Buya Syafii: Kalau Konsep Islamnya Tidak Rahmatan Lil Alamin, Pasti Salah

Manuskirp Al-Quran

“Dari pengetahuan saya yang terbatas tentang Islam, saya tiba pada kesimpulan: payung atau tenda besar Islam itu adalah rahmatan lil alamin, tidak saja bagi orang beriman, tetapi kepada semua umat manusia, bahkan alam semesta. Semua harus mengacu ke situ. Kalau tidak, pasti salah.”

Demikian kata Buya Syafii Maarif dalam Pengantarnya pada Peluncuran dan Diskusi Buku bertajuk “Reformasi Ajaran Islam: Jihad, Khilafah dan Terorisme” sebuah Bunga Rampai yang diedit oleh Muhammad Abdullah Darraz, Direktur Maarif Istitute, Kamis malam di Gedung PP Muhammadyah, Jakarta.

Lebih lanjut Buya mengatakan, “Kalau dulu Muhammad berperang, itu semata-mata dalam melawan ketidak-adilan. Jadi tauhid yang tidak mengumandangkan keadilan adalah tauhid mandul.”

Pada bagian lain pengantarnya, Buya juga mengungkapkan keprihatinannya atas gejala umat Islam di Indonesia dewasa ini yang makin kearab-araban.

“Arab tidak identik dengan Islam. Sekarang ini, banyak orang menjadi Arab tapi sesungguhnya sudah jauh dari Islami. Dan ini awal kehancuran kita semua.”

Buya juga mengkritik tercurahnya enerji kita semua terhadap issu Ahok.

“Gara-gara ini semua jadi repot. Ngapain, sih? Siapa yang memfasilitasi ini semua?”

Pada bagian akhir pengantarnya, Buya mengajak hadirin untuk bersama bergandengan tangan membangun bangsa.

Baca juga:

“Mari saling belajar dan saling memperkaya. Bangsa ini belum selesai, olehnya mari saling membantu, bukan saling menghina dan munafik”

Bravo Buya!

Sama seperti kritik Buya, saya juga sejak lama menguatirkan fenomena yang berkembang sekarang, yakni sebuah proses arabisasi ketimbang islamisasi.
Pada era 70 hingga 80-an kita banyak mengkritik gejala westernisasi. Modernisasi seolah identik dengan westernisasi. Hal yang sama kini sedang terjadi dengan proses arabisasi, yang seolah identik dengan menjadi Islam.

Tapi, tunggu dulu! Bukankah di lingkungan gereja, belakangan ini, juga sedang terjadi proses israelisasi?

Rasanya memang perlu mengangkat kembali pidato Bung Karno: “Kalau mau jadi Hindu, jangan jadi orang India; kalau mau jadi Islam, jangan jadi orang Arab; kalau mau jadi Kristen, jangan jadi Yahudi. Tetaplah jadi Indonesia yang kaya dengan adat budaya.”

Gomar Gultom, Sekjen PGI

(suaraislam)