Budayawan Sufi: Benarkah Kitab Suci Itu Fiksi?

Yang ada belum tentu tampak. Dan, sebaliknya, yang tidak tampak pun belum tentu tidak ada. Demikianlah hal-hal gaib bekerja menyadarkan manusia betapa panca indra dan akal sehat memiliki batas jangkau. Selalu ada yang tidak dapat disentuh oleh ilmu pengetahuan, juga tentu saja oleh manusia yang tidak henti-hentinya berikhtiar menumbuhkembangkan ilmu pengetahuan demi menyingkap tabir rahasia semesta.

Jangankan tentang langit tidak runtuh meski tanpa tiang, menyepakati bumi itu bulat atau datar saja umat manusia terbelah pendapat. Dalam Q.S. Ar Ra’d: 2, Allah berfirman, “Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (seperti) yang kau lihat, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan.” Allah berkuasa menghadirkan yang nyata dengan cara gaib, di luar nalar kita.

Orbit planet-planet yang melingkari porosnya, yakni matahari, tidak pernah benar-benar tampak. Tapi, ia diyakini ada, setidaknya oleh ilmuwan dan ilmu pengetahuan. Mereka membantu kita memahami keberadaan orbit-orbit itu dengan membuat garis lingkar-garis lingkar imajiner. Namun, saya tidak akan menyebut kerja intelek ilmuwan adalah fiksi, tak akan pula mengatakan ilmu pengetahuan fiktif. Mereka, kita, berikhtiar memahami pesan kitab suci.

Masih dalam Q.S Ar Ra’d: 2, lanjutan ayat tersebut berbunyi, “Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kau meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.” Keyakinan bukan tidak punya hubungan baik dengan ilmu pengetahuan. Sebab, salah satu dari ragam keyakinan adalah ‘ilma ‘l-yaqin, meyakini sesuatu dengan bersandar pada ilmu pengetahuan, pada nalar dan identifikasi. Pada pembuktian.

Jika kerja ilmuwan dan hasilnya, yaitu ilmu pengetahuan, tidak layak disebut fiksi dan fiktif, karena sejak awal tidak diniatkan untuk kesombongan dan kebohongan, apalagi menyebut kitab suci itu fiksi –seraya menafikan fiktif sebagai kata sifat dari fiksi. Kitab suci, dalam hal ini Al Qur’an, tak hanya berisi kisah masa lalu dan sejarah –dengan segala ajaran dan hikmah di dalamnya– tapi juga kabar gembira dan peringatan tentang kehidupan di masa depan.

Bahwa kehidupan di akhirat masih gaib, ia gaib bagi makhluk yang tidak atau belum disingkapkan tabir baginya untuk menyaksikannya secara nyata. Tidak atau belum kasyaf. Ya, lawan kata dari gaib adalah nyata; syahadah atau (dapat) menyaksikan dengan mata kepala sendiri setelah mengalami kasyaf atau terbukanya penutup dan tajalli atau mendapat pencerahan. Akhirat, sebagaimana kitab suci, samasekali bukan fiksi, tidak fiktif.

Kitab suci juga bukan belum selesai. Kita saja, umat manusia ini, yang belum sempurna mengimani ayat-ayat-Nya, yang merupakan firman-firman Allah yang disampaikan kepada Rasulullah. Kita saja yang belum selesai. Kita saja yang belum selesai menjalani waktu hidup di dunia hingga akhirnya sampai di akhirat. Cepat atau lambat, kini atau kelak, setiap makhluk akan menerima bukti dari kebenaran adanya Allah dan segala yang difirmankan-Nya.

Firman Allah dalam kitab suci, atau secara spesifik sebut saja Al Qur’an, terdiri atas ayat qauliyah atau tersurat maupun kauniyah atau tersirat. Pun juga memiliki kandungan makna yang muhkamat atau tidak samar dan tidak pula tersembunyi, dan mutasyabihat atau samar dan tersembunyi. Tidak ada yang fiksi atau fiktif. Ya, memang Allah menyampaikan banyak perumpamaan, tapi itu tidak lantas menjadikan kitab suci fiksi dan perumpamaan itu fiktif.

Muhammad SAW tidak hanya dituduh sebagai penyair yang merekayasa syair-syairnya sendiri untuk disebut Wahyu Ilahi. Ia juga dituding sebagai pendusta yang mengklaim dirinya Nabi dan Rasul. Ia bahkan difitnah sebagai penyihir. Orang-orang hari-hari ini bukan orang-orang pertama yang menyebut kitab suci –terutama jika yang dimaksud itu Al Qur’an– sebagai rekaan, karangan, khayalan, atau apa pun yang bermakna fiksi dan fiktif.

Muhammad SAW bahkan dianggap gila oleh kaumnya. Sampai hari ini pun masih ada saja yang mengejek dan menghinanya dengan ujaran lisan dan tulisan, gambar, dan lain-lain. Namun, itu sama sekali tidak mengurangi kemuliaan dirinya dan penghormatan oleh Allah kepadanya, yang oleh karena itu Allah dan para malaikat bersalawat, dan diwajibkan kepada kaum beriman untuk bersalawat. Muhammad bukan tokoh fiktif pembawa kisah-kisah fiksi.

Lebih dari itu, Al Qur’an adalah mukjizat terbesar dari Allah untuk umat manusia yang disampaikan-Nya melalui Utusan Allah, yakni Muhammad SAW. Di dalam kitab suci ini, termaktub pula peristiwa Isra’ Mikraj. Sebagaimana Q.S. Al Isra: 1, “Maha Suci (Allah) yang (Dia) telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjid al Haram ke Masjid Al Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya (Dia) Maha Mendengar, (lagi) Maha Melihat.”

Bagi sebagian kaum Quraisy pada saat itu, Isra’ Mikraj bisa jadi adalah fiksi paling fiktif dari lisan putra Abdullah. Bahkan, ada yang telah beriman lantas murtad. Namun, yang memiliki hati bersih, sebagaimana Abu Bakr As Shidiq RA, justru semakin bertambah kuat keimanannya. Sebab, mukjizat dan pengakuan dari yang mengalami atau menyaksikannya adalah ujian bagi manusia, termasuk bagi mereka yang “hanya” mendengar kisahnya.

Banyak sekali yang bisa dibahas dari kejadian luar biasa Isra’ Mikraj ini. Mulai dari mengapa Allah dalam firman-Nya itu memilih kata Subhana (Maha Suci) untuk membuka penjelasan. Juga soal mengapa terjadi pada malam hari, bagaimana bisa Sang Hamba paling luhur bernama Muhammad SAW itu menempuh perjalanan dari Masjid Al Haram ke Masjid Al Aqsa dalam tempo singkat, padahal waktu itu dibutuhkan paling cepat 30 hari berkendara unta.

Juga tentang bagaimana Muhammad mengendarai Buraq, menembus langit tertinggi hingga mencapai Sidratu ‘l-Muntaha, berjumpa langsung dengan Allah tidak lagi dengan perantara Jibril AS, untuk kemudian menerima perintah untuk mendirikan salat. Di sepanjang perjalanan, Allah singkapkan banyak rahasia kepada Muhammad SAW. Tapi, ia tidak melampaui batas. Putra Aminah ini shiddiq, amanah, fathanah, tabligh.

Allah niscaya menjaga Muhammad SAW yang menerima ayat-ayat suci dalam Al Qur’an, juga para nabi dan rasul lainnya yang menerima kitab suci-kitab suci lainnya, dari sifat dan sikap dusta, khianat, bodoh, dan menutupi kebenaran. Dalam Q.S. Al Hijr: 9, Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz Dzikra (Al Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” Maha Suci Allah dengan segala firman-firman-Nya.

Q.S. Al Baqarah: 1-4 menegaskan, “Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta yakin akan adanya akhirat.”

Jadi, baiklah, biar saya saja yang minta maaf: maaf, kitab suci kami bukan fiksi dan tidak fiktif.

Ditulis untuk sekaligus memperingati Isra Mikraj 27 Rajab 1439 H yang bertepatan dengan 14 April 2018.

Candra Malik budayawan sufi

(detik.com/suaraislam)