Bantah Penilaian PKS terhadap Kinerja Jokowi, Begini Kata Netizen

163
Ilustrasi (Google Image)

Sahabat saya mengirim file presentasi PKS yang mengatakan bahwa Jokowi gagal melaksanakan RJPM yang ditetapkan. Sebelum saya menjawab kesimpulan itu, saya ingin luruskan dulu. RJPM adalah rencana Jangka Panjang dan Menengah. Itu recana, Semua orang membuat rencana selalu ideal. Tetapi dalam pelaksanaan rencana tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Target itu bergerak, kondisi dan situasi juga berkembang dari waktu ke waktu. Makanya ilmu menagement dan kepemimpinan itu diperlukan untuk menyikapi variable yang terus berubah. Jadi orang yang berpatokan menilai suatu prestasi hanya berdasarkan target capaian tanpa memperhatikan variable lain , jelas bego. Itu cara berpikir mahasiswa yang sekedar cari IP.

Baiklah saya jelaskan materi presentasi. , sejak tahun 2012 indonesia mengalami defisit primer APBN. Dimana kalau dihitung dari pendapatan dikurangi belanja di luar pembayaran bunga utang terjadi defisit sebesar Rp 45, 5 triliun, dan menjadi Rp 96 triliun di tahun 2013, pada APBN Perubahan 2014 menjadi Rp 111 triliun. Artinya APBN sudah tidak sehat atau sudah tekor. Pemerintah sudah tak mampu membayar cicilan bunga utang dengan pendapatan yang dimiliki, sehingga akhirnya gali lubang tutup lubang, dimana untuk membayar cicilan bunga utang pemerintah sepenuhnya harus menarik utang baru.

Disamping itu ketimpangan yang makin lebar. Rasio gini selama 10 tahun terakhir turun menjadi 0,5. Indeks Gini ini biasanya digunakan untuk mengukur kesenjangan pendapatan dan kekayaan suatu negara. Dengan indeks gini di atas 0,4, ketimpangan di Indonesia tergolong tinggi. Juga tidak ada perluasan industri. Kontribusi industri terhadap PDB menurun. Neraca perdagangan melorot. Pada 2004, neraca perdagangan surplus 25,06 miliar dollar AS, menjadi defisit 4,06 miliar dollar AS pada 2014.

Memang pertumbuhan ekonomi kita tinggi diatas 5-6% di era SBY. Tetapi tidak menciptakan lapangan kerja yang luas. Elastisitas 1 persen growth dalam membuka lapangan kerja turun dari 436.000 menjadi 164.000. Itu karena bisnis rente lebih banyak daripada yang tradeble Efisiensi ekonomi semakin memburuk, ditandai dengan semakin tingginya indeks ICOR, dari 4,17, menjadi 4,5. Nilai tukar petani selama 10 tahun terakhir turun 0,92.” Kata teman saya. Itu karena inefisiensi birokrasi, korupsi, dan keterbatasan infrastruktur, Sementara itu sepanjang pemerintahan era SBY, tax ratio turun 1,4 persen. Padahal 90% lebih penerimaan dari Pajak. Sumber pembiayaan dari hutang semakin sulit dan kalau dipaksa akan mencemaskan fundamental ekonomi kita.

Perhatikan,buruknya warisan SBY, semester pertama Jokowi memimpin memang seperti berjalan diatas gelombang ganas. Betapa tidak. DSR yang sudah diatas rasional. Rupiah melemah ke level Rp 13.311 per dolar AS dari sebelumnya di kisaran Rp 12.025 pada hari pertama pemerintahan Jokowi. Angka ini bahkan terus merosot hingga hampir mencapai Rp 14.800 pada bulan September 2015. Sejalan dengan pergerakan rupiah, perkembangan harga saham juga mengalami tekanan. Pada awal November 2014 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat sebesar Rp 5.085,51 merosot menjadi Rp 4.120,5 di akhir September 2015 akibat derasnya arus modal asing yang keluar dari Bursa Efek Indonesia.

Bayangkan disituasi seperti itulah Jokowi memimpin negara ini. Selama 10 tahun SBY berkuasa kita membakar uang kurang lebih Rp. 3000 triliiun hanya untuk memanipulasi harga melalui subsidi BBM agar rakyat tetap bisa dimanjakan dengan harga kebutuhan pokok rendah. Kekuasaan yang menipu lewat harga. Dan ketika Jokowi, Indonesia engga ada duit berlebih untuk memanjakan dan menipu rakyat lewat subsidi bego” ” Utang tidak mudah lagi didapat karena harga minyak jatuh. “ Kalaulah ekonomi yang diwariskan SBY sangat bagus, Jokowi yang tukang kayu itu, yang bukan elite politik ,tidak akan mungkin jadi presiden. Tetapi karena semua elite takut menghadang masalah, maka si krempeng itu di ceplungkan jadi Presiden” Kata teman aktifis.

Ternyata setelah Jokowi jadi Presiden, justru dia bisa menyelesaikan masalah negara yang di jurang ke bangkrutan. Setidaknya walau belum bisa mensejahterakan rakyat semua, namun proses perbaikan dan pemulihan terus terjadi dan menuaikan hasil. Ini lah hasilnya 3 tahun Jokowi berkuasa. , jika tahun 2014 pangsa pasar industri mencapai 1,74 persen secara global. Kini pangsa pasar meningkat menjadi 1,83 persen. Dan ini berdampak dengan naiknya peringkat daya saing industri kita, bila tahun 2014 peringkat 12 dan sekarang peringkat 9. Artinya kalau tidak ada pasar engga mungkin industri tumbuh. Indonesia merupakan salah satu negara yang kontribusi industri manufakturnya terhadap PDB lebih dari 20 persen. Ini peringkat keempat setelah Korea Selatan dengan sumbangan 29 persen, Tiongkok (27%), dan Jerman (23%). Jadi pasar melihat bahwa kebijakan ekonomi Jokowi yang berorientasi produksi telah berada dijalur yang benar.

Untuk mengetahui kinerja Pemerintah maka lihatlah trend bursa. Karena penilaian bursa itu objectif dibandingkan pengamat atau ekonomi apalagi politisi. Tahun 2017 pencapaian target perusahaan yang listing di pasar modal atau IPO melesat melebihi target yang ditetapkan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 35 perusahaan. Bahkan pihak BEI menyebut jumlah perusahaan yang menggelar penawaran perdana tahun ini tercatat paling banyak selama lebih dari 20 tahun terakhir. Index Bursa tembus 6000 dipenghujung tahun 2017. Prestasi ini tidak pernah terjadi selama negeri ini merdeka. Jadi berhentilah buat opini yang merendahkan prestasi nyata. Kalau tidak bisa berterimakasih, lebih baik diam.!

Sumber : Jalan Sepi, buku yang menulis dibalik kebijakan Jokowi dan kinerjanya.

Diambil dari FB Muhanto Hatta https://www.facebook.com/muhanto.hatta/posts/10213519971806486

(suaraislam)