Bagaimana Cara Merayakan Hari Asyura? Ini Pesan Ulama Mesir

Malam minggu kemarin saya bersama teman-teman bisa silaturahim ke kediaman Dr. KH. Marsudi Syuhud, Ketua PBNU sekaligus Mudir Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, Jakarta. Di kesempatan tersebut, ponpes Darul Uchwah tengah menggelar Majelis Dzikir dan Maulidurrosul SAW yang dihadiri oleh para Ulama dan Habaib, khususnya Maulana Syekh Ala Muhammad Musthofa Naimah Alhasani Assyafii dari Alexandria, Mesir.

Secara geografis, Alexandria adalah sebuah kota di Mesir yang berhadapan langsung dengan birunya laut Mediterania. Dalam rekam sejarah, kota ini juga tergolong masyhur sebagai kota yang dulu dibangun oleh Alexander the Great, penguasa Kekaisaran Makedonia. Alexander the Great membangun kota ini dengan mendatangkan sejumlah arsitek dari Yunani. Maka tak heran jika hingga kini kota Alexandria amat kental dengan cita rasa Romawi.

Bertepatan dengan bulan Muharram, Syekh Ala memberikan mau’izhah tentang “Kayfa Nahtafil bi ‘Asyura”, bagaimana sebaiknya kita merayakan Hari Asyura. Ulama muda, tampan, dan tawadhu’ ini berkisah, ketika Sayyidina Husein bersama para sahabat berjuang, yang mereka hadapi adalah 4000-an pasukan musuh dari Bani Umayyah. Sedangkan pasukan Husein bin Ali hanya sekitar 70-an orang. Menghadapi mereka, Husein pun menangis. Sayyidah Zainab yang ketika itu berada di salah satu kemah lantas bertanya kepada Husein; “Apa yang membuatmu menangis, ya Husein? Apakah kamu takut dengan mati?”. Husein lantas menjawab; “Yaa Zainab, innanii hafiizhu rasuulillaah, sayyidus syajaa’ah, laa akhaafu minal maut. Duhai Zainab, aku adalah penjaga Rasulullah, pemimpin para pemberani. Aku tidak takut mati!”.

Lalu kenapa kamu menangis? Sambung Zainab kembali. Husein pun menjawab dengan sebuah kalimat, yang oleh Syekh Ala disebut “Kalimatun aghlaa minadz dzahab, sebuah kalimat yang lebih mahal dari sekeping emas”. Husein berkata;

“Yaa Zaynab! Innanii abki li annanii ra`aytu qauman atauuu liqatlii, zhulman wa bighairi haqq. Walau qataluunii sayadkhuluunannaar wa anaa arjuu lahum an yadkhuluunal jannah”

(Duhai Zainab! Aku menangis karena aku melihat sekelompok kaum datang berbondong untuk membunuhku dengan lalim. Dan jika mereka membunuhku, maka mereka akan masuk ke dalam kobaran api neraka. Sedangkan aku berharap mereka semua masuk surga)

Menyampaikan kisah ini, Syekh Ala Nampak berkaca-kaca. Beliau berkata, inilah yang di dalam Al-Qur’an disebut “Wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil ‘aalamiin”, tidaklah Aku utus Kamu ke dunia Duhai Muhammad, melaikan untuk menjadi Rahmat bagi semesta alam. Definisi Rahmat di dalam ayat tersebut, menurut Syekh Ala, adalah bersikap empati bahkan kepada orang yang mau menyakiti kita.

Al Habib Syuhud bin Al Idrus yang turut hadir di majelis tersebut juga berkisah, tatkala pedang menghunus dan membelah kepala Husein, Zainab yang dalam khazanah sejarah dijuluki dengan ‘Aqiilat Banii Haasyim, perempuan paling cerdas dari klan Bani Hasyim, seraya berdoa;

“Allaahumma Taqabbal Haadzal Qurbaan, Ya Allah terima lah pengurbanan ini….”

Pengurbanan seorang cucu untuk kakeknya, pengurbanan seorang hamba untuk Agama dan Rabb-nya.

Peristiwa ini lah yang dalam tradisi Sunni diperingati sebagai Hari Asyura. Disambut dengan berpuasa pada hari ke Sembilan (Tasu’a) dan ke Sepuluh (Asyura), mengamalkan ibadah sunnah seperti qiyamullail, tahajjud, bangun sebelum subuh, istighfar, shalat berjamah, silaturahim, bersedekah, mandi bersih, memakai celak mata dan wangi-wangian, mengunjungi ulama, menjenguk orang sakit, mengusap kepala dan menyantuni anak yatim, menggunting kuku, dan tentunya adalah memberikan nafkah yang lebih kepada keluarga baik anak maupun isteri. Dalam tradisi masyarakat Banjar, Hari Asyura juga biasa diperingati dengan bersama-sama memasak Bubur Asyura yang sayuran dan rempah-rempahnya terdiri dari 41 macam varian. Bubur tersebut dibagikan kepada masyarakat dan biasanya dihidangkan untuk menu buka puasa.

Adapun dalam tradisi Syiah, asyura adalah tentang kepedihan. Ayatullah Ali Syari’ati mengatakan; “Kullu yawmin asyuuraa wa kullu ardhin karbala, setiap hari adalah asyura dan setiap tanah adalah karbala”. Oleh karena itu menurut keyakinan orang syiah, kesedihan dan kepedihan pada peristiwa asyura di tanah karbala harus dirawat dan terus diceritakan, demi menjaga semangat juang dan semangat berkurban umat Islam. Bahwasanya dulu, Agama ini pernah diperjuangkan dengan nyawa dan darah oleh para pewaris Rasulullah yang mereka sebut dengan istilah Ahlul Bayt.

Terakhir, Maulana Syaikh Ala Muhammad Musthofa Naimah Alhasani menutup dengan sebuah kalimat;

“Inna mahabbata ahlil bayt hiya ‘aynu manhaji ahlis sunnah, sawaa`an fil azhar asy syariif wa fii nahdhatil ulama”

Sesungguhnya kecintaan kepada Ahlul Bayt/keturunan Rasulullah, adalah inti dari ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Baik Universitas Al Azhar di Mesir maupun Nahdhatul Ulama di Indonesia, dua-duanya punya keyakinan dan cara pandang yang sama.

Ustadz Khairi Fuady

(islami.co/suaraislam)