Belajar dari Hijrah ke Habasyah

58
Ilustrasi (Google image)

1- Kenapa ke Habasyah? Bukankah Habasyah adalah negeri non-muslim yang dipimpin oleh penguasa non-muslim?

Rasul mengatakan: “.. di sana ada seorang raja yang tak seorangpun di sisinya terzalimi, dan Habasyah adalah bumi kejujuran”. Jadi, meskipun Habasyah bukan negeri muslim, bahkan dipimpin oleh seorang raja yang beragama Nasrani, Rasul tetap memilihnya sebagai tujuan hijrah yang pertama. Faktor keadilan & kejujuranlah yang menjadikan beliau menjatuhkan pilihannya. Lantas, sudahkah keislaman kita yang “mayoritas” di Nusantara ini menjadikan kita mengimplementasikan dua nilai tersebut? Ataukah kita masih terjebak kepada merk dan cap kosong tanpa esensi nilai yang terimplementasi?

2- Sudahkah ke-mayoritas-an kita mengayomi minoritas sebagaimana yang dilakukan oleh Raja al-Najāsyī? Ataukah justru sebaliknya menjadikan pihak minoritas sebagai bulan-bulanan ketidakadilan?

3- Jangan merasa gerah jika ternyata banyak sekali saudara kita yang jauh lebih betah & nyaman “hijrah” ke negeri-negeri non-muslim meskipun mereka harus menjadi kelompok minoritas, jika faktor keadilan & integritas lebih dijunjung tinggi di sana, daripada di negeri-negeri mayoritas muslim.

4- Saat kaum kafir Quraisy mengetahui kenyamanan dan ketentraman yang didapatkan oleh kaum muslimin di Habasyah, mereka menugaskan dua orang (‘Amr bin al-‘Āsh & ‘Abdullah bin Abī Rabī’ah) untuk menghasut Raja al-Najāsyī agar mendeportasi kaum muslimin kembali ke Makkah. Ada dua taktik yang digunakan oleh kedua utusan tsb, yang pertama: gratifikasi, dan yang kedua: provokasi dengan memanfaatkan isu agama. Melalui dua taktik tersebut, mereka hendak membenturkan antara kelompok “pribumi” mayoritas dengan “pendatang” minoritas. Dua masalah serius (gratifikasi & politisasi identitas) yang ternyata hingga hari ini menjadi musuh bersama dalam konteks berbangsa & bernegara. Sudahkah kita sadar? Ataukah justru kita terlibat di dalamnya dengan meneladani pihak kuffār Quraisy pelaku gratifikasi & provokasi bertopeng isu identitas agama?

5- Apakah dua taktik tersebut berhasil? Samasekali tidak. Keadilan & integritas seorang al-Najāsyī (meskipun Nasrani) membuat siasat licin dua utusan Quraisy berakhir sia-sia. Keadilan & integritas membuat nalarnya mampu melihat dengan jernih maksud jahat dari hadiah yang diberikan. Keadilan & integritasnyalah yang juga membuat al-Najāsyī bertabayyun kepada “tertuduh”, bukan langsung menelan mentah-mentah provokasi berbau agama yang dilancarkan oleh dua delegasi kuffar Quraisy. Jadi ingatlah, saat karakter positif (keadilan & integritas) yg terfitrahkan di dalam sanubari manusia -tak peduli apapun agamanya- pasti memandang penindasan terhadap minoritas adalah kejahatan, dan kejahatan adalah musuh bersama.

6- Apa taktik al-Najāsyī untuk menangkal agitasi murahan kuffār Quraisy? “Tabayyun”. Ya, dengan mengkonfirmasi langsung dan mengkonfrontir keterangan, beliau mampu mengatasi isu provokatif yang dihembuskan saat itu. Hari ini betapa banyak hoax berbau agama yang disebar di dumay dengan tujuan menebar kebencian dan mengoyak rajutan persatuan kita. Sudahkah kita menyikapinya dengan bijak dan menalar secara sehat sebagaimana yang dilakukan oleh al-Najāsyī? Ataukah justru kita yang menjadi korban provokasi politik identitas dengan menggadaikan semangat persaudaraan & persatuan?

7- Setelah mendengarkan penjelasan Ja’far bin Abī Thālib, Raja al-Najāsyī menyatakan keimanannya. Hidayah itu memanglah hak prerogatif Yang Mahakuasa. Seseorang yang berada jauh dari Rasulullah dan hanya mendengar kabar serta beberapa ayat wahyu saja, tergerak hatinya untuk menyatakan keimanannya. Berbanding terbalik dengan kuffār Quraisy yang berada di sekitar Rasulullah, melihat beliau secara langsung, bahkan dibacakan kepada mereka ayat-ayat Tuhan, namun mereka justru berpaling. Manakah yg kita pilih? Akankah kita menjadi kelompok yg berpaling padahal Alquran 30 juz ada di sisi kita? Ataukah kita menjawab seruannya sebagaimana al-Najāsyī yg telah terbuka pintu hatinya? “afalaa yatadabbaruunal qur`aan am ‘alaa quluubin aqfaaluhaa”

8- Tidak selamanya “diam itu emas”. Ada saat dimana kebenaran harus dikatakan dengan jelas, bukan malah berdiam diri saja. Keberanian seorang Ja’far bin Abī Thālib untuk melawan isu jahat dengan mengatakan yang benar, telah berhasil menjadi kunci penyelesaian masalah. Hari ini, jika orang-orang yang bernalar sehat berdiam diri saja, mungkin berbagai hoax yang beredar di dunia maya lama kelamaan akan diterima sebagai sebuah kebenaran. Bahkan bisa jadi orang yang menyerukan kewarasan nalar dicap sebagai orang gila, sesat, bahkan mungkin kafir. Oleh sebab itulah, kerangka maqāsid sharīah tentang Hifzh al-‘Aql hari ini tidak lagi cukup berkutat pada soal khamr, tapi juga harus mulai berbicara tentang radikalisme & hoax yg nyata-nyata lebih memabukkan kids jaman now. Jadi bicaralah, jangan tinggal diam!

9- Saat Raja al-Najāsyī wafat, Rasulullah bersabda “seorang saudara kalian telah wafat di bumi yang bukan bumi kalian”. Rasulullah menyebutnya “saudara” di hadapan para sahabat, lalu memimpin shalat ghaib untuknya. Sudahkah “rasa persaudaraan” kita terusik saat melihat saudara-saudara kita tertindas di belahan bumi yang lain? Bukankah ukhuwwah itu tak mengenal batas teritorial? Sudahkah kita membacakan paling tidak “qunut” untuk saudara-saudara kita? Ataukah mungkin telah menyelipkan mereka dalam doa-doa rutin kita? Ataukah kita masih saja menjadi pendoa yang egois?

Petikan Kajian Sirah Nabawiyyah
Masjid Asy-Syarif, 7 Shafar 1439 H

Muhdhor Aly Abu Dhirghom

(suaraislam)