenuhnya jadi. Sehingga bangsa ini sering kali diuji dengan berbagai konflik. Mulai dari kepentingan ideologi, kepentingan politik, dan belakangan ancaman pemisahan diri. Sebagai sebuah bangsa, usia Indonesia belum genap 100 tahun. Artinya bangsa ini masih mudah. Karena itu menurut Buya, bangsa ini perlu dirawat, bahkan kalau perlu juga diruwat. Untuk merawat Indonesia yang besar ini, perlu orang dengan pemikiran besar dan berwawasan jauh ke depan—bukan pikiran pikiran partisan.

Salah satu hal penting yang sering disampaikan oleh Buya, adalah bahwa “Indonesia harus tetap bertahan satu hari sebelum kiamat.” Ungkapan itu menunjukkan kepeduliannya bahwa di tengah situasi krisis moral dan krisis kewarasan yang membahayakan NKRI ini, masih sangat mungkin diselamatkan dengan menyalakan lilin kewarasan.

Buya, juga selalu menegaskan bahwa literasi perjalanan bangsa dan negara perlu dibaca ulang dan direnungkan dengan cara yang lebih mendalam, khususnya oleh kelompok elite yang biasa main di panggung politik nasional dan lokal. Tanpa asupan bacaan yang luas, pasti mereka akan gagap dalam berpolitik karena tidak punya tempat berpijak yang kokoh di kedalaman lautan sejarah bangsa.

Begitulah Buya, seorang humanis yang selalu menginspirasi, membuka perspektif baru, menyodorkan kesadaran dan menyalahkan harapan masa depan. Ia hadir membawa suasana, memberikan arah dan greget, menggerakkan dan mengajak bangsa besar ini untuk bangun dari ketertinggalan.

Cerita kehidupan Buya, adalah cerita keteladanan, cerita seorang cendekiawan dengan kepribadian yang humanis. Buya Syafii yang kita kenal sekarang bukanlah manusia yang datang tiba-tiba dari ruang kosong. Ia adalah sosok manusia yang tumbuh dari dentuman demi dentuman zaman. Menempuh jalan bergelombang, naik turun di sana sini. Dan, Buya—seperti yang kita saksikan sekarang—tetap berdiri kokoh laksana karang di lautan.

Semoga Buya diberikan panjang umur dan kesehatan.

Penulis: Mohammad Shofan.

(bangkitmedia/suaraislam)