Astaghfirullah, Anak Kedua Bomber Surabaya Ketahuan Menangis sebelum Ledakkan Gereja

Dita Oepriarto dan keluarga, pengebom tiga gereja di Surabaya, sempat salat Subuh berjemaah di masjid dekat rumahnya. Rumahnya tergolong besar di Wisma Indah Blok K-22 Rungkut, Surabaya.

Khorihan, Ketua RT tempat Dita dan keluarga tinggal, mengungkapkan momen tersebut. “Mereka masih salat Subuh berjemaah sebelum hari pemboman.. Oh iya, Maghrib sebelumnya anak kedua (Firman Halim berusia 16 tahun) habis salat sempat nangis-nangis terus dirangkul, dicium, di’puk-puk’,” kata Khorihan saat ditemui kumparan di kediamannya, Senin (14/5), Belum diketahui mengapa ia menangis saat itu.

Khorihan menjelaskan, Dita memang kerap salat berjemaah dengan anak lelakinya. Sementara istri dan dua anak perempuan Dita menunggu di rumah.

“Kebiasaan Dita sekeluarga datang salat setelah ikamah, setelah salat pulang. Kebiasaan selalu rangkul anak dan cium kening anak habis salat jemaah,” ungkap dia.

Ia menambahkan, Dita dan istrinya dikenal warga sebagai keluarga yang sering berkomunikasi dengan tetangga dan warga kompleks tempat tinggal keluarga Dita.

“Tidak ada yang aneh, perilaku kehidupan sehari-hari sama seperti warga yang lain. Lebih intens berkomunikasi. Dia ibadah salat di musala, Magrib, Isya, Subuh,” ungkap dia.

Keluarga Dita mulai tinggal di kompleks Wisma Indah sejak 25 September 2012. Pada saat awal kedatangannya, kata Khorihan, Dita meminta surat keterangan domisili untuk mengurus SIUP terkait dengan usahanya mendirikan badan usaha CV.

“Kemudian saya sarankan, kalau baru dibeli rumah itu, kalau rumah sendiri, menjadi warga di sini. Tahun 2014 membuat surat pindah dari kecamatan Puputan pindah ke Wonorejo,” tutupnya.

(kumparan/ suaraislam)